KPAI DALAM PENGARUH TALIBAN APA PREMAN?

Alifurrahman-Tuduhan KPAI kepada PB Djarum, yang dianggap telah mengeksploitasi anak-anak, adalah tuduhan yang sangat serius. Lebih dari itu, meminta pihak PB Djarum untuk menghentikan audisi adalah sebuah penghianatan terhadap cita-cita bangsa ini. Cita-cita gotong royong untuk Indonesia raya.

Audisi beasiswa bulutangkis dari PB Djarum ini sudah berlangsung lama, dan terbukti berhasil melahirkan atlet-atlet terbaik Indonesia. sebut saja Lim Swie King, Kartono, Heryanto, Christian Hadinata, Ardy B Wiranata, Alan Budikusuma, Eddy Hartono-Gunawan, Haryanto Arbi, Bambang Suprianto, Denny Kantono-Antonius, Sigit Budiarto, Chandra Wijaya, Tri Kusharyanto-Minarti Timur, Maria Kristin Yulianti, Maria Febe-Dinoysius Hayom, Tantowi Ahmad, Mohammad Ahsan, Praveen Jordan-Debby Susanto dan terakhir si minion, Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Nama-nama di atas adalah atlet dengan sederet prestasi gemilang yang kerap mewakili Indonesia di berbagai pertandingan. Dan mereka, tidak lahir dan langsung bisa main badminton. Bukan hari ini berlatih, besok langsung juara. Mereka semua, atlet-atlet berprestasi itu melalui proses seleksi dan pelatihan selama bertahun-tahun.

Lalu hari ini, semua proses dan tahapan yang telah dilakukan sejak dulu, ingin dihentikan karena tuduhan terjadi eksploitasi anak. Mungkin KPAI berpikir, atlet itu bisa berlatih sejak usia 17 tahun. Tidak harus dari anak-anak.

Tapi KPAI ini juga sudah ada sejak lama. Bukan baru dibentuk kemarin dan langsung meminta agar PB Djarum menghentikan audisinya. Untuk itu, biasanya, yang tiba-tiba bersikap lain padahal sebelumnya baik-baik saja ini pasti ada sebabnya. Sementara sejarah terus berulang, alasan seseorang melakukan sesuatu selalu karena dua hal, ideologi atau materi.

Sehingga mohon maaf kalau di artikel ini saya menulis judul bertanya, karena benar-benar ingin bertanya. KPAI ini taliban apa preman?

Memang ini soal kecurigaan. Dan mungkin juga subjektif. Tapi silahkan dipikir-pikir, kira-kira apa yang membuat KPAI tiba-tiba menuduh PB Djarum lakukan eksploitasi?

Sudah menjadi rahasia umum kalau lembaga atau ormas-ormas, kadang bertindak seperti preman. Memungut uang untuk satu dua kebijakan, ataupun menyetujui sebuah acara dan perhelatan.

Maka ketika KPAI secara terbuka melontarkan tuduhan, padahal sebelumnya PB Djarum sudah dipanggil oleh mereka untuk mencari titik temu soal eksploitasi anak, kita patut bertanya dan menduga, apa ada deal yang tidak bisa disepakati oleh pihak Djarum? Sehingga kalian menyerang membabi buta, menyalahkan kegiatan yang sudah berpuluh tahun berlangsung.

Menarik untuk menyimak pernyataan Yoppy Rosimin dari pihak PB Djarum. “Sesuai dengan permintaan pihak terkait, pad audisi kali ini kita menurunkan semua brand PB Djarum. Pihak PB Djarum sadar untuk mereduksi polemik itu kami menurunkannya. Kedua, kaus yang dibagikan kepada anak-anak tidak akan kami bagikan lagi seperti sebelumnya. Mereka akan memakai kaus asal klubnya masing-masing, dan itu sudah lebih dari cukup. Kami sudah memutuskan , tidak ada deal-dealan lagi, diterima atau tidak, kami sudah memutuskan seperti itu.”

Konteksnya memang berbeda. Nggak nyambung sama sekali. Tapi jelas terlihat ada emosi ketika mengatakan “tidak ada deal-dealan lagi.” Karena ini secara otomatis menjelaskan bahwa mereka, pihak PB Djarum sudah menjalani deal-deal panjang dan tetap tidak ketemu. Pertanyaannya kemudian, deal apa? apakah yang dimaksud adalah deal dengan KPAI dan segala permintaannya?

Selanjutnya, jika bukan karena soal uang atau materi, maka kemungkinan lainnya adalah ideologi. Tentu kita tak bisa menghilangkan potensi ini. Karena harus kita akui bahwa radikalisme dan kelompok taliban di Indonesia adalah fakta.

Apakah pihak KPAI sudah disusupi oleh orang-orang radikal? yang punya prinsip bahwa anak-anak itu harusnya mengaji, masuk pesantren. Bukan malah main bulutangkis yang hanya urusan duniawi. Atau berpikir bahwa kostum bulutangkis itu tidak sesuai syariah, mengumbar aurat.

Tidak menutup kemungkinan. Karena di tubuh KPK, juga ada istilah pegawai taliban. Yang punya kepentingan untuk menghabisi orang-orang yang dianggapnya anti terhadap golongannya. Nah, apakah KPAI ini juga ada pegawai talibannya?

Bagi saya hanya dua itu kemungkinannya. Karena sikap ini bukan soal satu dua orang pegawai. Melainkan atas nama lembaga. Jadi pernyataan dan sikap yang ditunjukkan pasti mewakili anggota lembaga secara keseluruhan.

Kalaupun ada masalah internal, sepihak, misal ada anak orang KPAI tak lolos audisi PB Djarum, rasanya kasus itu tak akan sejauh ini. Pun tak akan membuat satu lembaga kompak menuding PB Djarum. Begitulah kura-kura.
sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa sinabung jaya.grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *