TOL TRANS SUMATRA DAN SEJUTA CINTA PART 3

Mpok Desy-Artikel ini penutup dari tulisan perjalanan liburan Natal penulis kemarin mencoba Tol Trans Sumatra. Heheh…ada pembaca yang mengatakan penulis kok curhat sih. Ehhm…sebenarnya nggak curhat, tapi bisa juga curhat. Kalaupun curhat tapi positip banget loh. Hehe… Berbagi pengalaman dan mengajak pembaca membuka mata lari kencang Presiden Jokowi untuk negeri ini. Makanya penulis namakan Tol Trans Sumatra dan Sejuta Cinta. Soalnya, memang semua yang dilakukan Jokowi ini atas nama cinta! Nggak percaya, baca deh lengkapnya dan pahami. Heheh…

Oiya, untuk yang mau ngikutin dari awal ceritanya, ini link dari artikel sebelumnya Link

Buat penulis menyusuri Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) kemarin berarti banget. Berkat JTTS nggak nyangka setelah sekian tahun bisa kembali ke Jambi, kota yang punya arti tersendiri untuk penulis. Takjub, membayangkan jika Pakhde Jokowi sempat menghubungkan dari ujung Barat hingga ujung Timur dan bahkan pelosok-pelosok negeri ini di periode terakhir kepemimpinannya. Semoga, Ya dan Amien.

Melenceng dikit, ambil contoh lainnya, penulis dan keluarga sudah mencoba Jalan Tol Trans Jawa (JTTJ) lumayan sering. Jangan tanya betapa mudah dan sering penulis ke Jogya gara-gara JTTJ. Yup, sekarang semua jadi berasa dekat banget! Bahkan bablas sampai Bali saja sudah 3 kali, dan cuma dalam hitungan 1 hari! Maksudnya pergi hari Jumat malam, dan Sabtu malamnya sudah di Bali! Lalu kemarin di akhir penghujung tahun 2019 gokil kita dihadiahi JTTS. Wuih…

Heheh…mungkin hari gini masih ada yang komentar, “Ah…apa hebatnya dengan tol trans. Biasa aja keles!” Cius, kasihan banget jika masih ada yang nggak tahu mengucap syukur. Menurut kacamata penulis kehadiran JTTS dan JTTJ mempunyai nilai banyak, yaitu:

Tanggugjawab Di dalam salah satu artikel penulis mengatakan jalan lintas Timur Palembang-Jambi sepanjang kebun kelapa sawit, dan jalan di dalam kota Jambi itu kebangetan hancurnya. Padahal ada pemerintah daerah. Capek hati kalau kita mengatakan minim dan nyaris tidak adanya tanggungjawab dari pejabat daerah ataupun wakil rakyat, padahal jelas APBD itu ada! Nggak jelas larinya kemana uang rakyat. Sementara penulis menyaksikan sendiri kerasnya kehidupan para pengemudi truk dan mobil pengakut logistik bertaruh nyawa menyusuri jalan kebun sawit Palembang-Jambi yang amat sangat buruk, gelap dan penuh lobang. Ironis banget dengan nyamannya para wakil rakyat. Intinya, seberapa pun banyak anggaran yang dimiliki tetapi jika peruntukkannya entah menguap yah sama juga bohong! Pun, termasuk perawatannya! Membangun tetapi tidak merawat itu sih pemborosan!

Percaya Diri dan Inovasi Mengagumi jajaran pohon sawit di sepanjang lintas Timur Palembang-Jambi dan Jambi-Pekanbaru. Teringat optimisme Jokowi menggenjot B50 (solar dengan campur minyak sawit 50 persen alias biodiesel 50) untuk segera maju menggeser B30. Membangun mimpi Indonesia mampu berdiri dengan bangga berjajar diantara bangsa besar lainnya. Diskriminasi Uni Eropa terhadap sawit Indonesia bukan berarti kita kehilangan nyali. Justru ini cambuk dan memutar balik buat Uni Eropa minder. Fakta Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, ngapain khawatir. Sekalian saja stop ekspor minyak kelapa sawit dan kita olah sendiri jadi biodiesel. Percaya, lambat laun Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus mengantarkan kelapa sawit berjaya sebagai komoditas primadona Indonesia di pasar global! Ini juga sekalian mengangkat kehidupan para petani sawit kita. Mantul banget khan!

Wisata dan Budaya Kehadiran JTTS dan JTTJ, juga tol trans antar daerah nantinya diharapkan mampu menggerakkan sumber wisata daerah setempat. Pengalaman di dalam perjalanan penulis hanya Lampung yang serius menggarap obyek wisatanya. Sangat disayangkan sekali tidak demikian dengan Palembang, Jambi dan Pekanbaru yang belum sepenuh hati. Padahal negeri ini terlalu kaya, jadi sangat disayangkan obyek wisata yang ada lebih fokus kepada yang buatan, dan bukan yang alami. Demikian juga dengan (maaf) penduduk setempat yang kurang komunikasi kepada pendatang. Terkesan cuek, asal jawab, atau sekalian menjawab tidak tahu, begitu pengalaman penulis ketika bertanya. Hehe…Beda banget dengan keramahan masyarakat Bali dan Jogya misalnya. Maklumin kok, mungkin karena bukan daerah tujuan wisata, meski pasti ada potensinya tetapi belum digali secara maksimal.

Ekonomi Kehadiran tol trans pastinya sangat menghemat bagi keluarga Indonesia. Jika dulu untuk ke Pekanbaru misalnya harus dengan pesawat, maka kini bahkan ke Medan saja sekalipun bisa sebagian lewat Tol Trans Sumatra! Ini juga menghemat biaya dan waktu pada logistik misalnya. Jika dulu harus lewat jalan biasa lebih lama, ataupun lewat laut. Maka kehadiran tol trans membuat semua dipersingkat sehingga biayapun dapat ditekan, dan perputaran ekonomi menjadi lebih baik.

Pendidikan Ada banyak yang bisa dipelajari anak Indonesia dengan kehadiran tol trans. Memberikan kesempatan untuk singgah antar kota satu dan kota lainnya, atau bahkan kesempatan menyusuri kebun kelapa sawit dan karet misalnya. Tidak hanya membuka mata anak Indonesia betapa kayanya Indonesia, tetapi mengajarkan juga menghargai kehidupan. Menyaksikan sendiri toleransi antar umat beragama, terselip di jajaran kebun kelapa sawit dan karet rumah ibadah berdiri berdampingan dengan harmonis. Melihat perjuangan pekerja kelapa sawit, keragaman kehidupan di perkebunan dalam arti agama dan etnis, juga kerasnya kehidupan pengemudi truk mencari nafkah untuk keluarganya melewati jalan-jalan rusak. Termasuk juga melihat bahwa malam sekalipun negeri ini tidak tidur. Lalu lalang mobil-mobil besar dengan berbagai muatan logistik justru makin ramai, artinya apa yang kita nikmati itu juga karena kerja keras orang lain. Mengajari mereka untuk mengucap syukur untuk apa yang dimiliki.

Keluarga Kehadiran tol trans tidak hanya menghemat, tetapi juga mengakrabkan dan menghadirkan cinta. Perjalanan membuat kita saling bantu dan dukung. Mengisi waktu di perjalanan dengan berbagi cerita. Mungkin tanpa disengaja kesibukan selama ini membuat ada yang terhilang. Rutinitas telah menjauhkan hubungan antara kakak dan adek, atau anak dan orangtua. Tetapi kebersamaan di perjalanan menjadi mendekatkan. Sebut saja di dalam artikel penulis sebelumnya mengatakan bekal nasi, teri sambal dan dadar telur di tempat istirahat (TI) nikmatnya pun jadi selangit loh! Heheh…hal sederhana yang mahal karena tidak bisa dinilai.

Tol Trans Sumatra, Tol Trans Jawa dan tol trans berikutnya nanti jangan dilihat hanya sebagai fisik infrastruktur yang dibangun di era pemerintahan Jokowi. Tetapi, harus melihatnya dalam gambaran yang lebih luas lagi! Buka mata, dan lihat disana ada mimpi, dan disana ada cinta! Tidak bisa kita mengharapkan satu Jokowi membangun, sementara yang lainnya menghancurkan. Miris banget ketika Jokowi berjibaku membangun, sementara masih ada wakil rakyat tega memakan uang rakyat. Apakah hanya Jokowi dan segelintir orang saja yang mencintai Indonesia, sementara sisanya parasit yang menggerogoti?

Indonesia ini negara besar, kita tahu itu. Ada banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Terlalu kurang dan tidak adil jika semua menjadi tanggungjawab Jokowi! Petik satu contoh sederhana saja bahkan tol trans saja mampu membangun kedekatan dan menghadirkan cinta didalam keluarga Indonesia! Nggak ngerti apakah ini termasuk yang diimpikan oleh Jokowi dulu, tetapi inilah dampak positip yang ada. Puji Tuhan pastinya!

Menyimpulkan tol trans memang tidak bisa dimakan karena memang tidak untuk dimakan. Buah dari kehadiran tol trans itulah yang kita makan, kita nikmati bersama! Nggak bisa kita pungkiri kehadiran tol trans jelas menghubungkan segalanya, baik itu ekonomi ataupun hubungan antara kita semua. Nggak hanya keluarga inti, tetapi juga sebagai satu keluarga Indonesia yang tersebar dari Barat hingga Timur dalam bingkai kebhinekaan.

Ini cinta yang abstrak dalam arti luas, hubungan sebagai orang Indonesia, mengenal satu dengan lainya, saling menghargai, dan saling dukung mengolah semua potensi yang ada untuk satu negeri yang kita cintai Indonesia.

Mengingatkan saja, malu dan apa kata dunia kalau hari gini saja kita masih belajar mencintai Indonesia! Mau sampai kapan hanya bisa lahir dan hidup di negeri ini tapi hanya numpang bernafas doang?

Terimakasih untuk pembaca yang mengikuti dari awal artikel liburan penulis. Mudah-mudahan ada berkat atau rejeki,yuk jangan lupa atur tanggal untuk liburan berikutnya cobain Jalan Tol Trans Sumatra ataupun Tol Trans Jawa yah. Jangan ngaku Indonesia, jika belum melihat eloknya negeri kita ini. Mantap!

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *