STAFSUS MILENIAL BIKIN MALU PRESIDEN, ANALISA BU MEGA TERBUKTI

Alifurrahman-Dulu, saat Presiden mengatakan akan ada banyak menteri berusia muda, bahkan ada yang di bawah 25 tahun dan 30 tahun, saya termasuk yang setuju dengan rencana tersebut. Tapi kemudian rencana itu seolah ditentang oleh Bu Mega, Ketum PDIP, dengan sangat kerasnya.

“Bukan merendahkan. Kalau anak muda, pintar, belum pernah menjalankan proses tata pemerintahan negara, itu bisa saja tidak berhasil. Bukan soal qualified atau tidak. Jangan diputar balik,” katanya di suatu kesempatan.

Sebelum hari pelantikan, saya masih berharap rencana penunjukan menteri muda itu tetap dijalankan. Namun setelah melihat manuver politik Gerindra, yang berhasil menyabet dua kursi, akhirnya saya berpikir mungkin karena itulah komposisi kabinet berubah drastis dalam waktu singkat. Sehingga menggeser menteri-menteri muda, dan hanya menyisakan Nadiem Makarim.

Dan saya sangat yakin, sebagian nama atau menteri-menteri muda yang gagal masuk kabinet itu ada di dalam stafsus milenial saat ini. Tak semua, sebagian.

Stafsus milenial ini cukup menarik perhatian. Karena Presiden Jokowi nampaknya sengaja memberi panggung yang begitu besar kepada mereka. Rasanya baru kali ini untuk jabatan setingkat stafsus, harus langsung diumumkan Presiden dan dikenalkan ke publik. Stafsus rasa menteri.

Kita pun bersorak girang.

Tapi kemudian, hari ini kita melihat betapa analisa Bu Mega saat itu, terkait rencana menempatkan anak-anak muda sebagai menteri, kini terbukti. Bahwa untuk menjadi pejabat, tidak cukup hanya modal pintar modal lulusan Amerika dan beasiswa.

Salah seorang stafsus Presiden, Billy Mambrasar harus menghapus tweetnya dan minta maaf pada publik karena menyebut “kubu sebelah megap2.” Tweetnya memang sekelas relawan atau buzzer, tidak menujukkan seorang pejabat publik.

Sejak awal dilantik, Billy ini bisa dibilang yang paling reaktif. Tulisan panjang lebarnya tentang siapa dirinya dan apa prestasinya, dituliskan begitu jelas. Entah untuk membanggakan diri atau sekedar ingin membungkam para pengkritik. Billy juga menyelipkan cerita sedih, terkait hidupnya yang miskin dan berhasil kuliah di Amerika.

Sebenarnya semua catatan tersebut tak sefantastis itu. Kita tentu bisa dengan mudah membantahnya dengan logika sederhana. Tapi ya sudah, saat itu kepada teman-teman penulis Seword saya sarankan untuk tidak terlalu merespon Billy. Beri mereka waktu untuk belajar. Bahwa ada beberapa penulis yang tetap mengeluarkan opini kerasnya, ya saya biarkan. Begitulah Seword.

Apa yang dilakukan Billy ini tidak sesuai kriteria pembantu Presiden. Apalagi mentweet foto meeting, yang katanya bekerja keras untuk membuat konsep pidato Presiden. hahaha Presiden itu pidato di banyak tempat, di banyak kesempatan. Itu adalah hal biasa. Masyarakat tak perlu tahu siapa pembantu Presiden. Sebagai pembantu kalian tak perlu dikenal publik. Karena kalian itu dibayar untuk melakukan semua pekerjaan di belakang layar.

Kalian tau pidato luar biasa soal Game of Thrones yang disampaikan oleh Presiden di Bali? Publik tak peduli dengan konseptornya. Kita hanya tahu bahwa Presiden Jokowi cerdas dalam mendamaikan atau bahkan menyindir negara-negara yang sedang ribut tanpa tujuan yang jelas.

Ya ya. Saya mohon maaf. Lama-lama emosi juga. hahaha udah kita kasi waktu kok malah makin ngelunjak ngga jelas.

Tapi ya apapun itu, intinya ini sudah terjadi. Beruntung mereka ini tak jadi menteri. Hanya stafsus. Yang kalaupun dipecat tak akan membawa dampak besar. Namun untuk menghindari konflik atau perdebatan lagi, mungkin Presiden cukup membiarkan mereka bekerja di luar lingkaran. Maksudnya tidak dilibatkan dalam banyak bahasan. Meski konsekuensinya mereka akan lebih punya banyak waktu untuk keliling bawa-bawa nama Presiden.

Saya pikir para pembisik dan tim yang membentuk stafsus milenial ini harus bertanggung jawab. Mereka salah dalam memilih, membuat malu Presiden. Dan ini fatal sekali. Saya tahu pasti ada tim pembisiknya, karena mustahil Presiden tahu 7 orang anak muda yang sebenarnya secara kiprah tak terlalu fantastis atau terdengar nyaring di publik.

Nah tim pembisik ini sekarang harus memberi arahan atau training. Jangan sampai terus-terusan bersikap kekanak-kanakan. Jangan biarkan Presiden turun tangan dan memberikan arahan secara langsung, atau terus membiarkan mereka melakukan blunder dan memaksa Presiden memecatnya.

Saya yakin betul ada tim pembisik Presiden yang selama ini nampaknya diberi kepercayaan penuh. Karena dari beberapa partai koalisi tidak tahu terkait adanya rencana stafsus milenial ini. Begitulah kura-kura
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *