“MARI LIMPAHKAN SEMUA BEBAN PADA JOKOWI!”

Eko Wibowo-Menjelang pelantikannya sebagai Presiden pada masa jabatan keduanya, Pak Jokowi dihantam bertubi-tubi persoalan. Yang seolah menempatkannya pada posisi yang seorang diri. Sendiri terpojokkan. Sendiri semakin dipersalahkan.

Tentu aneh ketika hal itu menimpa beliau di saat setelah memenangkan sebuah pertarungan. Sebagai pemenang, Pak Jokowi malah mengalami posisi sulit.

Sewajarnya saja bila posisi sulit itu diakibatkan karena ulah para lawan-lawannya. Para penentangnya. Para penentang kebijakannya.

Tapi ini tidak! Seakan seragam, semua punya andil dalam mempersulit posisi Pak Jokowi. Posisi sulit yang selalu dipersalahkan. Posisi yang sebelumnya hanya menjadi kenikmatan semu bagi mereka para kaum Salawi. Kaum “semua salah Jokowi”.

Untuk mereka ini, dengan sifat alamiahnya itu, sepertinya tak perlu dibahas lagi. Karena juga akan terasa sangat sulit bagi mereka untuk mengerti dan memahami siapa dan bagaimana Pak Jokowi yang sebenarnya. Jadi, ya biarkan saja!

Yang terasa menyesakkan adalah ketika posisi sulit Pak Jokowi itu dikarenakan oleh sikap para rekan pendukungnya. Entah sengaja atau tidak?

Mundur sejenak, Pak Jokowi mulai dibuat harus terbebani saat pemilihan wakil presiden. Waktu itu ada dua pilihan. Akhirnya seperti diketahui, Kyai Ma’ruf Amin yang menjadi pendamping Pak Jokowi.

Setelah menang, beban Pak Jokowi tetap belum berkurang. Babak baru ini adalah kompensasi atas dukungan yang sebelumnya telah mereka berikan. Return atas investasi dalam mendukung dan memenangkan Pak Jokowi ditagih. Yaitu jatah jabatan.

Friksi mulai nampak ketika para petinggi parpol pendukung–minus PDIP–mengadakan pertemuan. Diperkirakan pertemuan tersebut terkait dengan jatah jabatan dan kursi kabinet.

Menjadi lebih panas ketika Pak Jokowi bertemu dengan Prabowo. Yang dilanjutkan juga dengan pertemuan Bu Mega dengan Prabowo. Yang memanaskan adalah pernyataan Pak Prabowo yang bisa saja membantu Pak Jokowi.

Panasnya situasi koalisi semakin terlihat saat di waktu yang bersamaan, ketika Bu Mega makan-makan dengan Prabowo, Surya Paloh bertemu dengan Anies Baswedan. Perseteruan ini masih terlihat saat Bu Mega tak bersalaman dengan Surya Paloh baru-baru ini.

Beban Pak Jokowi berlanjut dan bertambah ketika DPR merevisi UU KPK. Ditambah dengan akan disahkannya RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Minerba, dan RUU Pemasyarakatan.

Demonstrasi penolakan terjadi. Oleh mahasiswa. Juga anak-anak SMK(?). Walaupun pada kenyataannya yang di demo adalah DPR, namun Presiden sebagai eksekutif tetap penanggung beban yang paling berat. Terbukti untuk UU KPK yang baru, berlaku maupun tidaknya UU revisi tersebut tergantung dari dikeluarkannya atau tidak Perppu KPK oleh Presiden Jokowi.

Kesemuanya itu membuat beban Pak Jokowi menjadi sangat berat. Bahkan serasa sendirian.

Lalu, apa yang membuat itu semua bisa terjadi? Yang membuat seakan mereka semuanya bersikap “seenaknya” pada Pak Jokowi?

Yang pertama tentu saja adanya perbedaan kepentingan. Keinginan Pak Jokowi untuk menjadi politisi semata-mata demi pengabdian. Tidak ada kepentingan lainnya, selain tentu saja kepentingan negara. Karena itulah, Pak Jokowi selalu menempatkan dirinya sebagai seorang negarawan.

Kepentingan Pak Jokowi yang adalah demi negara itu, dapat terlihat dari apa yang telah dilakukannya selama periode pertamanya. Dan dengan segala resikonya, apa yang dilakukannya, semua hanya demi kepentingan jangka panjang Indonesia dalam bernegara.

Berbeda dengan mereka para partai politik itu. Mereka politisi saja. Tulen. Hitung-hitungannya hanya kepentingan partai dan karir politik anggotanya. Hanya menang-kalah dan dapat apa. Itu saja dan tidak lebih.

Mereka melihat Pak Jokowi hanya sebagai bagian dari kepentingan jangka pendeknya saja. Kepentingan yang membawa kemenangan dan posisi jabatan. Kepentingan jangka pendek yang menjadi penyambung dan jalan bagi kepentingan jangka panjang mereka, yaitu kekuasaan dan tetap eksis.

Kedua, Pak Jokowi pada kenyataannya bukanlah berasal dari elit. Baik elit partai maupun kalangan “tinggi” lainnya. Pengurus partai pun bukan. Kader biasa saja. Juga hanya rakyat biasa.

Kenyataan ini telah membuat Pak Jokowi tanpa beking kuat di belakangnya. Pak Jokowi adalah pejuang tunggal. Sehingga para penikmat oligarki itu terkesan begitu leluasa dalam “mempermainkan” Pak Jokowi. Membuat “mari limpahkan semua beban pada Jokowi!”

Akhirnya, dua keadaan itu–perbedaan kepentingan dan Pak Jokowi yang bukan elit–lah yang telah membuat Pak Jokowi begitu harus menerima beban berat dalam menjalankan perannya sebagai Presiden. Menjadi terlalu berat untuk bergerak lincah. Menjadi tersandera oleh kepentingan para parpol pendukungnya.

Tapiā€¦, Pak Jokowi masih punya rakyat! Yakinlah!!!….

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *