DEMONSTRASI MAHASISWA: ‘DIJEBAK PERUSAHAAN BUS SAAT PERGI KE LOKASI HINGGA DUKUNGAN DARI WARGA’

Gelombang aksi mahasiswa di sejumlah kota mengklaim mengawal demokrasi demi keadilan bagi seluruh kelompok masyarakat. Bersama gerakan sipil lainnya, beragam aksi mereka menjadi salah satu isu utama publik.

Mereka punya tujuh tuntutan terutama pembatalan rancangan undang undang bermasalah, termasuk UU KPK yang telah disahkan.

Aksi ini kini mendesak Presiden Jokowi mengeluarkan perppu untuk membatalkan UU KPK. Sebelumnya, pemerintah dan DPR juga sepakat menunda sejumlah RUU yang kontroversial, termasuk RKUHP.

Di sisi lain, polisi merazia dan menangkap sejumlah mahasiswa. Dua peserta unjuk rasa mahasiswa di Kendari meninggal dunia. Sementara ratusan mahasiswa dan puluhan polisi disebut terluka akibat bentrokan.

Menurut pengamat politik, demonstrasi mahasiswa kali ini penuh kejutan: kreatif, cair, tapi tetap serius menuntut perubahan. Gelombang besar unjuk rasa mereka difasilitasi media sosial.

Berikut adalah kisah personal sejumlah mahasiswa dari beberapa kota tentang mengapa dan bagaimana mereka ‘turun ke jalan’.

‘Diputar-putar sopir bus’

Perjalanan 250 mahasiswa dari Semarang ke Jakarta untuk bergabung dalam aksi demonstrasi 24 September lalu tak mulus.

Mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang (Unes) dan Universitas Diponegoro mengaku berkali-kali mendapat tekanan, mulai dari kampus, razia kendaraan sampai sopir memulangkan mereka kembali ke kotanya.

Setidaknya itu yang dirasakan Saiful Muhjab, presiden mahasiswa Unes.

Sebelum berangkat, kata Saiful, ia harus menghadapi koleganya sendiri dari unit Resimen Mahasiswa (Menwa).

“Ada laporan ke birokrasi kampus, kemudian Menwa menyisir anak-anak yang berangkat siapa saja,” katanya kepada BBC Indonesia.

Tapi negosiasi terus dilakukan. Jadwal berangkat ke Jakarta pukul 22.00 WIB menggunakan lima bus akhirnya ditunda hingga 00.30 WIB.

“Sampai di Tegal. Tadinya mau lewat tol, tapi juga dicegat oleh kepolisian dari pihak polres. Akhirnya kita tak lewat tol,” kata Saiful.

Tapi lewat jalur biasa bukan berarti tanpa halangan. Pukul 03.00 dini hari, bus mereka dirazia aparat di depan kantor Polres Brebes.

SIM dan STNK dipegang sopir bus mereka. Tiga bus dipersilakan jalan. Tapi mahasiswa kompak, harus sampai Jakarta tanpa satu pun balik ke Semarang.

Akhirnya pukul 9 pagi, mahasiswa memutuskan untuk mengganti Perusahaan Otobus (PO) bus.

“Akhirnya rugi ongkos juga. Karena kita patungan Rp100.000 per mahasiwa,” lanjut Saiful.

Setelah mendapat bus baru dengan pelunasan uang sebesar Rp37 juta hasil patungan dan tambahan uang organisasi, mereka pun melesat menuju Jakarta.

“Sampai akhirnya di perjalanan itu, sudah sampai di Tol Cirebon. Ternyata, kita yang lagi lengah, lagi ngantuk, saya juga tidur di situ. Anak-anak mulai ramai di grup, kok arahnya balik lagi ke Semarang,” kata Saiful.

Lalu ia bangkit dari kursi, melempar tempat sampah ke arah depan sopir bus. “Terus akhirnya aku teriak, ambil hape rekam semuanya, kabarkan ke semua bus, kita dijebak. Kita disabotase,” cerita Saiful.

Singkat cerita, Saiful kembali bernegosiasi dengan sopir di area peristirahatan jalan tol.

“Ternyata ada tekanan langsung dari pimpinan (perusahaan bus). Dan bironya itu, parahnya (diancam) mau dibekukan PO-nya oleh kepolisian,” klaimnya.

Setelah bernegosiasi, akhirnya sopir bus mengalah. Mereka mengantar mahasiswa dari Semarang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, Selasa sore (24/09), aksi mahasiswa di halaman gedung DPR sudah tidak terkendali. Meriam air dan gas air mata dimuntahkan ke arah pengunjuk rasa.

Sebanyak 250 mahasiswa rombongan dari Semarang akhirnya bertahan di kampus Universitas Negeri Jakarta hingga malam. Mereka melakukan doa bersama untuk kolega mereka yang menjadi korban dalam aksi unjuk rasa.

‘Didukung masyarakat’

Mahasiswa dari Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Sayid Ferhat bersama ribuan mahasiswa di Kalimantan Timur melakukan aksi jalan kaki dari depan Masjid Islamic Center ke kantor DPRD Kaltim.

“Dari setiap titik itu, di pinggir jalan itu ada dukungan dari ibu-ibu, anak-anak, bahkan ada orang yang tiba-tiba kasih uang, ‘Nak buat beli minum, buat beli roti’,” cerita Sayid tentang unjuk rasa mereka 23 September lalu.

Dalam unjuk rasa ini, Sayid bersama ribuan mahasiswa di Kaltim terlibat aksi dorong dengan aparat polisi pasca menggeruduk gedung DPRD setempat. Aksi kemudian berakhir dengan semprotan meriam air dan gas air mata.

“Masyarakat itu betul-betul mendukung. Siap kasih rumahnya ketika ada tembakan gas air mata dan ketika kita sesak napas. Dengan sangat luar biasa. Buat kita masuk. Atur napas. Sediakan minuman,” lanjut Sayid.

“Semua masyarakat itu mendukung. Jadi, kami tak didanai sama siapa-siapa. Kepentingan satu: Indonesia adil, makmur dan sejahtera,” tambahnya.

Sayid mengaku awal terlibat dalam aksi, karena resah dengan sejumlah rancangan undang undang bermasalah yang akan disahkan DPR. Menurutnya, keresahan ini karena ia tak melihat adanya keterlibatan masyarakat dalam pembuatan RUU.

Ia kemudian diskusikan bersama teman-teman kampus, sekaligus membagikan ke media sosial.

“Tapi untuk propaganda paling besar jelas itu lewat media sosial. Karena baru share saja itu bisa sampai ratusan orang yang baca dan lihat,” kata Sayid melalui sambungan telepon, Jumat (27/09).

Salah satu yang ia soroti adalah isu pasal penghinaan presiden dalam RKUHP. Baginya, ini seperti memukul mundur reformasi ke Orde Baru.

“Kan orang hebat itu dibangun karena kritik, kalau sampai mengkritik, lalu ditangkap. Sama saja seperti Orde Baru. Kita kembali. Ke rezim Orde Baru,” katanya.

Kebersamaan dan solidaritas adalah pengalaman tak ternilai selama aksi berlangsung. Hal ini Sayid alami saat bentrok terjadi.

“Mau kami ditembak gas air mata, mau ditembak water canon, mau kita dipukul pakai pentungan, tidak pernah mundur. Tangannya tetap erat bersimpul, kakinya tetap tegak berdiri,” katanya.

Saat barisan mulai goyah karena tembakan air dan gas air mata, massa aksi terberai tanpa lupa dengan mereka yang terjatuh ke aspal.

“Kami balik, mau sekabut apa pun gas air mata kami balik, sebesar apa pun hujanan batu, kami balik gotong teman-teman kami. Dan itu yang benar-benar persatuan yang luar biasa,” lanjut Sayid.

#GejayanMemanggil

Sopyan adalah satu dari ribuan peserta aksi #GejayanMemanggil di Yogyakarta, 23 September lalu. Itu adalah unjuk rasa ketiga sepanjang hidup mahasiswa strata dua tersebut.

Meski lahir dari keluarga yang disebutnya tidak melek politik, Sopyan merasa dirinya perlu turun ke jalan untuk menyuarakan harapan publik.

Sopyan berkata, jika aksi seperti #GejayanMemanggil tak terjadi, ia dan generasi mendatang bakal menjadi orang-orang yang terdampak pasal-pasal karet.

“Walau bukan orang hukum, saya sempat baca rancangan undang-undangnya. Saya juga terprovokasi media sosial,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

“Lalu saya lihat ada tagar #gejayanmemanggil dan seruan untuk turun ke jalan. Dari situ, aku putuskan ikut menumpahkan kecemasan itu,” tuturnya.

Dan sesampainya di Gejayan, Senin pekan lalu, Sopyan melihat riuh rendah kerumuman orang yang belum pernah dilihatnya dalam sebuah unjuk rasa di Jogja.

Sopyan pun kagum pada gerakan yang diikutinya, “santun dan tidak anarkis”.

“Saya merinding. Mereka membawa poster yang isinya lebih humanis, tanpa kesan provokasi. Baru kali ini saya lihat poster demonstrasi lucu tapi kena subtansi,” kata Sopyan.

Aksi #GejayanMemanggil diinisiasi Aliansi Rakyat Bergerak. Mereka bekerja secara kolektif, tanpa ketua atau koordinator. Gerakan ini memiliki lebih dari 17.000 pengikut di Instagram. Tak hanya aksi turun ke jalan, mereka juga mempublikasikan hasil kajian atas serangkaian RUU yang mereka nilai kontroversial.

Nailendra, juru bicara Aliansi Rakyat Bergerak, menyebut aksi mereka berawal dari diskusi kantin kampus. Empat hari setelahnya, aksi turun ke jalan itu menutup Gejayan, salah satu kawasan padat di Yogyakarta bagian utara.

#GejayanMemanggil dihadiri ribuan orang, tak cuma mahasiswa, tapi juga pelajar dan kalangan pekerja. “Kami tahu kelompok apa saja yang ada dalam gerakan ini, tapi di depan publik, kami tidak pernah menyebut siapa mereka.”

“Kami tidak ingin terikat kepentingan apa pun dan menghindari penokohan dalam gerakan,” tutur Nailendra.

Pada 23 September lalu, mayoritas peserta aksi #GejayanMemanggil tak mengenakan jaket almamater. Tak terlihat pula bendera organisasi mahasiswa, baik yang berbasis keagamaan maupun daerah.

Pada 30 September ini, mereka berencana kembali turun ke jalan untuk menyampaikan setidaknya tujuh tuntutan kepada DPR dan pemerintah.

Mereka mendesak pembahasan ulang RKUHP, merevisi UU KPK yang baru disahkan dan menggagalkan pelemahan komisi antirasuah, serta mengadili setiap pihak yang merusak lingkungan. DPR dan pemerintah bersikukuh undang-undang baru KPK tidak bertujuan melemahkan lembaga itu.

Mereka juga menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan dan RUU Pertanahan. #GejayanMemanggil mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan penghentian kriminalisasi aktivis.

“Kami berharap ini tetap jadi aksi damai. Kami berdoa supaya Senin nanti tidak ada bentrok seperti yang terjadi di daerah lain,” kata Nailendra.

Penuh kejutan

Peneliti Politik dari UGM, Amalinda Savirani menilai demonstrasi mahasiswa yang bergelombang belakangan ini muncul dikarenakan kesadaran bersama pada isu utama: korupsi.

Isu ini disebutnya menjadi pengikat bagi kelompok mahasiswa di pelbagai kota di Indonesia.

Selain itu, isu seperti RKUHP juga mengikat mahasiswa untuk berunjuk rasa di pelbagai kota.

“Mereka akan beranjak ke dunia kerja dan harus kerja lembur ke malam. Dan RKUHP bilang akan menghukum sebagai pelanggaran dan denda,” katanya.

Linda menilai unjuk rasa mahasiswa di sejumlah kota telah mempengaruhi para pengambil keputusan. Alasannya, sejumlah RUU batal disahkan.

Linda menggambarkan gelombang unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa sebagai sesuatu yang ‘mengejutkan’. Sebab, dalam waktu singkat, mereka mampu berkumpul dan bergerak bersama.

“Media sosial membuat konsolidasi berlangsung cepat dan kemudian bisa mengumpulkan banyak simpatisan,” kata Linda. Ia juga bilang kalau simpul unjuk rasa juga berasal dari sejumlah tagar, antara lain #semuabisakena.

Menurut Linda, kemajuan teknologi dan informasi membawa banyak perubahan terhadap gaya demonstrasi mahasiswa saat ini. Dulu, kata dia, konsolidasi massa kerap dilakukan secara tatap muka.

Selain itu, unsur senioritas masih sangat kuat pengaruhnya. Beda dengan mahasiswa saat ini yang lebih terikat pada isu bersama.

“Kalau dulu, ikut senior. Ikut senior itu harus serius. Bikin poster tidak boleh nyeleneh, posternya dikontrol sekali,” kata Linda.

Linda melanjutkan, peran organisasi ekstra kampus pun kini mulai menipis dalam konsolidasi mahasiswa.

“Mereka tidak peduli siapa yang pimpin. GMNI, PMII, atau apa itu enggak terlalu menjadi penting karena memang gerakannya berasal dari kutub-kutub kecil yang kemudian menjadi gelombang besar,” katanya.

Linda melihat aksi unjuk rasa mahasiswa saat ini membuka saluran berekspresi melalui banyak hal, seperti pembuatan poster-poster yang bisa menarik perhatian publik.

“Menurut saya ini tak apa-apa, karena bisa saling me-redefinisi apa itu aksi politik?

“Dulu aksi politik kencang banget, semuanya keras dan galak. Sekarang tetap dapat intinya, bahwa kami ingin perbaikan, meski dengan cara yang kreatif,” tuturnya.
sumber: bbc
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *