PRABOWO BAKAL DIANGKAT MENTERI. TAPI KADER GERINDRA SELALU BACOTIN JOKOWI.

Bani-Kita pikir bahwa Prabowo menggait Jokowi adalah untuk persatuan. Memberi kesempatan untuk membuktikan bahwa karya akan dicetak demi bangsa kita maju sejahtera.

Kita pikir, bahwa Gerindra akan melebur menurunkan tensi politik. Menjauhi kalimat cebong kampret. Karena yang ada cuma kadrun.

Ternyata, dari beragam analisa itu memang hanya sebatas teori semata.

Hari ini Pakai Kemeja Putih, Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo Temui Jokowi

Prabowo datang bersama Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Edhy Prabowo untuk menemui Presiden Joko Widodo. Prabowo dan Edy kompak mengenakan kemeja putih lengan panjang

Digadang-gadang keduanya berpotensi menjadi menteri. Bisa 1 atau keduanya.,

Prabowo bisa menjadi menteri pertahanan, sedangkan Edy bisa jadi menteri pertanian.

Permasalan utama bukan terletak pada sisi kelam Prabowo sebagaimana tudingan simpatisan Nasdem difacebook yang viral. Bukan juga pada tudingan para SJW dan para golputer soal kasus HAM.

Bagi penulis, yang menjadi permasalahan sebenarnya cuma 1. Apa alasan Jokowi harus merangkul Prabowo.

Kalimat ini jelas, sebuah pertanyaan kokoh yang akan ada jawabannya. Jika dipikir secara logis, maka kalimat pembuka pada artikel ini akan jadi garis besarnya. Persatuan.

Kalimat itu jelas, jelas melekat dan wajib ditempel dijidat semuanya. Jika persatuan tercipta, maka bangsa ini akan maju selaras. Tidak ada yang kontra, semua mendukung dengan penuh percaya bahwa bangsa akan jadi lebih baik.

Selama ini kita punya masalah, ketika Eksekutif dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi ingin membuat gebrakan baru. Pihak yang kontra akan selalu melawan, Gerindra beserta jajarannya di parlemen (Legislatif) akan memperlambat gerak, dan terus melakukan beragam upaya untuk menggagalkan rencana itu.

Oposisi terus mencibir, mulut Fadli Zon terlalu lantih mengkritik alias nyinyir. Lautan massa dijadikan sebagai tameng ancaman untuk terus menekan pemerintah. Alhasil, pemerintahan menjadi siput, banyak gerak yang dibatasi tidak ada keselarasan antara para elite politik.

Lagi-lagi, rakyat jadi korbannya.

Dengan alasan persatuan, satu-satunya alasan yang paling logis bahwa kita wajib berlapang dada menerima Prabowo Subianto, masuk ke koalisi Jokowi.

Kita wajar marah sebenarnya karena kitalah yang berjuang keras, seluruh rakyat Indonesia, bahkan kita distempel dungu dalam kolam oleh si pintar Rocky, belum sampai disitu, kita pun bersuara melawan kampret dan kadrun saat kampanye. Kita semua ngotot dan adu benar dengan mereka supaya pancasila selamat, bagi kita, kebhinekaan tidak bisa digadaikan dengan paham lain yang kental dengan masalah SARA.

Tapi kita harus menahan emosi ini, karena kita harus beri kesempatan. Karena dengan digaitnya Prabowo masuk artinya ada jaminan persatuan.

Tapi berhentilah berkata soal persatuan itu, dikala mulut Dahnil dan Andre Rosadie terus ngebacot

Sikap kader Gerindra ini ternyata tidak ada perubahannya, auto nyinyir kuadrat tetap mereka lontarkan dengan nyaring. Andre ngeluh atas keterlambatan Jokowi saat pelantikan. Begitupula dengan Dahnil Anzar sebagai jubir Prabowo dalam channel Narasi TV kemarin. Sama-sama nyinyir soal keterlambatan,

Ada kalimat, diam itu emas. Diam itu emas maksudnya adalah, jika belum tau kebenarannya, maka lebih baik diam sebelum mempermalukan diri sendiri.

Dahnil nyinyir soal bangsa ini punya budaya terlambat, malu sama bangsa lain. Mulut Dahnil mungkin bisa berkecap bebas, tapi pada faktanya. alasan Jokowi terlambat utamanya juga karena beliau bertemu dengan perwakilan bangsa lain itu di Istana.

Benar memang jadwal sudah ditentukan, benar memang “kritikannya” soal keterlambatan, tapi tidak benar jika tudingan itu bikin malu bangsa Indonesia ke bangsa lain, ini sudah fitnah. Fitnah yang gampang keluar dari mulut kubu Prabowo.

Persoalan kali ini mungkin terlihat sepele, tapi belajar dari kasus ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mulut oposisi itu memang lantih, dan susah untuk berteman dalam kubu yang bukan kawannya. Sepertinya sangat sulit bagi kader Gerindra untuk melebur bersatu, sepertinya mereka lebih ingin mengkritik dan mengadu domba bangsa ini untuk terus adu cebong dan kampret.

Jika Prabowo tak bisa mengatur bawahannya sendiri, buat apa dia berbaju putih? Jika persatuan tidak bisa didapat dari koalisi ini, buat apa Prabowo jadi menteri? Begitulah kura-kura.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *