TSUNAMI ACEH, 15 TAHUN KEMUDIAN: BANTUAN HIBAH ASING BERALIH FUNGSI

Lima belas tahun bencana tsunami Aceh, sejumlah fasilitas umum bantuan negara asing untuk warga dalam kondisi terbengkalai, bahkan ada bantuan hibah yang beralih fungsi. Padahal nilai hibah yang diberikan mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat.

Wartawan di Aceh yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Hidayatullah, siang itu memasuki perumahan Persahabatan Indonesia-Tiongkok, perumahan yang dibangun dari dana hibah pemerintah China bagi korban tsunami di kabupaten Aceh Besar.
Setelah 15 tahun tsunami melanda Aceh: Bagaimana nasib Rp72 triliun dana bantuan asing?

Nilai hibah perumahan yang dikenal dengan sebutan Kampung Jackie Chan ini Rp65 miliar.

Namun kini, sekitar 30% dari total rumah yang ada sudah kosong atau terbengkalai, tidak ada yang menempati. Bangunan sekolah di area perumahan ini juga tidak digunakan.

Kepala desa setempat, Faizan mengatakan rumah-rumah tersebut ditinggal pemiliknya karena jarak yang jauh antara perumahaan dengan kota Banda Aceh, pusat perekonomian.

“Memang ada beberapa rumah yang ditinggalkan begitu saja oleh pemilik, beberapa di antaranya juga disewakan kepada orang lain, karena alasan jarak rumah dan akses ekonomi yang jauh,” kata Faizan, kepala Desa Neuheun, Kabupaten Aceh Besar.

Beberapa rumah juga ditinggal pemilik lantaran kondisi rumah yang tidak memadai, imbuh Faizan.

M. Dahlan, warga yang tinggal di kompleks tersebut memiliki penilaian lain.”Kalau jauh dari kota memang benar, tapi kan ada transportasi umum yang setiap hari lalu lalang, jadi kita masih bisa menggunakan kendaraan tersebut kalau harus ke sana,” katanya.

Salah seorang penyewa asal Sumatera Utara, Nurhasanah, mengatakan tinggal di “Kampung Jackie Chan” sangat nyaman, “Selain harga sewa yang murah, lokasi ini juga menjadi tempat yang cocok untuk mencari nafkah keluarga.”

Di area seluas 22,4 hektar itu pemerintah China menghibahkan dana Rp65 miliar, untuk pendirian 606 unit rumah tipe 42. Rumah tersebut berada di ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Pada Juli 2007 kompleks tersebut diresmikan sebagai bantuan untuk korban tsunami Aceh tahun 2004.

Sementara Gedung Learning Center bantuan Korea, yang dulunya sempat terbengkali, kini telah dialih fungsi oleh Pemerintah Kota Banda Aceh, menjadi tempat komunitas Digital Innovation Lounge (DIL), sejak tahun 2016.

Puskesmas beralih menjadi kafe

Fasilitas lain dari hibah negara asing yang kami datangi adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pembantu di Desa Lambung, Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh.

Bantuan dari Bulan Sabit Arab Saudi memang sudah tidak digunakan ketika BBC Indonesia melakukan penelusuran 10 tahun setelah tsunami. Ketika itu gubernur mengakui banyak bangunan bantuan internasional tidak terpakai.

Kini keberadaan hibah berupa puskesmas tersebut, juga tidak menampakkan bekas tempat perawatan korban tsunami masa lalu.

Kini nasibnya telah berubah menjadi sebuah kafe dan menjadi tempat tongkrongan anak muda.

Padahal puskesmas ini dilaporkan sebagai bagian dari bantuan Arab Saudi bagi korban tsunami Aceh senilai US$10 juta atau sekitar Rp140 miliar.

Selain puskesmas bantuan Arab Saudi, masih di Desa Lambung, ada satu unit bangunan untuk penampungan dan berlindung bantuan dari Jepang.

Tempat tersebut dirancang untuk mengavakuasi warga jika bencana serupa kembali menimpa Aceh, tapi hari itu banyak bola lampu yang sudah tidak ada, bahkan ruangan yang seharusnya menjadi dapur juga sudah tampak kosong.

“Kita selalu melakukan pemeliharaan setiap tahun. Pemerintah kota melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengalokasikan dana untuk perawatan tersebut, sayangnya anggaran sedikit, jadi kita melakukan upaya sebaik mungkin,” kata Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Kota Banda Aceh, Muhammad Syaifuddin Ambia.

Jalan bantuan Amerika Serikat untuk Aceh bergelombang

Hibah pascatsunami juga diterima Indonesia dari Amerika Serikat untuk infrastruktur.

Bantuan itu terealisasi berupa jalan 240 kilometer dan 110 jembatan yang menghubungkan Banda Aceh dengan Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.

Menelan anggaran sebanyak US$245 juta atau sekitar Rp3,4 triliun. Kini keadaan jalan tersebut mulai bergelombang.

“Memang ada perbaikan jalan setiap tahun, tapi kondisi jalan sekarang bergelombang dan banyak juga tambalan pada bagian jalan,” kata Muhammad Azwar, warga yang setiap pekan menggunakan jalan tersebut untuk bekerja ke Aceh Jaya.

Menurutnya, kondisi jalan itu membahayakan pengendara roda dua.

“Kalau pakai mobil aman saja, tapi dengan sepeda motor kita bisa terbang kalau menaiki tambalan jalan yang lumanyan tinggi,” kata Azwar.

Asisten II Provinsi Aceh, Teuku Ahmad Dadek, mengaku setiap tahunnya pemerintah mengalokasikan anggaran untuk perawatan dan pemeliharaan jalan dan jembatan.”Ya pemerintah setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk pemeliharaan, karena itu akses utama dari Banda Aceh menuju Meulaboh,” kata Teuku Ahmad Dadek, tanpa merinci jumlah alokasi dana pemeliharaan jalan.

Banyak negara dan lembaga mengucurkan dana untuk membantu masa rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh menyusul gempa dan tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004.

Sarana yang dibangun rata-rata melebihi jumlah yang ada sebelum bencana. Sebagai contoh, terdapat setidaknya 1.100 sarana kesehatan baru, atau dua kali lipat
sumber: bbc
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *