CUCI TANGAN YANG MEMBOSANKAN! SIAPA BILANG TERORIS TAK BERAGAMA?

Dhian Pras-Paska bom bunuh diri Mapolresta Medan, Rabu (13/11/2019) yang menewaskan RMN sang pelaku dan melukai enam orang yang terdiri dari empat anggota polisi dan dua warga sipil terluka, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Utara menegaskan pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Rabu (13/11), tidak memiliki agama.

Sebab, kata MUI Sumut, apa pun agamanya tidak ada yang mengajarkan perbuatan jahat termasuk bunuh diri dan sampai melukai orang lain.

“Terkait dengan itu, MUI Sumut berharap pihak terkait tidak memberikan komentar apa pun tentang pelaku dan motifnya sebelum semua itu terbukti nyata,” ujar Sekretaris Umum MUI Sumut, Ardiansyah di Medan, Rabu.

https://m.republika.co.id/amp/q0wbn1348

Selalu merasa aneh bila dalam setiap peristiwa bom di tanah air tercinta ini seketika ramai-ramai menolak bahwa teroris itu tidak beragama, teroris itu bukan bagian dari agama Islam. Padahal jelas-jelas pengebom itu beragama Islam. Apalagi MUI mestinya jujur saja, tidak perlu berpura-pura tidak tau bahwa memang ada masalah besar yang terkait dengan kekerasan atas nama agama.

Memang paling mudah mencuci tangan dalam setiap peristiwa teror bom. Sama mudahnya dengan kita yang bisa berkelit bahwa teroris itu bego, aku tidak bego. Aku bukan bagian dari mereka. Teroris itu hijrahnya kejauhan hingga nyasar. Banyak alasan lain sebagai bentuk nyaman menghindar dari teror yang mengerikan itu.

Di tulisan sebelumnya https://seword.com/umum/intoleransi-dakwah-kebencian-dan-budaya-islam-IHBKA1ubEY bahwa jangan pernah tutup mata dan pura-pura bahwa ada masalah besar yang terkait dengan kekerasan atas nama agama. Kekerasan ringan secara verbal misalnya anak TK yang sudah paham mengolok-olok temannya dengan sebutan kafir. Sedangkan kekerasan ekstrim tentu saja memerangi orang kafir lewat bom.

Jadi lucu bila akhirnya MUI Sumut mengatakan bahwa teroris yang meledakkan bom kemarin itu tidak beragama. Seolah MUI menutup mata, lari dari kenyataan, cuci tangan dan tidak mau tanggung jawab atas peristiwa di atas. Pak MUI ayo buka mata teroris itu beragama Islam.

Jangan pernah bilang yang namanya teroris itu tidak beragama. Seolah-olah yang bersangkutan itu hanya iseng-iseng saja membawa bom untuk melukai orang lain yang diyakini itu adalah musuhnya. Masa iya Pak MUI tidak tau bahwa teroris yang membawa bom dan meledak itu yakin apa yang dilakukan akan membawa keselamatan bagi dirinya dan kelompoknya. Itu adalah panggilan jihad bagi dirinya! Ada hadiah besar menanti ‘disana’ atas jalan yang dipilihnya walaupun harus mengorbankan dirinya dan keluarganya.

Dengan mengatakan bahwa teroris tidak beragama seolah MUI Sumut tidak ada niat memperbaiki keadaan mengapa seorang muslim bisa tenggelam dalam kegelapan terorisme sampai meledakkan dirinya dengan bom. Sudah tentu hal itu tidak lahir secara tiba-tiba, ada proses panjang hingga seseorang dengan keyakinan kuat mau meledakkan diri bersama bom yang dibawanya. Bagaimana yang bersangkutan tak ada rasa galau, cemas apalagi takut menyongsong maut bila tidak punya keyakinan kuat bahwa jalan yang dipilih ini adalah jalan keselamatan bagi dirinya.

Banyak pihak yang harus bertanggung jawab di jalan panjang seseorang berubah menjadi teroris. Ada proses dan tahapannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan mantan teroris di kamp pelatihan di Jalin, Jantho, Aceh, Yudi Zulfahri.

Yudi, yang pernah belajar pada Aman Abdurrahman, mengaku saat bergabung dengan kelompok Jalin pada 2010 karena terpapar paham serupa. Kelompok teroris yang dia gabung, sebutnya, merupakan babak baru terorisme di Indonesia

Yudi sendiri membeberkan penyebab seseorang menjadi radikal. Kelompok radikalisme ini muncul karena mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan realitas sekarang.

“Radikalisme atau ekstremisme ini adalah orang yang memahami agama secara ini monotafsir, cuma satu tafsir dia pakai terus dia menjadi pribadi yang intoleran, semua orang dianggap salah dan sesat di luar dia,” kata Yudi kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (6/11/2019).

https://m.detik.com/news/berita/d-4774108/eks-teroris-aceh-bicara-tahapan-orang-jadi-teroris-radikal-takfiri-teror

Jadi jangan pernah bilang teroris itu tidak beragama. Mereka beragama! Dan taukah Pak MUI seorang muslim berubah menjadi teroris bisa jadi lahir dari abainya lingkungan atas tanda-tanda kekerasan di sekitar kita, bagaimana bebasnya ceramah/dakwah kebencian baik di mimbar mesjid ataupun di sosial media? Dipupuknya rasa kebencian luar biasa diyakini utuh hingga menjadi intoleran dan berubah menjadi radikal.

Jadi mestinya walaupun tidak enak, tidak nyaman, tapi jujurlah mengakui bahwa terorisme yang dilakukan kelompok muslim tertentu itu lahir dari gerakan Islam sendiri. Pengakuan ini menjadi sangat penting karena dengan begitu kita mau untuk mendiagnosa dan mengobati bersama-sama. Dan hal ini bukan hanya berlaku bagi MUI Sumut tapi bagi kita semua yang beragama Islam.

Sudah tentu negara pun harus mengakui hal ini. Jangan sampai harapan membasmi teroris itu ditimpakan hanya kepada Densus 88, atau aparat anti-teror untuk membasmi habis semua teroris, hehehe ngimpi kali yeee.

sumber: seword.
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *