“AKU MALU,” KATA TEMAN MUSLIMKU

Jemima Mulyandari-Beberapa tahun belakangan ini negeri kita memang sedang diperhadapkan pada banyak kejadian intoleran, radikalisme dan terorisme yang dilakukan sebuah kaum dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama. Sikap buruk ini bukannya sembuh malah tambah menjadi akhir-akhir ini.

Dari sini muncullah istilah mabok agama. Semua aspek kehidupan ditarik oleh kaum ini ke ranah agama dengan cara seenak mereka sendiri. Yang penting mereka happy, persetan dengan orang lain.

Sampai acara jualan kuepun dipaksa harus beragama juga oleh orang-orang mabok agama ini. Kaum ini cuma mau melayani penjualan kue yang seagama dengan mereka. Mereka sama sekali tak mau memikirkan betapa rusaknya tatanan hidup bersama di Indonesia jika orang lain juga berlaku sama noraknya seperti mereka.

Sekarang mari kita bayangkan jika seandainya yang Non Muslim juga tak mau melakukan transaksi penjualan apapun dengan umat Muslim. Saat ada pembeli langsung ditanya agamamu apa??? Begitu dijawab saya Muslim langsung dipotong kata maaf. “Maaf, kami tidak melayani pembeli Muslim di toko ini.”

Sudah bisa dipastikan kaum ini jugalah nantinya yang paling duluan dan paling keras teriak-teriak playing victim karena tak bisa ngapa-ngapain, mengingat segala aspek kehidupan juga masih banyak yang dikuasai oleh orang-orang yang selama ini mereka hina sebagai kafir.

Jadi fix jika mereka inilah kaum egois yang tak bisa menerima kenyataan bahwa NKRI adalah milik kita bersama. Mereka “lupa” bahwa Indonesia adalah rumah kita bersama yang dihuni oleh bermacam-macam perbedaan termasuk perbedaan SARA.

Kaum ini suka dihormati tapi tak mau menghormati orang lain. Kaum ini suka menghina tapi tak mau dihina. Kaum ini suka dilayani tapi tak mau melayani orang lain.

Mengharamkan dan mengkafirkan orang lain yang dianggap tak sama dengan mereka adalah kelakuan mereka sehari-hari. Tuhan dan surga diklaim sebagai milik mereka sendiri. Benar-benar kaum mengerikan yang mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Kenapa saya katakan mereka sebagai ancaman??? Jawabannya mudah. Sebab NKRI didirikan berdasarkan sumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. BUKAN SATU AGAMA!!! Karena itulah kaum mabok agama jelas menjadi ancaman besar bagi kelangsungan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Dari kejadian demi kejadian intoleran, radikal dan teror yang menimpa negeri kita, kita banyak membaca curhat dan keluh kesah dari teman-teman kita yang tragisnya seagama dengan kaum egois ini.

Intinya banyak teman-teman Muslim yang merasa malu dengan kelakuan buruk bahkan mengerikan dari kaum egois tadi, yang celakanya mengatasnamakan agama yang sama dengan agama yang mereka anut. Berikut ini adalah beberapa contoh kejadiannya.

Pertama.

Kaum ini tak suka, menghalangi bahkan melarang orang-orang yang tak seagama dengan mereka melakukan ibadahnya dengan berbagai macam cara termasuk dengan alasan yang dicari-cari.

Membahas di bagian ini ada banyak contohnya. Peristiwa tragis yang baru saja terjadi adalah saat sejumlah warga menghentikan acara doa leluhur wafatnya Ki Ageng Mangir (ritual Piodalan) di Dusun Mangir Lor, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul yang harusnya digelar dalam 2 sesi yakni dengan prosesi agama Budha dan agama Hindu. Alasan warga menghentikan karena acara tersebut dianggap tidak mengantongi izin dari pihak terkait. Pemangku Padma Buwana, Utiek Suprapti menjelaskan acara tersebut belum sempat sesi kedua digelar, warga bersama polisi datang untuk menghentikan acara tersebut.

Bayangkan, polisi juga ikut andil dalam kejadian intoleran ini. Ckckckck….. Memangnya pengajian yang selama ini diadakan di rumah-rumah warga juga ada ijin sampai ke tingkat provinsi gitu Pak Polisi???

“Upacara kali ini kan ada 2 sesi, yang upacara pertama sudah berjalan, dan sudah hampir selesai saat kami didatangi oleh pihak kepolisian dan warga. Karena di sini (rumah Uti) katanya belum ada izin, baik tempat ibadah maupun izin kegiatan. Terus tadi mobilnya romo sepuh saya (pandita Hindu) digebrog-gebrog,” kata Utiek, Selasa, 12 November 2019.

Sementara itu beberapa bulan sebelumnya, masyarakat Bali juga dibuat geger dengan kebijakan Bupati Lombok Utara yang membuat surat penghentian kegiatan keagamaan dan pembangunan Pura Awan Rinjani Perwata di Bayan.

Jujur saya nyesek melihat kejadian-kejadian seperti ini. Apapun alasannya kaum ini memang sudah sangat keterlaluan egoisnya. Kenapa saya katakan mereka keterlaluan egoisnya??? Begini penjelasannya.

Sudah 10 tahun lebih saya tinggal di Bali. Sebuah pulau cantik bagian dari NKRI yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Selama saya tinggal di Bali, tak pernah saya melihat ada kasus intoleran yang dilakukan umat Hindu pada umat Non Hindu, termasuk kepada umat Islam.

Padahal duniapun tahu jika agama Islamlah yang diseret dan dipakai oleh kaum egois yang mengekslusifkan diri dengan cara mengerikan saat meluluhlantakkan tanah Bali sebanyak dua kali. Ya… kaum teroris ini mengebom Bali dengan mengatasnamakan Tuhan dan agama Islam itu memang fakta yang tak bisa dipungkiri oleh siapapun juga.

Dengan trauma seumur hidup dan kehilangan yang tak bisa digantikan oleh apapun juga ini, nyatanya Bali masih tetap berbesar hati mau menerima seluruh umat Islam di Indonesia bahkan dunia dengan ramah.

Itupun Bali masih harus berhadapan dengan rengekan kaum egois lainnya yang menginginkan wisata halal yang ramah terhadap wisatawan Muslim di Bali. Padahal faktanya Bali sudah teramat sangat ramah terhadap wisatawan Muslim.

Masjid-masjid dan warung-warung Muslim ada banyak tak sulit didapatkan di Bali. Saya juga tak pernah menjumpai ada larangan mempersulit pengajian pada umat Muslim yang tinggal di Bali seperti kejadian di Bantul dan Lombok Utara tadi. Umat Hindu dipersulit sana sini.

Saya bahkan tahu persis saat Hari Raya Nyepi di Bali yang saat itu bertepatan dengan hari Jumat di mana umat Islam harus menunaikan ibadah Jumatan, seluruh umat Islam di Bali tetap diijinkan beribadah di Masjid seperti biasa. Padahal seharusnya di hari itu seluruh Pulau Bali harus dalam keadaan sepi tak boleh ada aktifitas apapun terutama di luar rumah.

Tapi para pecalang Hindu (polisi Hindu) yang seharusnya khusuk melakukan ritual nyepi di rumahnya masing-masing ini rela mengawal dan menjaga saudara-saudara Muslim beribadah Jumatan di Masjid. Luar biasa sekali khan toleransinya.

Tak dapat dipungkiri, umat Muslim dan Non Hindu lainnya hidup bahagia di tanah Bali yang sangat menjunjung toleransi dan harmoni hidup sesama anak Nusantara. Bandingkan dengan nasib tragis umat Hindu di luar Bali. Berbanding terbalik khan.

Atas dasar itulah seorang teman Muslim menuliskan:

“Saya malu! Seumur-umur saya hidup di Bali, di tengah lingkungan Hindu, saya tidak pernah sedetikpun diperlakukan tak baik oleh mereka! Lalu apa alasan umat Islam yang kebetulan saja mayoritas di luar Bali ini melarang umat Hindu membangun tempat ibadatnya bahkan membubarkan upacara Hindu di Jogja??? Justru karena itulah saya, umat Islam yang lama hidup di tengah lingkungan Hindu ini jadi malu semalu malunya! Sumpah saya malu sekali pada umat Hindu Bali yang sudah begitu baik pada saya! Demi Allah! Saya harus lawan orang-orang dzolim penyundal agama saya itu!”

Saya tak bisa berkata-kata lagi saat membaca tulisan malu bercampur luka seperti ini. Sakitnya ikut menusuk ke bagian hatiku yang paling dalam.

Kedua

Diakui atau tidak, kaum egois ini memang lebih suka jika Indonesia jadi NKRI Syariah bahkan khilafah. Pemuka-pemuka agama dengan isi kotbah yang mengerikan justru disanjung dan dipuja. Fatwa-fatwa yang sudah jelas memojokkan bahkan menghina umat lain justru disambut gembira oleh kaum sak karepe dhewe ini.

Nonton film Korea haram, main catur haram, mengucapkan salam agama lain haram, lambang ambulance haram, melihat salib dan patung Yesus haram. Yang ini haram yang itu haram seenak udelnya sendiri.

Fenomena semacam ini justru jadi kehebohan, pergunjingan dan bahan tertawaan bagi agama orang itu sendiri. Ujung-ujungnya ya jadi malu sendiri. Hingga suatu saat saya membaca sebuah pernyataan yang ditulis oleh seorang teman saya.

“ Sebagai Muslim, saya malu mendengar ceramah-ceramah Somad. Dan karena dia menyandang label ustad, seolah orang ini mewakili ajaran agama yang kita yakini. Saya bahkan sampai meminta maaf pada teman-teman Kristen dan Katolik untuk kasus jin kapir, saking malu dan nggak enaknya. Ya gimana, teman saya banyak yang kapir dan baik-baik. Santun, sopan, jauhlah dibanding kader FPI, HTI dan sejenisnya. Kayak langit dan sumur. Tapi sekarang, kita dibuat malu lagi. Coba bayangkan, gimana perasaanmu saat membaca komentar “kalau Muslim masuk gereja bawa nasi tumpeng hukumnya haram, kalau bawa bom halal gitu? Mohon maaf atas semua ketersinggungan dan ucapan yang tidak menyenangkan. Mohon maaf atas ucapan dan kelakuan pemuka agama saya. Dan mulai hari ini saya menyatakan diri, menganut ajaran Islam yang berbeda dengan Ustad Somad atau siapapun yang membenarkannya. Ajaran Islam yang saya tahu dan yakini, tidak seperti itu.”

Sampai di bagian ini air mataku mengalir. Saya bisa merasakan apa yang teman-teman Muslimku rasakan saat ini.

Akhirnya saya bisa mengambil kesimpulan. Sampai detik ini, dengan keberadaan teman-teman Muslim saya yang baik, sopan, open minded dan toleran, saya masih tetap berkeyakinan bahwa Islam itu baik adanya.

Buat saudara-saudara Muslimku di manapun kalian berada. Jangan pernah menyerah dengan keadaan ini. Tak perlu malu yang berkepanjangan. Sebab kalian tidak sama dengan mereka, kaum egois sok suci yang merasa memegang kunci surga. Justru kalian harus makin bersemangat menunjukkan Islam rahmatan ‘lil alamin itu seperti apa. Islam yang ramah bukan marah. Islam yang merangkul bukan memukul.

Dan yakinlah selalu, sekalipun kami minoritas yang sering dipandang sebelah mata, tapi kami akan selalu ada siap sedia bersama kalian menyingsingkan lengan bahu membahu menjaga NKRI. Sebab Indonesia adalah rumah kita bersama. Kita Pancasila. Kita Indonesia. Hiduplah Indonesia Raya.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *