KEMULIAAN NATAL TETAP NYATA SEKALIPUN HARUS MENGALAMI KESULITAN BAHKAN PENDERITAAN

Jemima Mulyandari-Puji Tuhan saya bisa berjumpa lagi dengan perayaan Natal. Satu tahun lagi Tuhan berikan kesempatan pada saya untuk bisa bergembira bersama menyambut peringatan hari kelahiran Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku yang hidup.

Jika tahun-tahun sebelumnya saya menjalani perayaan Natal dengan riang gembira, tahun ini terasa beda karena saya jalani sambil ngelus dada mengawal di medsos kasus umat Kristiani di Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, dan Jorong Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat yang sudah bertahun-tahun dilarang melakukan ibadah minggu maupun perayaan Natal oleh oknum-oknum jahat, baik itu warga maupun pemerintah setempat di sana.

Selama ini warga Kristiani di sana hanya diperbolehkan beribadah dan merayakan Natal di rumah masing-masing, tapi tak boleh mengundang orang lain. Ijin mendirikan gereja juga tak pernah diberi. Makanya, umat Kristiani di kedua kabupaten tadi tidak pernah merasakan yang namanya ibadah mingguan dan perayaan Natal secara berjemaah, akibat kesepakatan jahat yang dibuat oknum-oknum jahat di sana.

Jujur saya sempat kesal pada Presiden Jokowi yang terkesan “membiarkan” kasus intoleransi terjadi dan terjadi lagi di negara kita. Puncak kekesalan saya juga tertuju pada Menteri Agama yang kesannya justru “mendukung” kesepakatan jahat oknum-oknum di sana. Padahal sudah nyata-nyata ibadah itu adalah hak, bukan kesepakatan.

Perjuangan Sudarto Toto, Program Manager Pusat Studi Antarkomunitas (Pusaka) Padang yang pertama kali mengangkat kasus ini langsung kita bantu viralkan demi tegaknya keadilan di negara ini yang sudah nyata-nyata menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Puji Tuhan perjuangan orang-orang yang cinta NKRI ini berbuah bahagia. Umat Kristiani di Jorong Kampung Baru, Kabupaten Dharmasraya, dan Jorong Sungai Tambang, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat akhirnya bisa beribadah Natal tahun ini. Sedangkan tempat yang lebih permanen untuk umat beribadah akan dimusyawarahkan setelah 10 Januari 2020 nanti. Terima kasih Tuhan untuk anugerahmu ini.

Kekecewaan, ketakutan, kesulitan, keputusasaan bahkan penderitaan akhirnya Tuhan ganti dengan kegembiraan, kebahagiaan, damai, sukacita bahkan kemuliaan. Ya…kemuliaan Natal itu telah membawa damai bagi kita seluruh umat beragama yang tinggal di NKRI.

Buktinya, sampai saat ini kita masih bisa hidup rukun berdampingan satu sama lain dalam perbedaan sekalipun badai intoleransi, radikalisme dan terorisme datang menerpa negara kita secara bertubi-tubi.

Eratnya tangan kita bergandengan satu sama lain dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu, terlalu kuat untuk ditembus gerombolan kadrun dengan tingkah dan kelakuan mereka yang sangat jauh dari yang namanya kasih dan kebaikan yang adalah cermin dari Tuhan dan agama itu sendiri.

Jujur kadang ada rasa lelah melanda diri saya melihat tanah kelahiran saya ternyata sebagian warganya dilanda wabah penyakit mabok agama yang menjadi sumber kekacauan di negara ini.

Tapi tiba-tiba saya tersadar jika kelahiran Yesus Kristus juga diwarnai dengan serangkaian peristiwa tidak mengenakkan bernama kekecewaan, ketakutan, kesulitan, keputusasaan, penderitaan bahkan maut alias kematian. Ternyata, semuanya itu Tuhan ijinkan terjadi untuk mendatangkan kemuliaan pada orang-orang yang mengasihiNYA. Dalam artikel ini akan saya bahas tentang Maria, Yusuf dan Yesus.

Pertama. Maria. Tak mudah menjadi seorang Maria, perawan suci yang belum pernah disentuh laki-laki saat tahu dirinya harus mengandung bayi sebelum dia bersuami. Resiko yang harus dihadapi Maria saat itu adalah hukuman dirajam batu sampai mati.

Tapi saat itu Maria tetap menurut pada firman Tuhan dengan segala resikonya. Hamil di luar nikah sekalipun Maria belum pernah bersetubuh dengan laki-laki seharusnya adalah sebuah aib bagi semua perempuan di dunia. Tapi Maria yang semula galau dan bimbang akhirnya bisa menerima itu semua sebagai sebuah kasih karunia untuk dirinya.

Dengan polos Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Sebagai perempuan, baik itu dalam posisi sebagai anak, istri, maupun ibu, ada banyak ketidaktaatan yang selama ini saya lakukan akibat kegalauan, kebimbangan dan kurang percaya pada rancangan kehendakNYA.

Tapi di perayaan Natal tahun ini saya ingin memperbaiki komitmen saya pada Tuhan dengan mencontoh ketaatan Maria. Apapun yang terjadi, saya akan berusaha berkata:

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Jadilah padaku seperti yang KAU ingini Tuhan. Amin.”

Kedua. Yusuf. Menjadi seorang Yusuf juga tak mudah. Seorang laki-laki yang belum pernah menikah harus menerima perempuan yang sama sekali belum pernah disentuhnya untuk menjadi istrinya dalam keadaan sudah mengandung bayi yang bukan benihnya. Bukan darah dagingnya. Ini jelas aib sekaligus penghinaan besar pada diri Yusuf itu sendiri juga keluarga besarnya.

Tetapi Yusuf memutuskan untuk taat pada firman sama seperti yang dilakukan Maria. Saat malaikat Tuhan menampakkan diri pada Yusuf dalam mimpi agar Yusuf tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya, sebab anak yang di dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus.

Saat Yusuf bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Yusuf mau taat pada firman dengan mengambil Maria sebagai isterinya dengan segala resikonya. Yusuf juga tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus dilahirkan ke dunia.

Benar-benar pengorbanan luar biasa tentunya. Sekalipun Alkitab tidak mencatatnya, saya yakin saat itu Yusuf yang berhasil taat pada firman pasti juga berkata sama seperti Maria.

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Jadilah padaku seperti yang KAU ingini Tuhan. Amin.”

Ketiga. Yesus. Pengorbanan dan ketaatan yang dilakukan Yesus juga luar biasa. Yesus yang duduk dengan gagahnya di tahta surga yang mulia rela turun ke dunia hidup sebagai manusia biasa yang ditakdirkan untuk mati sengsara bahkan terkutuk di atas kayu salib.

Saat merenungkan ini air mataku mengalir. Kepindahan Yesus dari surga yang mulia ke dunia fana bukanlah hal mudah. Sekarang mari kita resapi bersama.

Saat kita pindah dari rumah yang sempit, kotor dan jelek ke rumah yang besar, bagus dan nyaman, jelas senang dan bahagia. Coba sekarang kita balik keadaannya. Pindah dari rumah yang besar, bagus dan nyaman ke rumah sempit, kotor dan jelek kira-kira bagaimana rasanya??? Tak hanya sempit, kotor dan jelek, Yesus bahkan rela lahir di kandang yang hina.

Dari ketiga teladan ketaatan yang luar biasa ini akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan jika perayaan Natal tak harus selalu tentang kemeriahan dan pesta pora. Kemuliaan Natal tidak bisa dihalangi oleh apapun juga termasuk oleh yang namanya kesukaran, penderitaan bahkan kematian. Saat kita bisa taat pada firman, saat itulah kemuliaan Natal akan menjadi milik kita.

Seperti yang sudah dialami saudara-saudara kita di Sumatra Barat sana. Dalam penderitaan mereka dilarang beribadah dan merayakan Natal selama bertahun-tahun, mereka tetap taat pada Tuhan juga pada pemerintah sekalipun ada kekecewaan, ketakutan, kesulitan, keputusasaan, penderitaan bahkan ancaman kematian mengingat kejadian di awal tahun 2000, rumah tempat mereka melakukan ibadah kebaktian dibakar karena adanya penolakan warga. Dan hari ini ketaatan itu berbuah manis saat air mata mereka dihapus oleh tangan Tuhan sendiri yang menolong mereka tepat pada waktunya.

Selamat Natal semuanya. Saya juga mau belajar taat padaMU Tuhan. Jadilah padaku seperti yang KAU ingini. Amin. Terpujilah Tuhan.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *