AHOK BONGKAR TEMPAT PROSTITUSI,ANIES BERI PENGHARGAAN DISKOTIK,MANTAPNYA GUBERNUR UMAT 58%

Cak Anton-Ini bukan masalah tidak mau move on terhadap masa kepemimpinan Ahok di DKI Jakarta, tetapi ini merupakan kesialan Anies yang memimpin setelah Ahok, dimana seorang Ahok yang pernah memperoleh kepuasaan public begitu tinggi soal kinerja, meskipun pada akhirnya namanya hancur karena dituduh sebagai penista agama Islam.

Kebanyakan orang yang ikut demo pada 212 dan jilid lainnya mengatakan pada saya, bahwa soal kinerja mereka mengakui bahwa kinerja seorang Ahok adalah baik, tetapi itu semua dikalahkan karena Ahok dianggap menistakan agama dan alasan mulut Ahok yang cenderung dianggap kasar. Entah apakah hal tersebut merupakan alasan yang dibuat-buat atau tidak, tetapi paling tidak di dalam hati nurani terbesit bahwa seorang Ahok memiliki kinerja yang baik.

Salah satu gebrakan Ahok yang cukup menggemparkan adalah keberaniannya membongkar tempat prostitusi yang sudah cukup lama ada di Jakarta yaitu Kalijodo. Dibutuhkan nyali besar untuk membongkar tempat tersebut, selain sarat akan prostitusi, peredaran narkoba pun memiliki potensi yang besar di sana.

Bukan Cuma berhadapan dengan preman, Ahok pun harus berhadapan dengan oknum-oknum pejabat yang mengambil keuntungan dari perputaran uang di Kalijodo. Ini sudah menjadi rahasia umum. Para bos mafia dibalik Kalijodo pasti ikut berperang melawan Ahok ketika itu, sebagaimana para Mafia di balik Tanah Abang yang juga terusik oleh Ahok karena adanya penertiban.

Pembongkaran Kalijodo adalah salah satu cerminan keberanian dan akhlak yang baik dari Ahok. Ditambah lagi dengan diberangkatkannya para marbot masjid untuk pergi umroh pun membuat Ahok dianggap sebagai orang yang berakhlak baik dan juga menghormati agama Islam. Tak hanya berhenti di situ saja, Ahok pun ikut berpartisipasi atau menginisiasi pembangunan masjid.

Namun ada kesan hal baik yang dibuat oleh Ahok tersebut tak pernah dianggap oleh PA 212. Mereka mendemo Ahok secara berjilid dengan tuduhan penistaan agama Islam, meskipun itu adalah hak dari mereka dan harus kita hormati. Mereka awalnya tak mau kegiatan mereka dikaitkan dengan tujuan politik. Namun pada akhirnya, reuni demi reuni mereka lakukan justru terkesan menjurus pada dukungan politik pada kelompok-kelompok tertentu. Misalnya pada pilpres kemarin mereka berada di pihak Prabowo.

Di pilkada DKI Jakarta 2017, mau gak mau PA 212 dikaitkan dalam gerakan politik untuk menjatuhkan Ahok. Sedangkan Anies Baswedan sebagai lawannya Ahok mendapatkan keuntungan karena secara otomatis mendapatkan dukungan dari PA 212.

Anies kerap digemborkan sebagai Gubernur pilihan umat Islam. Nama tersebut terus disemburkan di media sosial khususnya. Seperti sebuah politik, dukungan mereka pun seperti dinamis, karena ketika pilpres 2014 Anies adalah jurkamnya Jokowi. Ketika itu, kelompok-kelompok mereka pun bertentangan dengan Jokowi otomatis bertentangan dengan Anies sebagai Jurkamnya.

Simalakama pun kini kembali terjadi ketika Ahok yang dianggap buruk dan menaikkan derajat Anies dimata para pengikut PA 212. Bagaimana tidak simalakama, soal kinerja, belum banyak yang bisa dibanggakan dari Anies selain berkutat pada bongkar pasang trotoar, jalur sepeda, itu pun diiringi dengan dana yang dianggap begitu fantastic. Soal APBD, penemuan dana tak masuk akal pun banyak ditemukan pada zaman Anies.

PA 212 pun kembali dihadapakan pada buah simalakama ketika Pemda DKI Jakarta memberi penghargaan terhadap sebuah diskotik. Seperti yang kita ketahui bersama, brandingnya PA 212 adalah hal-hal yang berkaitan dengan anti maksiat, hal ini sudah jelas, diskotik pun dianggap sebagai salah satu tempat yang erat kaitannya dengan maksiat, meskipun pada kenyataannya, dipuncak pun banyak tempat maksiat meskipun bukan di diskotik, hehe.

Melihat kenyataan ini, PA 212 pun hanya berwacana menegur si Anies. Mungkin, jika Ahok yang melakukan hal serupa, ada kemungkinan hal tersebut dijadikan sebagai dasar atau modal untuk melakukan demo terhadap Ahok, karena jika kita melihat dari histori demo-demo yang ditujukan pada Ahok, begitu banyak alasan yang digunakan untuk melakukan demo terhadap Ahok sebelum kasus penistaan agama terjadi diantaranya yaitu karena Ahok non muslim yang tak boleh memimpin umat mayoritas. Alasan lainnya pun ada lagi, yaitu Ahok dianggap pembuat keributan, hal ini terkait tindakan Ahok yang kerap ribut sama DPRD DKI Jakarta ketika itu. Dan alasan lain-lain pun ada, silahkan cari beritanya melalui google aja. Udah ah, itu aja… Cak Anton
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *