PENINGKATAN JALAN MEDAN BERASTAGI

Hati Saya, naluri jurnalis saya.. sedikit terusik mendengar kabar jalur kereta api Medan – Pematang Siantar – Parapat tahun ini dibangun dengan dana yg cukup fantastis, kisaran 100 trilyun lebih menggandeng investor Cina. Bagaimana tidak kami tercengang, masyarakat di bagian utara Danau Toba selama ini terkesan ditinggalkan dalam pembangunan infrastruktur modern dibanding kawasan selatan.

Menurut data dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah I Medan, Jalan Medan – Berastagi, tahun 2014 dilintasi 21.231 kendaraan per hari. Kini mencapai 27.000 kendaraan per hari akibat pesatnya pertambahan berbagai jenis moda transportasi.

Dampak kemacetan yg kerap terjadi sangat merugikan dunia pariwisata, pertanian, dunia usaha dan sektor-sektor lainnya disamping sudah mulai mengganggu aktivitas sosial budaya, seperti upacara adat kematian dan perkawinan.

Bahkan mobil ambulan (emergency) yg kerap melintas dari 11 kabupaten di Sumut dan Aceh menuju Rumah Sakit ternama di Medan sering terjebak di tengah antrian kemacetan panjang. Jalan ini satu satunya jalur perekonomian bagi 4.481.521 warga di 11 kabupaten Sumut dan Aceh menuju Kota Medan.

Setiap kemacetan selama 6 jam saja sehari, kerugian mencapai Rp 3 milyar hingga Rp 4 milyar. Dengan kondisi jalan wisata Medan – Kabupaten Karo yang semakin buruk mempertajam disparitas pembangunan kawasan selatan dan utara Danau Toba.

Kawasan Selatan, dua bandar udara, Tol Medan – P.Siantar, Tol Tebing Tinggi – Parapat, tahun ini pembangunan jalur kereta api Medan – Kisaran – Siantar – Parapat.. Sementara pintu gerbang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba bagian utara jalur Medan – Kabupaten Karo, tidak memiliki daya saing dan semakin jauh tertinggal.

Keinginan kuat peningkatan Jalan Medan – Berastagi spt Tol/Pembangunan jembatan layang “kelok 11” semakin terasa dibutuhkan dan menjadi mimpi yg sudah lama mengapung.

Bayangkan bila pembangunan jalan bebas hambatan (jalan tol) ini terealisasi, jarak tempuh Medan – Berastagi hanya sekitar 30 menit, geliat ekonomi beberapa kabupaten tetangga seperti Dairi, Samosir, Pakpak Barat, sebagian Simalungun dan Deli Serdang termasuk Aceh Tenggara dan Aceh Selatan akan meningkat tajam. Kunjungan wisatawan khususnya ke Kabupaten Karo diprediksi meningkat 2 x lipat dibanding selama ini. Karo jg dikenal penyumbang Oksigen terbesar bagi 2 juta lebih masyarakat kota Medan Nah, kajian apa lagi yang dibutuhkan?. Berastagi sebagai kawasan “puncaknya” Medan seperti Bogor dengan Jakarta akan mendatangkan multy effek player bagi Pemko Medan dan Pemprovsu sendiri.

Jalur padat Medan-Berastagi merupakan jalur strategis pariwisata, pertanian, industri dan lainnya serta pintu gerbang bagian utara masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba, meski sudah ada jalan alternatif dari Binjai ke Berastagi melalui Desa Telagah di Langkat namun belum signifikan meretas kepadatan jalur utama Medan – Berastagi.

Kalau perkara sulit, mengingat jalan ke Berastagi diapit pegunungan, toh Kelok 9 di Sumatera Barat juga punya kontur hampir serupa, tapi berhasil dibangun sehingga perjalanan dari Bukittinggi ke Pekanbaru di Riau atau sebaliknya menjadi lebih lancar dan nyaman.

Yang penting sekarang, political will Gubernur Sumatera Utara, DPRD Sumatera Utara, sejumlah kepala daerah dan Pemerintah Pusat. Apakah karena masih kuatnya politik kedaerahan, baik di provinsi maupun pusat? Semoga yang mulia Bapak Presiden Joko Widodo bisa merasakan keinginan kuat masyarakat Sumut dan Aceh yg sdh lama mengimpikan Tol/jembatan layang “kelok 11” Medan – Kabupaten Karo.

Desakan membangun jalan tol Medan-Berastagi pun semakin kencang dan nyaring disuarakan oleh sejumlah pihak, seperti Ikatan Cendikiawan Karo (ICK) Sumatera Utara, Seandainya Tol/Jembatan Layang Medan – Berastagi terealisasi dananya pun hanya di kisaran Rp 6 trilyun. Patut diapresiasi Pemkab Karo pun terus memperjuangkan ke pusat. Desakan ini semakin kuat setelah pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memasukkan Sumut sebagai satu dari sepuluh daerah di Indonesia yang mendapat prioritas untuk pengembangan potensi pariwisatanya.

Sesuai misi Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH ada 5 (lima) usulan pembangunan skala nasional yang sdh disampaikan ke Menko Luhut Binsar Panjaitan yaitu 1. Peningkatan jalan Kabanjahe – Medan caltilever pada dua titik untuk mengurai kemacetan, 2. Peningkatan/pelebaran jalan nasional Kabanjahe – Berastagi, tahap ke II sedang berjalan (tahun 2020 dipastikan tuntas), 3. Jalan Tol Medan – Berastagi, 4. Anjungan Cerdas. 5. Pembangunan Dermaga Tongging. Tahun ini tahap pertama mulai dikerjakan.

Robert Tarigan, SH – Wartawan (Harian Andalas)

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *