ANGKAT AHOK SEBAGAI WAGUB SAMPAI MUSIM KEMARAU

Alifurrahman-Setiap tahun Jakarta banjir. Dari dulu sampai sekarang. Siapapun Gubernurnya, selalu ada genangan air. Bedanya hanya pada durasi penyerapan, dan jumlah titik genangan.

Diakui atau tidak, pada jaman Jokowi sampai Ahok memimpin, titik genangan air berkurang drastis. Dari yang biasanya air susah terurai, menjadi lebih cepat hilang. Meski memang, masih ada juga beberapa lokasi yang banjir cukup lama. Karena faktor teknis alat dan pekerja di lapangan, juga karena penyebab-penyebab baru yang sebelumnya tak diketahui.

Dalam kesimpulan saya, dari Jokowi sampai Ahok menjadi Gubernur DKI, banjir hanya bisa diminimalisir. Belum tuntas betul. Dan belum sepenuhnya terbebas dari banjir.

Infrastruktur penunjang juga belum sepenuhnya otomatis bekerja. Masih mengandalkan kecepatan para penjaga di lapangan. Kalau mereka lalai, atau lupa mengantisipasi, maka banjir pasti menerjang cukup lama. Inilah kenapa Ahok kerap datang ke lapangan. Pun Anies ketika awal-awal memimpin, harus menunggui air banjir hingga larut malam.

Bukan apa-apa, bukan sekedar untuk foto-foto pencitraan, tapi juga karena para pekerja di lapangan harus ditunggui. Karena kalau ditinggal, mereka juga akan memilih pulang mengobati lelahnya.

Apa yang dilakukan Ahok sudah bagus. Patut diakui semua bekerja taktis dan sistematis. Kompak. Dan kalau kini banjir lebih adil, maksudnya juga menyasar gedung-gedung besar, itu karena tim Gubernur saat ini tak sekompak tim jaman Ahok.

Hujannya sebentar, infrastrukturnya sama, tapi beda eksekutor di lapangan, hasil banjirnya bisa berbeda. Seperti yang kita lihat sekarang.

Jadi ada benarnya kalau Ahok belum bisa menyelesaikan masalah banjir. Seharusnya Ahok diberi waktu lebih lama lagi untuk mempelajari titik-titik banjir yang belum teratasi, dan membuat sistem otomatis agar saat hujan turun, semua peralatan langsung siaga.

Namun ya sudahlah. Ahok sudah cerita masa lalu. Kini Anies yang ketiban sial karena harus dibandingkan dengan pendahulunya.

Kalau melihat cara kerja anak buah Anies, terlihat tak ada pola, sistem dan aturan yang terorganisir. Anies juga lebih sibuk membantu warga di luar Jakarta. Mulai dari kunjungan luar negeri, hingga membantu warga korban bencana alam. Sehingga hasilnya adalah tak ada koordinasi dan komando yang jelas.

Anies bukan hanya tanpa rencana penanggulangan, bahkan terlihat tak mampu merespon cepat. Rencananya membuat lubang-lubang di banyak titik hanya dagelan saja. Demi menguras dan menyerap anggaran, agar dicap berprestasi. Tapi secara fungsi, itu hanya omong kosong. Teori sunnatullah air jatuh ke dalam tanah, yang digembar-gemborkan Anies di jaman kampanye dulu, nyatanya hanya menghasilkan antrian panjang para air. Ya kalau lubangnya hanya sekian meter, mana bisa menampung semua air hujan? Maka wajar kalau hasilnya adalah antrian panjang.

Kalau saya ditanya apa yang harus dilakukan oleh Jakarta saat ini? demi meminimalisir ancaman banjir, maka jelas cara instannya adalah mengangkat Ahok sebagai Wakil Gubernur sementara. Toh sampai saat ini Jakarta belum punya Wagub. Biarkan Ahok bekerja minimal sampai musim kemarau.

Tapi kalau itu tak bisa dilakukan, maka Anies harus mengakui bahwa dirinya tak mampu memberi komando dan memetakan titik genangan dengan baik. Tak mampu mengantisipasi. Tanpa pengakuan, tanpa kesadaran, maka Jakarta di mata Anies akan terlihat baik-baik saja. Seperti pendapat para pendukungnya dari luar Jakarta, yang kerap meyakini Jakarta tambah maju dan warganya makin bahagia.

Dan kalau semua itu tak mungkin dilaksanakan, maka sudah benar Presiden Jokowi mengambil alih kendali. Sudahlah, ibu kota pindah saja ke Kalimantan. Karena Jakarta sudah terlalu parah, sementara sistem dan birokrasi pemerintahan kita, punya banyak aturan yang tak memungkinkan semua pekerjaan di Jakarta diambil alih pusat.

Maka sudah benar kalau Presiden mengunjungi lokasi ibu kota Indonesia yang baru, di saat Jakarta sedang begitu tertibnya, maksudnya tertib karena air-air hujan kini mau antri panjang. Seolah Presiden sedang memberi gambaran yang jelas, bahwa ibu kota memang sudah seharusnya pindah. Karena mustahil memperbaiki Jakarta, apalagi kalau gubernur terpilih adalah orang yang tak bisa kerja, dan hanya bisa menata kata-kata. Begitulah kura-kura.

Jangan lupa share dan subscribe

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *