HAI MUI JATIM, TIDAK APA-APA TAK UCAPKAN SELAMAT NATAL, KALAU ITU ‘MENGGANGGU’ AKIDAHMU!

Mora Sifudan-MUI Jatim kembali menghimbau umat Islam untuk tidak mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani yang akan merayakan hari besar agamanya. Ada tidak hal penting menurut saya yang disampaikan MUI Jatim.

Pertama, mengucapkan selamat Natal sudah masuk wilayah akidah: “Ucapan Natal itu kan perayaan lahirnya anak Tuhan, karena itu masuk wilayah akidah. Ketika kita mengucapkan selamat kepada peringatan itu, sama saja kita memberi selamat atas lahirnya putra Tuhan.” (Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Suarajatim)

Komentar saya. Selama ini, mengucapkan selamat merayakan hari besar agama kepada umat lain biasanya tidak dihubungkan dengan akidah, melainkan lebih ditekankan pada saling menghargai, sopan santun, rukun dan damai.

Saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, misalnya, tidak lantas atau tidak sama sekali menghubungkannya dengan iman saya, melainkan sebagai bukti nyata saya menghargai mereka yang sedang merayakan hari kemenangan. Saya menganggap dan mengakui mereka ada di sekitar saya, tetangga saya, teman kerja saya, saudara sebangsa saya dan lain sebagainya.

Bahkan ketika mengucapkan selamat hari raya agama lain, itu adalah pengamalan iman kami. Dengan mengucapkan selamat atas perayaan orang lain, saya sedang mengamalkan ajaran Yesus untuk membawa damai sejahtera bagi sesama, mencintai sesama, menghargai sesama, dan berbahagia dengan yang berbahagia.

Demikian juga ketika orang non-Kristiani mengucapkan selamat Natal kepada saya, tidak lantas atau tidak sama sekali berpikiran bahwa orang itu sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan. Ini serius. Melainkan saya berterima kasi karena mereka menghargai saya yang sedang merayakan hari bahagia. Senang rasanya karena mereka menganggap saya ada. Senang rasanya karena mereka menerima saya walaupun saya berbeda keyakinan. Itulah yang muncul.

Bahwa kemudian MUI Jatim menganggap bahwa mengucapkan selamat Natal itu sudah masuk wilayah akidah, yang kalau diucapkan mungkin akan merusak atau mengganggu akidah – itulah sebabnya dilarang, ya sudah tidak apa-apa. Kalau hanya mengucapkan selamat natal saja MUI Jatim sudah merasa terganggu akidahnya, saya justru berterima kasih. Kenapa?

Karena sekarang saya jadi tahu bahwa hanya mengucapkan selamat Natal saja akidah mereka sudah terganggu, maka mungkin hal lain yang lebih sensitif lagi pasti akan lebih mengganggu lagi. Saya juga tidak perlu lagi berpikir bahwa mereka tidak punya adab, tidak sopan atau tidak menghargai, karena mereka takut akidah mereka terganggu. Sekali lagi terima kasih.

Saya justru merasa bangga bahwa dengan mengucapkan selamat hari raya agama lain, iman saya tidak terganggu. Jangankan hanya mengucapkan selamat hari raya agama lain, mendengar orang lain berholawat, mengaji, sholat, dan tahlilan saban hari pun iman saya tidak sedikit pun terganggu. Bahkan jika hanya saya sendiri saja seorang Katolik di dunia ini, iman saya tidak akan goncang. Komitmen saya seperti itu.

Bukan saya mau menganggarkan bahwa iman saya lebih kuat, bukan. Hanya karena saya beriman saja, makanya saya mengatakan seperti itu. Karena bagi saya, semoga saja bagi semua kaum beriman, bahwa ketika semakin besar godaan terhadap iman, namun tetap bertahan, itulah iman yang sejati. Saya belum ke situ, tetapi saya sedang mencoba untuk ke situ.

Jadi tidak apa-apa MUI Jatim, terima kasih sudah jujur menunjukkan jati diri yang sebenarnya.

Kedua, himbauan tidak berlaku untuk wakil presiden: “Nah kalau urusan itu, mungkin Pak Wapres punya pertimbangan sebagai pemimpin negara, sehingga diharuskan mengucapkan selamat Natal.” (Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Suarajatim)

Di sini, ada sedikit masalah. Ternyata ada kekecualian hanya pada wakil presiden. Kenapa tidak ikut presiden? Apakah karena wakil presiden diakui sebagai kiai atau bagaimana? Itu jadi Pertanyaan besar bagi saya.

Ketiga, tidak adanya ucapan selamat dan atribut natal akan menghilangkan sweeping: “Sehingga ketika orang tidak mengucapkan selamat Natal dan tidak menggunakan atribut perayaan, itu tidak bisa disebut intoleran. Jadi kalau itu dipahami dengan baik, tidak akan kita jumpai sweeping.” (Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Suarajatim)

Ini cukup mengecewakan. Mendengar pernyataan seperti ini, seolah menggunakan atribut natal dan mengucapkan selamat natal itu adalah paksaan. Tidak ada yang memaksa. Kalau ada yang terpaksa karena tuntutan karena pekerjaan, ya silakan pindah tempat kerja – maaf karena ini soal akidah loh.

Misalnya, mall mau memeriahkan Natal lalu memasang atribut Natal dan pekerjanya diwajibkan mengenakan atribut natal. Kalau tidak bisa memenuhi, ya pindah kerja saja – sekali lagi karena ini berkaitan dengan akidah. Meskipun saya yakin perusahaan pasti memberi kebebasan.

Lalu kalau misalnya, manajemen memajang atribut natal di dalam dan di luar mall, ya itu urusan mereka. Itu hak mereka. Toh setiap perayaan besar agama-agama, mereka memajang atribut sesuai perayaan. Kalau tidak mau menyaksikan itu, ya sudah tidak perlu ke mall itu. Lagi-lagi karena ini berkaitan dengan akidah yang merupakan wilayah pribadi.

Jadi tidak ada pembenaran sweeping sama sekali. Bahkan ketika ada pemaksaan, silakan lapor ke polisi, biar mereka yang menangani. Kog malah seolah membenarkan sweeping?

Terakhir. Kepada umat Islam yang tetap mengucapkan selamat Natal walau ada himbauan untuk tidak mengucapkannya, terima kasih banyak. Saya salut atas tenggang rasa, saling menghormati, dan toleransi Anda. Anda sudah membawa damai bagi sesama.

Bagi Anda yang tidak mengucapkan selamat Natal, juga saya ucapkan terima kasih. Semoga akidah Anda tidak terganggu atas perayaan Natal kami dan atribut Natal yang bertebaran di mana-mana di bulan Desember. Semoga iman Anda sebagai seorang Islam tidak gocang karena godaan, rintangan dan cobaan.

Salam dari rakyat jelata

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *