TOL TRANS SUMATRA DAN SEJUTA CINTA PART 1

Mpok Desy-Artikel ini oleh-oleh dari jelong-jelong alias jalan-jalannya penulis liburan Natal kemarin. Heheh…nepati janji penulis berbagi pengalaman mencoba Tol Trans Sumatra hadiah tutup tahun 2019 Jokowi untuk Indonesia.

Tetapi maaf yah, penulis nggak pasti akan terbagi menjadi berapa bagian artikel ini nantinya. Kita lihat saja seberapa bawelnya penulis curhat. Hehehhe…mungkin ada pembaca Seword yang tahu, bahkan didalam perjalanan saja penulis sempat menulis artikel loh untuk Indonesia, dan pastinya sahabat Seword.

Sumpah gokilnya Presiden Jokowi membangun Indonesia! Nggak hanya di Jawa, tetapi juga seluruh pelosok Indonesia. Menyebutnya ini sebagai pembangunan Indonesia-sentris, artinya pembangunan yang merata dengan tujuan menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru nantinya.

Decak kagum, bahwa Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) adalah infrastruktur konektivitas yang terbentang dan menghubungkan ujung Selatan Lampung hingga ujung Utara Banda Aceh, dengan panjang 2.818 kilometer. Bahkan ternyata JTTS digagas sejak zaman Soesilo Bambang Hudoyono menjadi presiden. Puji Tuhan, di era Presiden Jokowi berhasil dieksekusi.

Jakarta-Lampung Sip, lanjut penulis bercerita yah. Tanggal 25 Desember meninggalkan Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Setelah Ibadah Natal, ziarah dan berkumpul dengan keluarga almarhum Papa. Di pelabuhan, lancar nggak ada masalah. Cukup tunjukkan KTP dan membayar tiket penyeberangan kelas bisnis Rp. 374 ribu menggunakan E-Toll. Tepat pukul 18.51 malam kapal pun berangkat, dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam 15 menit. Jadi sekitar pukul 21.06 malam kapal sudah aman merapat di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Cck…ekonomis romantis banget khan ketimbang naik pesawat nggak bisa menikmati ombak dan indahnya langit ditengah lautan. Catatan nih, semisalnya mau kapal yang lebih bagusan, eksekutif juga bisa, tiketnya Rp 650 ribu. Hanya saja adanya setiap 2 jam sekali.

Semangat tinggi setelah merapat, penulis bersama dua anak dan tentunya belahan jiwa alias suami langsung bablas masuk Tol Bakauheni- Terbanggi Besar dengan membayar Rp 112,500 (maaf ini kalau tidak salah yah). Nah berhubung semua masih serba darurat, jadi saran penulis pastikan dana E-Toll cukup, kondisi kendaraan prima, siapkan uang kecil untuk di toilet dan jangan lupa membawa bekal karena Tempat Istirahat (TI) di sepanjang JTTS jumlahnya terbatas, dan masih sangat minim fasilitas. Penulis saja bawa nasi, teri sambal dan telur dadar. Jangan ditanya nikmatnya menu sederhana kalau dimakan dengan keluarga tercinta jadi rasa selangit loh! Hehe…

Lari dengan kecepatan 120 km/ jam rasanya bebas merdeka sekali karena kondisi jalan yang mulus. Meski memang kebanyakan jalan masih beton, hanya beberapa ruas yang sudah diaspal. Menurut suami yang kebetulan orang sipil, kondisi ini rawan pecah ban jika lari kelewat kencang dan ban tidak mendukung. Maklumin kenapa belum semua diaspal karena pasti Pakde Jokowi mengejar waktu supaya rakyat Indonesia yang mau ke Sumatra berkesempatan coba JTTS karena lebih hemat dan lebih seru. Benaran presiden mantul euy Pakde Jokowi!

Satu lagi yang harus diingat ketika hari semakin larut maka kondisi jalan masih kurang penerangannya dan juga sangatlah sepi. Hanya satu dua mobil yang lewat, itu pun sangat jarang. Itu sebabnya kembali penulis ingatkan kondisi kendaraan harus prima. Amit-amit pecah ban siapa yang bantu. Bahkan ngeri nanti menginspirasi kejahatan.

Nah, TI pertama yang bakal kita ketemui itu di km 32. Seperti penulis katakan, jangan berharap terlalu tinggi karena semua masih serba darurat. Buka bekal dari rumah dan nikmati teri sambal beserta teman-temannya didalam mobil. Mantul euy! Oiya, penjual makanan sih ada, tetapi masih menggunakan tenda, demikian juga toilet, dan bahkan POM Bensin semua darurat sifatnya. Total TI di Tol Bakauheni sementara ini ada 5, yaitu di km 32, km 87, km 116, km 207 dan km 236 sebagai TI terakhir sebelum Tol Kayu Agung. Semua TI kondisinya sama-sama minim, tetapi salut di perjalanan penulis kemarin di setiap TI terdapat cukup banyak aparat yang berjaga dan sangat bersahabat. Mungkin karena suasana Natal dan Tahun Baru sekaligus libur anak sekolah.

Hari semakin larut, dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari tanggal 26 Desember ketika penulis tiba di km 206 TI terakhir. Memutuskan untuk bermalam di TI ini mengingat jika ingin lanjut lewat tol harus menunggu besok pagi saat Tol Kayu Agung dibuka sekitar pukul 06.00 pagi. Sedangkan jika lewat jalan biasa amat sangat tidak dianjurkan karena rawannya kejahatan, terlebih di daerah Mesuji, Lampung. Begitu saran dari beberapa pengemudi yang kemudian akrab menjadi teman perjalanan. Bahkan dua diantara kendaraan di TI yang penulis temui kena ulah iseng entah siapa yang melempar telur dan mengotori kaca sehingga berkerak dan mengganggu jarak pandang. Katanya sih itu biasa terjadi, dan bagian dari strategi kejahatan.

Lampung-Palembang Istirahat dari pukul 01.20 dini hari dan pukul 04.00 penulis lanjut mengejar pintu Tol Kayu Agung tujuan Palembang. Seingat penulis sih di tol ini membayar Rp 112,500, dan puas banget karena kondisi jalan yang mulus, lancar tanpa hambatan. Bahkan di beberapa persimpangan ada petugas yang membantu mengarahkan. Memakan waktu hampir 3 jam, sekitar pukul 06.52 penulis memasuki kota Palembang. Heheh…nggak pakai nunggu, penulis langsung sarapan Pempek mengobati rindu setelah belasan tahun baru kali ini kesampaian melihat kota ini.

Palembang-Jambi

Tetapi, penulis nggak lama di Palembang karena sekitar pukul 10.00 pagi langsung berangkat menuju Jambi. Kota kecil tempat penulis sempat dibesarkan, kebetulan almarhum papa pernah bertugas di kota ini.

Wuihh….jangan tanya ngerinya jalan Palembang-Jambi amat sangat parah. Perjalanan menyusuri kebun kelapa sawit menjadi sangat menyiksa, dan kecepatan mobil hanya bisa 80 km/ jam. Bukan hanya jalan yang rusak parah, tetapi juga saling salip dengan mobil dan truk besar dan gandeng pengangkut logistik. Serem selama perjalanan 3 kali penulis melihat kecelakaan, entah karena truk terbalik akibat jalan yang rusak, bahkan ada yang ban belakangnya lepas!

Penasaran bagaimana dengan tempat makan dan POM bensin apakah mudah? Jawabannya, nggak terlalu! Lebih baik isi bensin yang cukup, termasuk juga penumpangnya harus kenyang. Mengingat sepanjang jalan nantinya hanyalah kebun sawit dan karet. Singkat cerita, Puji Tuhan penulis memasuki Kota Jambi sekitar pukul 19.00 malam, artinya perkiraan jarak tempuh Palembang ke Jambi itu 9 jam, dengan catatan karena kondisi jalan amat sangat buruk! Numpang istirahat semalam, dan lanjut keesokan harinya tanggal 27 Desember menuju Pekanbaru. Heheh…kalap yah penulis.

Jambi-Pekanbaru Tanggal 27 Desember sekitar pukul 09.30 pagi penulis lanjut ke Pekanbaru. Kagum dengan kondisi jalan lintas Timur Jambi terbilang mulus dan tertata menyusuri kebun sawit dan karet. Disini bolehlah lari 80-100 km/ jam tergantung kondisi jalan. Bertambah kagum dan haru karena sering banget penulis menemui rumah ibadah, entah gereja ataupun masjid dengan jarak cukup dekat, bahkan ada yang berdampingan. Mengenai POM bensin dan rumah makan memang jarang. Palingan lapo, kedai makan ala Sumatra Utara yang cukup banyak penulis temui. Sepertinya di perkebunan sawit Jambi-Pekanbaru ini banyak pekerja suku Batak mungkin. Heheh…

Menurut catatan penulis, malam tepat pukul 21.58 memasuki Kota Pekanbaru. Disambut jajaran durian dipinggir jalan yang berbaris rapi menggoda. Tetapi, malam itu penulis dan keluarga memilih menikmati sate padang dan teh telor, yang kata orang kombinasi kuliner khas Pekanbaru.

Wuih…seru khan perjalanan penulis. Yup, Pekanbaru jadi kota pemberhentian terakhir penulis. Saran penulis hindari perjalanan malam untuk perjalanan lewat lintas Timur. Selain kondisi jalan masih banyak yang rusak, rawan kejahatan, dan juga saingan dengan kendaraan besar.

Sekarang, pastinya penasaran berapa sih total biaya yang dikeluarkan lewat JTTS dari Jakarta hingga Pekanbaru. Totalnya Rp 1,819 ribu, dengan catatan ini termasuk pemakaian di dalam kota ketika keliling sebentar. Nah, ini catatan penulis sebagai gambarannya:

– Nyebrang Merak – Bakauheni Rp 374 ribu
– Tol JTTS: Rp 225 ribu
– Bensin Rp 1,220 ribu
– Jakarta – Jambi: Rp 820 ribu
– Jambi – Pekanbaru: Rp 400 ribu

Bagaimana pembaca tertarik? Mantulnya Jokowi dengan Rp 1,819 ribu penulis beserta 3 anggota keluarga bisa sampai ke Pekanbaru dalam 2 hari. Jika menggunakan pesawat pastinya memang lebih cepat, tetapi khan tidak bisa menikmati pemandangan di berbagai kota, dan berat di ongkos pula. Heheh…

Puji Tuhan negeri ini dipimpin oleh Presiden Jokowi. Mimpinya menghubungkan setiap pelosok Indonesia bukan hisapan jempol! Lihat Tol Trans Jawa sudah semakin populer, dan kini lewat Tol Trans Sumatra memungkinkan kita mengucap lebih banyak lagi puji Tuhan untuk semua kebaikanNya lahir sebagai orang Indonesia. Negeri elok dengan keragamannya.

Sip, tunggu artikel Part 2 yah. Nanti penulis bagi cerita yang berbeda, lebih seru dan berwarna.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *