SEKALI LAGI, SOAL KONTROVERSI UCAPAN “SELAMAT NATAL”

Widodo SP-Mendekati Natal yang peringatan puncaknya akan terjadi lima hari lagi, saya ingin membagikan unggahan dari seorang teman bernama “Stefanus Rahoyo” di akun Facebook-nya. Saya sudah izin pemilik akun FB tersebut untuk membagikannya, dengan harapan dapat memberi pencerahan bagi kita pembaca SEWORD.

Langsung saja saya kutipkan isi lengkapnya:

NATAL

Sekalipun sudah tidak segaduh tahun-tahun sebelumnya, mengucapkan “Selamat Natal” tahun ini tetap menjadi kontroversi. Saya bertanya-tanya: problemnya terletak pada kata “natal” itu sendiri atau pada anggapan bahwa mengucapkan “Selamat Natal” berarti mengakui Yesus sebagai Tuhan?

Kata “natal” berasal dari ungkapan Latin (lengkapnya) “Dies Natalis”. Dies (Lt) berarti hari dan natalis (Lt) berarti ulang tahun. Natal dengan demikian berarti ulang tahun (perayaannya) atau lahir/kelahiran (peristiwanya). Sebagai peristiwa, natal artinya sama persis dengan maulid atau milad (Arab).

Ungkapan “Dies Natalis” masih dipakai hingga hari ini, (biasanya) untuk menunjuk hari kelahiran sebuah perguruan tinggi, tak peduli perguruan tinggi Kristen atau non-Kristen. Dan, sejauh saya tahu, penggunaan istilah “Dies Natalis” tidak pernah dipersoalkan hingga hari ini. Demikian juga kata “natalitas” (kelahiran) sebagai lawan kata “mortalitas” (kematian) dalam istilah kependudukan. Kata “natalitas” masih dipakai hingga hari ini dan tidak pernah menjadi soal.

Jadi, saya menduga, persoalannya bukan pada kata “natal” itu sendiri. Sebab, bila persoalannya pada kata “natal” mestinya secara konsisten ungkapan “dies natalis” atau kata “natalitas” juga harus dipersoalkan. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa persoalannya terletak pada anggapan bahwa mengucapkan “Selamat Natal” berarti mengakui ketuhanan Yesus.

Sekalipun secara umum Natal berarti lahir (kelahiran), benar bahwa secara khusus ucapan selamat Natal memang merujuk pada kelahiran Yesus. Apakah dengan “lahir” Yesus menjadi Tuhan? Di situlah pertanyaannya. Bila benar bahwa dengan “lahir” Yesus menjadi Tuhan; sebagai orang Kristen, saya pribadi, lebih baik beriman kepada ayah saya.

Mengapa? Ayah saya juga lahir, saya bahkan mengenal secara langsung sosok ayah saya. Atau beriman kepada istri saya karena istri saya juga mengalami “lahir” seperti Yesus. Secara fisik bahkan setiap hari saya bersama istri saya. Kalau hanya karena Yesus lahir lalu saya beriman kepada-Nya, buat apa?

Ketuhanan Yesus BUKAN DITENTUKAN oleh kelahiran-Nya karena kalau dengan “lahir” Yesus menjadi Tuhan, semua orang juga lahir. Di mana letak ketuhanan Yesus? Ini menjadi pokok bahasan lain.

Jadi, jelas bahwa peristiwa natal itu sendiri tidak ada sangkut-pautnya dengan ketuhanan Yesus. Natal adalah semata-mata perayaan kelahiran Yesus. Mau dirayakan atau tidak, faktanya Yesus memang pernah lahir di dunia ini. Maka, saya agak bingung bagaimana bisa mengucapkan “Selamat Natal” dianggap mengakui Yesus sebagai Tuhan?

Bahkan, misalnya ada teman mengucapkan “Selamat Natal” kepada saya sambil berseloroh, “Selamat Natal, tapi, saya tetap menganggap Yesus sebagai nabi, ya, Bro…”; saya kira tidak ada salahnya!

Saya setuju sekali dengan bagian yang menyatakan bahwa faktanya Yesus memang pernah lahir di dunia ini. Ya, sosok Yesus sama sekali bukan dongeng, mitos, atau cerita rekaan yang tidak jelas kebenarannya. Perkara apakah benar-benar Dia yang disalibkan, lalu diberitakan wafat, bangkit, naik ke surga, dan kelak akan kembali sebagai Imam Mahdi sekaligus menjemput umat yang percaya kepada-Nya (dan diakui-Nya sebagai milik-Nya) … menurut keyakinan yang saya anut, berdasarkan yang tertulis dalam Alkitab, ya saya percaya bahwa Dialah pribadi yang sama, yang dilahirkan oleh pasangan bernama Yusuf dan Maria.

Simpelnya, silakan saja ambil keputusan pribadi apakah hendak mengucapkan “Selamat Natal” atau tidak kepada relasi, teman, keluarga, atau warganet yang merayakannya. Namun, saya berharap kalau secara pribadi Anda menolak mengucapkan karena menurut Anda bertentangan dengan keyakinan, ya tidak usah provokasi yang lain (apalagi dengan indikasi memaksa) agar mereka tidak mengucapkan juga.

Silakan saja punya prinsip begini : (karena dalam hal tertentu saya juga punya prinsip serupa)

“Saya melakukan ini karena agama saya melarangnya.”

Tetapi jangan begini:

“Karena agama saya melarangnya, kamu pun tak boleh melakukannya.”

Mari kita jaga bersama kedamaian dan kerukunan antarumat beragama, karena di negeri ini ada beberapa agama yang diakui, dan kebetulan bulan Desember adalah bulannya umat Kristen dan Katolik untuk memperingati dan merayakan Natal.

Enjoy aja napa? Masa’ tiap tahu selalu ribut urusan begini sih?

Begitulah kura-kura

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *