DRAMA KPK-TEMPO TERMEHEK-MEHEK, TAPI GAGAL VIRAL, INI PENYEBABNYA

Alifurrahman-Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, kalau Tempo punya kerjasama dengan KPK. Itulah sebabnya Tempo selalu mendapat bocoran informasi. Tempo ini udah kayak PR nya KPK. Entah apakah ada bayarannya atau seikhlasnya.

Terkait penangkapan OTT terhadap komisioner KPU, Tempo begitu konsisten mengejar Hasto. Di majalah Tempo, dalam cerita investigasinya, Hasto disebut bersembunyi di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Kemudian dengan sangat menarik dan penuh intrik, disebut juga bahwa anggota KPK dihalang-halangi, digeledah oleh Polisi.

Cerita drama tersebut mencuat seperti biasanya. Terkesan ingin membenturkan lagi antara Polisi dan KPK. Hasto dicitrakan sedang dilindungi oleh Polisi. Sementara KPK dicegat dalam tugas, sehingga gagal menangkap Hasto.

Tapi entah kenapa kombinasi antara Tempo dan KPK kali ini kurang mendapat perhatian. Padahal ceritanya sudah cukup termehek-mehek, yang nyeburin hape ke air lah, yang tim KPK niat mau shalat di PTIK lah. Kombinasi yang cukup keren, sudah seperti film-film barat. Pun sudah memenuhi unsur emosi SARA. Tapi apa daya, publik terlihat acuh dan malas menanggapi.

Lalu pertanyaanya, kenapa bisa begitu? kenapa serangkaian cerita bombastis dan termehek-mehek, tak mampu menjaring emosi masyarakat? Apakah karena KPK sudah terlanjur dipandang sebelah mata? yang banyak kadrunnya dan sangat politis?

Mungkin sekilas, entah kebetulan atau tidak, KPK memang terlihat sangat politis. Memaksakan OTT, padahal lebih pantas disebut OTW, di saat PDI Perjuangan sedang mempersiapkan HUT yang ke 46. Tempo dan dayang-dayangnya juga terlihat sangat memaksakan diri untuk bisa menjangkau Sekjen PDIP.

Selain itu, sebenarnya ada satu narasi bantahan yang sangat luar biasa. Yang membuat semua drama termehek-mehek KPK di Tempo jadi hambar dan tak menarik lagi. Yakni pernyataan Djarot yang menyebut Hasto sedang diare atau mencret, saat ditanya kenapa tidak hadir di geladi resik Rakernas dan HUT.

Sontak tim hastag dan sorak sorai di twitter seperti mendapat umpan lambung. Mereka serentak menaikkan hastag #HastoMencret. Tertawa terbahak-bahak, sudah merasa menang dengan aneka ledekan dan caciannya. Padahal sejatinya mereka dibuat mabuk dengan satu pernyataan Djarot. Sehingga lupa untuk mengolah cerita termehek-mehek yang sudah disusun begitu rapi oleh Tempo.

Selain itu, keesokan harinya, Hasto datang dalam pembukaan HUT dan pameran kebudayaan. Hasto terlihat begitu tenang menanggapi segala cerita bombastis yang beredar. Beliau bilang begitu sibuk mempersiapkan acara Rakernas dan HUT. Selanjutnya mendukung upaya penindakan kasus korupsi.

Tak ada amarah. Tak ada bantahan yang berlebihan. Semua disampaikan begitu datar dan biasa saja. Tapi justru di situlah kekuatan sebuah bantahan. Hasto yang diberitakan dilindungi oleh Polisi, sembunyi di PTIK dan sebagainya, sehingga tim KPK gagal menangkap, nyatanya hadir di ruang publik dengan santai dan tanpa pengawalan.

Dengan begitu, otomatis publik menilai, bahwa cerita gagal menangkap Hasto dan sebagainya itu hanya omong kosong. Sinetron murahan ala KPK.

Maka wajar kalau kemudian, cerita selanjutnya, terkait gagalnya KPK menggeledah kantor DPP PDI Perjuangan, juga jadi kurang mendapat perhatian publik. Ya gimana lagi? Publik sudah tidak percaya dengan cerita termehek-mehek Tempo sejak awal, yang katanya gagal menangkap Hasto dan dihalang-halangi. Ada logika sederhana yang tidak nyambung. Sehingga cerita Tempo selanjutnya juga otomatis diabaikan.

Entah apakah sengaja meledek KPK, atau memang pengakuan jujur Djarot soal Hasto sakit diare, tapi pada intinya saya melihat satu pernyataan tersebut sukses menjadi umpan lambung yang memabukkan. Yang membuat lawan lupa dengan tujuan awal. Hahaha

Apalagi belakangan ini Abraham Samad ikut berkomentar. Yang mengatakan bahwa OTT tanpa penggeledahan tidak sesuai SOP dan memungkinkan untuk penghilangan barang bukti. Semakin terang dan jelaslah ingatan publik terkait Samad.

Seseorang yang dulu mengemis pada Hasto, meminta agar bisa dijadikan Cawapres Jokowi. Dan setelah gagal, lalu sakit hati dan menggunakan KPK untuk menjatuhkan status tersangka pada Budi Gunawan.

Mungkin Abraham Samad berpikir dirinya masih menarik perhatian publik. Padahal nyatanya kita masih ingat betul dengan tingkah polahnya. Sehingga pernyataannya justru membuat publik semakin jengah, dan berkesimpulan bahwa dendam Samad pada Hasto dan PDIP masih belum selesai. Begitulah kura-kura.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *