SANTA CLAUS IS COMING

Mpok Desy-Wkwkw…..ada yang menarik di negeri ini setiap mendekati bulan Desember, namanya phobia Santa! Heheh..begitu penulis membahasakannya. Yup, rutin di setiap menjelang bulan Desember kembali dan kembali ada kepanikan yang sama disetiap tahunnya terhadap Santa dan atribut natal lainnya. Serius panik hingga ada yang merasa perlu mengantisipasi dengan mengeluarkan surat edaran coy!

Yup, inilah kocaknya ditengah semangat toleransi yang kembali digaung ternyata masih ada beredar surat dengan Nomor 243/TR/MOG/EX/XI/2019 dari Manajemen Mal Olympic Garden (MOG) Malang, Jawa Timur, dan ditanda tangani oleh Peptina M selaku Tenancy MOG. Kocak hari gini masih ada surat edaran berisi himbauan untuk tidak mengenakan atribut Natal yang ditujukan pada karyawan, pemilik atau penyewa kios alias tenant. Weleh…weleh…

Nggak mengikari ketika dikonfirmasi pun, Leasing Executive PT Mustika Taman Olympic (Manajemen MOG) Peptina Magdalena membenarkan bahwa surat tersebut resmi diterbitkan oleh pihaknya.

“Emang surat itu dari manajemen yang memberikan edaran, itu memang kemarin per tanggal 25 November, kami kirimkan ke tenant-tenant kami,” kata Peptina, saat dikonfirmasi, Selasa (25/11). Dikutip dari: cnnindonesia.com

Menariknya disini Peptina menampik jika edaran itu disebut bersifat larangan, tetapi ini hanya himbauan. Buat penulis sih nggak ngerti seberapa besar beda arti larangan dan himbauan sampai harus rutin mengeluarkan edaran ini sejak 4 tahun terakhir, yang menurutnya antisipasi aksi sweeping organisasi masyarakat (Ormas) tertentu menjelang Natal. Uupps…kalau sebegitu rutinnya sih sudah bukan himbauan dong, tapi larangan! Heheh…

“Di situpun kami jelaskan, kalau dibaca baik-baik itu kami mengimbau ya, kami garisbawahi kami mengimbau kepada pemilik terutama karyawannya agar tidak menggunakan atribut Natal, tujuannya supaya tidak memaksa karyawannya yang mungkin banyak memiliki keyakinan berbeda dengan pemilik,” kata dia. Dikutip dari: cnnindonesia.com

Nyesek didada sebenarnya karena dizaman sudah secanggih ini, seharusnya tidak lagi ngurusin agama dan mencampur adukan dengan segala persoalan. Apa nggak konyol kebangetan atribut natal sampai harus jadi persoalan besar bak akhir dari segalanya coy! Padahal atribut natal itu hanya ornamen, hanya hiasan seperti kebanyakan barang lainnya.

Santa Claus, topi Santa, pohon cemara dan hiasannya, juga lonceng hanya benda mati. Maaf yah, apa dipikir kalau atribut natal itu berarti beragama Kristen atau Katholik? Duh, kok sempit banget berpikirnya! Mereka hanya budaya yang masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sama persis dengan bedug atau onta yang selalu hadir di saat Lebaran.

Hebatnya Indonesia dalam beragama hingga mabok, melebihi Dubai yang merupakan satu di antara kota terbesar di Uni Emirat Arab (UEA) dengan mayoritas berpenduduk Muslim. Suasana dan sukacita Natal terlihat nyata di Dubai. Beda banget dengan Indonesia yang beragam agamanya tetapi justru kental dengan nuansa Arab dan menghilangkan kemajemukannya.

Ilustrasi asli pengalaman lucu penulis ketika Idul Adha. Kebetulan ini tahun pertama putri penulis bersekolah di sekolah negeri yang kita tahu mayoritas Muslim. Sebagai non-Muslim ini adalah pengalaman baru berpartisipasi dalam Hari Raya Qurban. Nggak ngerti harus bagaimana, namun penulis ingin memberi sedikit berkat untuk membeli hewan kurban. Pengalaman lucu pertama ketika ada yang merasa perlu mengingatkan penulis ini acara Muslim, hingga berulang kali penulis mengatakan tulus ingin ikutan jika diizinkan. Menjadi lucu banget saat penulis mencoba memberikan masukan mengenai olahan hewan qurban. Bagaimana nggak jadi kaget ketika mendapatkan jawaban, “Hewan kami berbeda, tidak seperti hewan lain bla…bla…dan bla…dengan sederet panjang penjelasan.” Heheh…padahal penulis hanya ingin menyarankan untuk tidak menggunakan presto untuk memasak tanpa pendampingan, karena anak belum tentu bisa menggunakan presto, bahkan orangtua saja belum tentu bisa loh. Hehe…

Sebenarnya sih penulis ingin bertanya, hewan kami maksudnya kambing dan sapi sudah beragama ….kah? Ehhmmm…kalau begitu (maaf) dipastikan babi dan anjing bisa ditebak apa agamanya dong. Wkwk…Tapi, tentunya penulis tidak melanjutkan pembicaraan dan memilih untuk ikut alur, meski sempat bertanya, “Maaf sekedar memastikan, hewannya kambing dan sapi khan, soalnya saya agak bingung dengan ungkapan hewan kami”. Heheh…

Cerita penulis hanya ilustrasi bagaimana kita sudah di atau mengkotak-kotakan segalanya. Lihat saja, bahkan ornamen dan hewan saja seakan beragama!

Menurut opini penulis Manajemen MOG dan surat edarannya yang entah itu himbauan atau larangan nggak seharusnya ada. Justru surat edaran itu menjadikan prilaku Ormas semakin menjadi-jadi merasa berhak menghakimi atas dasar bela agama. Padahal apa hak Ormas menghakimi, dan apa yang dibela wong ini soal hiasan atau ornamen natal yang notabene benda mati buatan manusia kok!

Bayangkan bagaimana nantinya ketika Lebaran atau Imlek apakah kita mau masing-masing saja? Apa mesti kita ramai-ramai kelompokan ketupat beragama Islam dan dodol China beragama Budha? Tetapi maaf yah, didalam Natal juga ada ketupat, lalu kita mau bilang ketupat murtad atau atheis? Duh, ribet banget sih hidupnya.

Larut dalam sukacita perayaan agama tertentu nggak berarti mengimani, justru ini ibadah karena Tuhan pasti senang melihat kita saling mengasihi. Sudah seharusnya kita semakin dewasa dalam beragama dan nggak perlu picik atau sempit mencampur adukan, menilai atau bahkan menghakimi agama apapun. Kita junjung toleransi dalam keberagaman karena Indonesia memang berwarna.

Penulis percaya agama nggak pernah bertujuan mempersulit hidup kita. Mengakhiri artikel ini dengan cerita hewan kurban penulis yang berakhir jadi sop, dan dinikmati bersama dalam suasana sukacita tanpa ribet memikirkan ini tadi dibeli dengan uang agama apa, dan siapa saja yang boleh mengolah dan menikmatinya. Salam damai Indonesiaku.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *