KETERSINGGUNGAN BUDAYA DAN AGAMA DI INDONESIA

Imam Fadholi-Sejak dulu, konflik akibat adanya ketersinggungan antara budaya dan agama di negeri ini terus terjadi.

Dalam catatan sejarah, ketersinggungan itu telah mengakibatkan pertikaian, pertumpahan darah, dan bahkan perang yang tak sedikit memakan korban jiwa antar sesama anak bangsa.

Hingga hari ini, kejadian serupa tak juga berakhir. Terus terjadi. Perselisihan karena ketersinggungan yang sama masih berlangsung di mana-mana. Di berbagai daerah di negeri ini.

Memenuhi pemberitaan media. Menjadi bahasan panjang tak berujung. Meresahkan banyak orang dan kalangan. Bahkan dampaknya dianggap mengancam eksistensi negara.

Lalu apa sebenarnya penyebab utamanya? Kenapa harus ada yang tersinggung hingga mengakibatkan konflik berkepanjangan?

Dalam sebuah hubungan, ketersinggungan adalah keniscayaan. Biasa terjadi. Tak terkecuali ketika ajaran agama dan budaya bertemu, saling berhubungan.

Ketersinggungan agama dan budaya bisa terjadi karena memang di pihak pembawa ajaran agama kerap melihat dan menganggap beberapa budaya yang ada bertentangan dengan ajaran agamanya, lalu berkeinginan meniadakan.

Sementara di pihak pelaku kebudayaan sendiri melihat para penyebar ajaran agama yang seperti tertulis di atas sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi kebudayaan yang mereka jaga, jalani, dan rawat secara turun temurun.

Ketika bicara Indonesia yang notabene sangat kaya budaya, maka masuknya agama-agama baru ke negeri ini berpotensi besar melahirkan ketersinggungan.

Meski begitu, ketersinggungan yang ada tak semuanya memunculkan konflik. Bergantung pada siapa dan bagaimana cara pelaku, baik pelaku kebudayaan maupun pembawa ajaran agama dalam berinteraksi.

Para Wali pembawa ajaran Islam di Nusantara yang kemudian dikenal sebagai Wali Songo misalnya. Mereka diakui sebagai contoh ideal dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara karena dianggap mampu berinteraksi dengan baik dengan para pelaku kebudayaan yang ada di masanya.

Meski pada kenyataannya ada beberapa atau bahkan banyak kebudayaan yang ditiadakan di sepanjang perjalanan dakwah Wali Songo karena dinilai bertentangan dengan ajaran Islam, namun hingga sekarang, metode dakwah mereka masih dianggap paling ideal dalam rangka menghindari ketersinggungan.

Metode dakwah Wali Songo ini diadopsi dan terus dijadikan teladan ulama Nahdlatul Ulama (NU) dalam dakwahnya sejak awal Ormas tersebut didirikan. NU berkomitmen membumikan ajaran Islam dengan terus merangkul budaya-budaya yang ada di Nusantara. Karenanya kemudian lahir brand Islam Nusantara.

Hingga sekarang, banyak sekali bukti yang menunjukkan keberhasilan dakwah model ulama-ulama NU dalam ritual-ritual keagamaan kaum Nahdliyyin seperti Tahlilan, Sholawatan, Muludan, Sedekah Bumi, dan semacamnya yang merupakan hasil akulturasi budaya dan agama.

Keberhasilan tersebut bisa dilihat dari kemampuan para pendakwah memasukkan Ruh Islam ke dalam praktek-praktek kebudayaan. Metode ini mengutamakan esensi dan eksistensi ajaran Islam di dalam praktek kebudayaan tanpa harus melenyapkan budaya itu sendiri. Dengan demikian, potensi ketersinggungan bisa direduksi sedemikian rupa.

Meski begitu, metode dakwah yang dipelopori Wali Songo dan dilanjutkan ulama NU ini tak selamanya berjalan mulus. Hingga sekarang, ada saja kelompok pendakwah lain yang terus menentangnya. Dan kelompok penentang inilah yang selalu memicu ketersinggungan antara budaya dan agama, khususnya di Indonesia.

Kelompok tersebut tak segan mengintimidasi dan melakukan tindakan kekerasan pada para pelaku kebudayaan yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Contoh kasusnya banyak bertebaran di media.

Jangankan pada pelaku kebudayaan, kepada warga NU yang menjalani ritual keagamaan dengan menggunakan unsur budaya saja mereka tak segan menghukumi sesat, musyrik, dan label-label negatif lainnya.

Konflik yang muncul akibat ulah pendakwah semacam itu terus terjadi hingga saat ini. Apalagi pada momen-momen politik. Kepentingan politik yang menunggangi para pendakwah model kaku itu pun kian memperuncing ketersinggungan. Mengakibatkan konflik tak berkesudahan.

Pada akhirnya, Indonesia yang disebut sebagai titik singgung budaya agama ini terbukti sering terjadi ketersinggungan antara pelaku kebudayaan dan keagamaan. Penyebab utamanya adalah pemaksaan, diperuncing kepentingan-kepentingan politik kekuasaan.

Tapi jika diakumulasikan, ketersinggungan yang terjadi relatif terkendali. Artinya, bangsa ini masih bisa tegak berdiri hingga hari ini salah satunya karena mampu mempertemukan dan menyatukan budaya dan agama ke dalam berbagai bentuk budaya-budaya baru yang saya menyebutnya sebagai budaya beragama.

Itulah kenapa Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dengan budaya yang sangat beragam ini bisa bertahan tanpa ada konflik berarti dibanding negara-negara Islam lain yang sebagian bahkan sudah tinggal namanya. Faktor inilah yang selalu dipuji oleh bangsa lain di dunia sebagai sebuah prestasi besar bangsa Indonesia. Akibatnya, banyak diantara mereka yang datang dan ingin belajar kepada kita.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *