POHON MONAS DITEBANG, JAWABAN ENTENG ANIES, CUMA RAMAI DI TWITTER SAJA

Xhardy-Proyek revitalisasi Monas memicu perdebatan karena beberapa faktor, misalnya banyaknya pohon di sekitar yang ditebang, belum mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Sekretaris Negara, dan juga perusahaan pemenang tender yang diragukan. Selain itu, pengerjaan yang dianggap terlambat, hingga penggunaan anggaran yang tak sesuai.

Pemprov DKI dikabarkan Jakarta belum mendapatkan izin dari Kementerian Sekretaris Negara dalam proyek revitalisasi Monas. Hal ini terungkap dalam rapat Komisi D DPRD DKI Jakarta dengan Dinas Cipta Karya Pertanahan dan Tata Ruang DKI. Proyek revitalisasi tersebut diminta ditunda sementara terlebih dahulu.

Hal ini mengacu pada peraturan presiden nomor 25 tahun 1995, di mana revitalisasi kawasan cagar budaya seperti di Monas, memerlukan rekomendasi Kemensetneg.

Yang paling disoroti adalah penebangan pohon di sekitar kawasan tersebut. Lantaran ada lebih dari 190 pohon yang ditebang karena proyek tersebut. Akan tetapi Anies selalu saja bisa menemukan cara untuk melawan balik kritikan yang diarahkan kepadanya. Dia tak mau menanggapi lebih jauh soal adanya penggundulan sisi selatan kawasan Monas.

Alasan Anies ogah berkomentar karena menganggap masalah itu hanya ramai di media sosial, Twitter. “Itu ramai di twitter aja, nanti itu,” kata Anies.

Anies yang enggan menjawab justru meminta agar jurnalis bertanya kepada Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan (Citata) Heru Hermawanto. “Nanti Kepala Dinas Citata saja yang jelasin,” katanya lagi.

Penulis akui Anies ini memang sangat hebat, sangat mudah menjawab pertanyaan dan kritikan yang dialamatkan kepadanya. Seolah dia ini bukan gubernur yang tidak memiliki beban berat. Ibarat dia ini mendaki gunung tapi tidak bawa apa-apa dan naik saja dengan langkah ringan.

Soal ramai di Twitter, ini wajar. Kalau tidak ada media sosial kita tidak akan tahu bagaimana reaksi orang-orang dan publik terhadap proyek revitalisasi ini. Justru karena ribut dan ramai inilah, baru ketahuan kalau proyek ini memiliki sejumlah masalah dan kejanggalan. Tanpa itu semua, kita tidak akan tahu apa yang terjadi.

Contohnya saja terbongkarnya anggaran Lem Aibon yang fantastis itu. Tanpa media sosial, apakah itu ketahuan? Percayalah, anggaran tersebut bakal lolos dan mulus dijadikan pesta pora oleh oknum yang terlibat.

Bahkan media sosial sekarang jauh lebih cepat dalam menyampaikan sebuah isu atau berita. Bagi pembaca yang sering baca media mainstream, pasti akan melihat beberapa berita diambil dari akun media sosial mengenai isu yang viral. Justru media sosial adalah sarana untuk membongkar kebobrokan serta ketidakbecusan seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

Balik lagi ke Anies.

Pemimpin yang mudah bikin alasan seenteng-entengnya, adalah pemimpin yang jarang bisa bekerja. Bikin alasan adalah keahliannya, menata kata adalah jagonya, melarikan diri dari tanggung jawab adalah pengalamannya. Dua tahun sudah banyak yang terlihat, jelas dan nyata. Ada isu lain, maka wartawan akan disuruh bertanya ke pihak lain, lalu dia lepas tangan.

Jadi, bayangkan deh, kalau Anies dipojokkan dengan berbagai macam isu.

Kenapa normalisasi tidak dilanjutkan sehingga banjir parah terjadi? Anies mungkin akan jawab, biasa saja tuh, cuma ramai di Twitter aja.

Kenapa drainase vertikal masih belum menampakkan hasilnya? Anies mungkin akan bilang, sabar, sabar, nanti akan dievaluasi kenapa lambat dikerjakan, lalu akan dirapatkan, didiskusikan, dan kemudian akan dipelajari lalu akan diambil keputusan.

Kenapa banjir kali ini sangat parah? Anies mungkin akan jawab, ah ini biasa saja. Yang ribut-ribut itu cuma di Twitter aja, padahal banjir tidak separah yang diributkan di Twitter. Volume air banyak dan tidak tertib masuk ke saluran air seperti orang Jepang, makanya air jadi semrawut dan menimbulkan kemacetan di saluran air, hehehe.

Masa pemimpin pintar bikin alasan? Pemimpin dipilih agar bekerja mengatasi masalah yang ada, bukan bikin alasan receh kayak ramai di Twitter. Ini mah tidak perlu jadi gubernur, anak SD pun bisa jawab ini dengan mudah.

Ya sudahlah, mau gimana lagi, gubernurnya memang sudah begitu modelnya. Sepertinya memang sulit mengubah etos kerja Anies. Bahkan mungkin impossible. Sudah parah akut soalnya.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *