TOL TRANS SUMATRA DAN SEJUTA CINTA PART 2

Mpok Desy-Lanjut yah. Lanjut, lanjut ngapain penulis? Heheh…begini di artikel sebelumnya penulis cerita berlibur nyobain Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Kejutan manis Jokowi di penghujung akhir tahun 2019. Nah penulis tuh pindah-pindah dari satu kota ke kota lain sampai akhirnya mentok di Pekanbaru deh. Supaya klop ceritanya ini link dari artikel sebelumnya Link https://seword.com/sosbud/tol-trans-sumatra-dan-sejuta-cinta-part-1-IiNnsGHo7R

Pekanbaru Sip, sampailah penulis di Pekanbaru tanggal 27 Desember sekitar pukul 21.58 WIB, dan langsung mencoba kuliner setempat teh telor dan sate padang. Menariknya disini sate padang dan teh telur seperti sejoli. Keduanya selalu berdampingan ada dimana-mana. Setelah menikmati kuliner khas Pekanbaru penulis lalu keliling kota sekalian mencari penginapan.

Penulis kagum karena budaya Melayu masih kental sekali disini, terlihat sentuhannya pada keindahan kantor-kantor pemerintahan di kota ini. Juga nama-nama jalan yang dilengkapi tulisan Melayu dibawahnya. Mengingatkan penulis pada Kota Jogya dengan tulisan Jawa di setiap nama jalan. Tetapi, ada satu bangunan disini yang memiliki disain futuristik, yaitu Balai Pustaka Soeman Hasibuan (HS) yang dijuluki perpustakaan termegah di Indonesia. Sayangnya penulis tidak sempat mengambil foto langsung. Tetapi ini gambar yang penulis ambil dari goggle sangking penulis suka dengan disain futuristiknya.

Sayangnya menurut penulis tidak banyak obyek wisata yang alami menurut penurut penulis. Kebanyakan hanyalah obyek buatan. Entah karena informasi yang kurang, atau memang belum diolah dengan baik. Sehingga yang benar-benar penulis kunjungi adalah Masjid Agung An Nur yang bergaya keren seperti Taj Mahal di India itu loh. Tambah menarik sekaligus haru karena masjid indah ini berhadapan dengan Gereja HKBP Hang Tuah, dan gerejanya pun berdiri megah dengan sentuhan Melayu.

Nggak banyak yang penulis lakukan di kota ini selain keliling menganggumi kebersihan, kerapihan dan adat budaya yang kental. Termasuk juga mencoba kuliner ikan Kampar khas Pekanbaru dan kedai kopi jadul di sekitar Jalan Hang Tuah. Yup hanya 2 malam di kota ini dan pada 29 Desember penulis lanjut balik ke Jambi lewat jalan darat pastinya.

Jambi Kota Jambi memang sudah jauh berubah ketimbang waktu penulis pernah tinggal di kota ini. Puji Tuhan diijinkan kembali ke kota ini, mengulang semua kenangan masa kecil. Maklum ketika itu belum sempat pamit karena orangtua dipindah tugas ke Balikpapan. Uupps…napa jadi curhat penulis. Heheh…

Yup, Pembangunan Jambi memang kelihatan pesat sekali. Mungkin ada yang terhilang suasana Pasar Angso Duo di pinggir Sungai Batanghari yang kini berdiri sebuah Mall. Maaf, tetapi jadi kelihatannya semerawut sekali, dan membatasi jarak pandang melihat keindahan Sungai Batanghari. Penulis juga kehilangan pemandangan khas tumpukan nenas yang dulu biasa penulis lihat ketika lewat menuju sekolah. Selebihnya suasana Jambi masih sama, termasuk ramainya suara burung walet di pagi hari dan pemandangan ramainya walet bertengger di kabel listrik ketika malam.

Jambi memang pesat, tetapi penataannya menurut penulis tidak sebaik Pekanbaru. Kebanting melihat kondisi pertokoan seberang Pasar Angso Duo ketika hujan, terlihat kumuh dengan genangan airnya. Beda jauh dengan jalan lintas Timur Jambi yang bahkan jauh lebih baik.

Penasaran kulinernya apa nih di Jambi? Pastinya Pempek yang banyak ditemui di daerah Talang Banjar, juga beberapa variasi mie. Uniknya mie disini menurut penulis rasanya agak manis sih, beda dengan Jakarta yang gurih. Oiya, penulis nggak lupa memburu lempok durian jadul Maulagi, makanan sejenis dodol yang memang kerap jadi oleh-oleh. Lanjut memburu kopi jadul AA (maaf sebut merek). Heheh..

Hanya semalam di Jambi dan lanjut ke Kota Palembang pada 30 Desember pagi. Meninggalkan kota masa kecil penulis dengan kenangan yang kini terbungkus rapi.

Palembang

Yup, Palembang menjadi pilihan penulis dan keluarga untuk menutup tahun. Lupa buruknya akses menuju kota ini, terkagum dengan Jembatan Ampera yang menjadi identitas kota ini.

Tetapi, ada yang berbeda kali ini karena LRT terlihat membentang ditengah kota menuju Stadion Jakabaring. Yup, tahu dong pada Asian Games 2018 Palembang juga menjadi kota penyelenggara, khususnya Sungai Musi untuk olahraga dayung. Tetapi sayangnya semua fasilitas itu banyak yang tidak terawat kini, contohnya Kaka, salah satu maskot Asian Games yang berada di tepi Sungai Musi sudah rusak, demikian juga fasilitas kran air minum bersih di pinggir Sungai Musi terlihat tidak terawat.

Nggak banyak obyek wisata yang penulis kunjungi, hanya Benteng Kuto Besak di pinggir Sungai Musi yang berlatar indahnya Jembatan Ampera, dan Gereja Santo Mikhael yang konon merupakan gereja tertua. Oiya, ada yang menarik, melihat rupanya sampai sekarang pun kapal pengangkut batubara lewat di bawah Jembatan Ampera loh! Gokil khan, kaya betul negeri ini.

Menutup tahun 2019 di Kota Palembang sambil memandangi Jembatan Ampera dari dalam kamar tempat penulis bermalam. Haru, seru dan bersyukur menutup tahun bersama suami dan kedua buah hati dengan berdoa mengucap syukur atas kebaikan Tuhan, dan menitipkan orang-orang terkasih juga negeri ini dalam penyertaanNya di tahun 2020.

Serunya menikmati pedasnya sambal pecel lele yang dibeli dekat hotel dan pempek sebagai hidangan tahun baru kami. Sebagai penutup ada lempok Maulagi asli Jambi ditemani teh panas menambah serunya tahun baru kami sekeluarga kali ini. Bahkan penulis masih sempat loh menuliskan artikel tahun baru malam itu. Ini linknya biar yakin, hehe…… Link https://seword.com/umum/selamat-tahun-baru-indonesiaku-QpIMtxqrBa

Lampung Tanggal 1 Januari penulis tinggalkan Palembang menuju Lampung. Maksud hati ingin melihat indahnya pantai-pantai di Lampung. Apa daya kami terjebak macet berjam-jam saat menuju lokasi. Yup, soal pantai memang Lampung jagonya. Ada banyak pantai dan pulau yang eksotis di kota ini. Tetapi, berhubung terjebak dan bahkan seperti diarahkan untuk kembali, maka penulis bersama keluarga pun kembali ke kota. Memutuskan keesokan harinya menikmati kuliner saja deh. Heheh…

Secara umum Lampung berbeda dengan Palembang, Jambi dan Pekanbaru. Lampung memiliki lebih banyak obyek wisata alam. Mobil plat Jakarta dan Palembang terlihat penuh di Lampung. Mantul! Pasti efek jalan tol Pakde yang buat rakyatnya bisa wara-wiri antar provinsi dengan mudahnya.

Memutuskan kembali ke Jakarta pada tanggal 3 Januari, dan kali ini ada pengalaman berharga penulis bagikan.

Begini, ketika penulis ingin menyeberang ke Jakarta, dan kali ini ingin mencoba kelas eksekutif, eorang bapak menghampiri menawarkan tiket. Katanya, daripada menunggu 2 jam penyeberangan mending membeli lewat calo. Harga tiket calo sama seperti normalnya, Rp 650 ribu, dengan pembagian Rp 550 ribu untuk orang dalam, dan Rp 100 ribu untuk calonya. Entah jujur atau bohong tetapi pengakuannya sih ini biasa, bagi-bagi rejeki antara orang dalam dan calo. Waduh…

Penasaran penulis beli di calo nggak yah? Heheh… pastinya tidak dong. Penulis Seword mau dikadalin mana bisa! Hehe…siapa yang jamin kalau itu bukan tipu-tipu khan? Lagian hari gini masih percaya calo, mau sampai kapan kita biarkan negeri ini dipenuhi korupsi. Praktek calo itu juga khan bagian dari korupsi, meskipun kecil-kecilan. Jangan mau jadi bagian menjerumuskan bangsa ini dong.

Singkat cerita, penulis kembali memilih kelas bisnis yang langsung dapat. Terlanjur bete dengan calo yang bertebaran di pintu masuk eksekutif. Miris, ternyata susah banget membentuk akhlak rakyat kita euy.

Di tengah lautan penulis melihat perlahan kapal fery meninggalkan pulau Sumatra dengan banyak cerita. Itu baru sepenggal cerita dari beberapa kota, dan itu pun masih bersambung. Bayangkan jika kita keliling Indonesia berapa banyak pengalaman dan kaget-kagetnya kita melihat negeri ini.

Tol Trans baik Jawa ataupun Sumatra bukan hanya membuat kita bisa jalan kesana kemari tetapi lebih dari itu! Mau tahu aja, atau mau tahu pakai banget? Tunggu dong artikel berikutnya yah.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *