CELAKA! WAKTU OPEN HOUSE, ANIES DIMARAHI WARGA BEGINI…

Manuel Mawengkang-Cecep keselek batu bata alias celaka! Anies, begitu terlihat iri dengan Jokowi. Ia ingin sekali menyaingi Jokowi. Bicara mengenai saingan, ia sedang melakukan gerakan kuda-kuda atau persiapan Anies dalam masuk ke 2024, kalau ada yang mau memilihnya. Di hari baik pun, Anies mendapatkan murka warga. Sungguh mengharukan.

Tapi, apa daya, orang ini sudah mewakafkan diri ke dalam menerima dukungan kaum radikal. Ketika membuka pintu rumahnya untuk menerima tamu sewaktu Lebaran, dia memiliki nasib yang begitu berbeda jauh.

Nasibnya begitu miris. Warga yang datang, malah membuat orang ini terlihat semakin dungu. Apa sih yang dikatakan warga? Kalau kalian kepo, silakan simak…

Anies disebut sebagai pemimpin yang cuek.

Sekarang cuek. Tahun lalu masih bisa foto dan ngobrol

kata Tiambun di rumah dinas Anies, Jalan Taman Suropati Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu sore, 5 Juni 2019.

Ini adalah tamparan, gamparan, tampolan dan tendangan keras dari warga DKI Jakarta kepada Anies. Anies alih-alih ingin menyaingi Jokowi, dia malah dibandingkan dengan sosok pemimpin terdahulu di DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Bahkan bendera Palestina dibiarkan berkibar. Iya gue tau itu gak ada di atas mobilnya. Tapi kenapa dia cuek membiarkan bendera Palestina ini berkibar di Indonesia? Apa lagi kalau bukan cuek?

Orang ini dibandingkan dengan musuh besar yang bisa dikatakan ada di atas Anies beberapa tingkatan langit. Ahok adalah sosok yang menjadi pengingat bahwa betapa rusaknya Anies di DKI Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama sudah dengan begitu luar biasa memimpin Jakarta.

Ahok tidak memimpin dengan tangan besi ketika ia ada di DKI Jakarta. Akan tetapi, banyak pendukung Anies yang memfitnah Ahok, bahwa ia memimpin dengan tangan besi. Padahal kita tahu, bahwa tangan besi beda jauh dengan ketegasan.

Orang yang tegas, bukanlah orang yang bertangan besi. Secara penampakan, memang cara-cara yang terlihat ada kemiripan. Namun begini. Tangan besi muncul dari perut alias emosi. Sedangkan ketegasan muncul dari hati. Dari definisi ini pun, kita sudah tahu bahwa si badut itu justru si tangan besi.

Membandingkan antara dua sosok ini, adalah seperti membandingkan langit dan kerak bumi. Membandingkan antara langit-langit surga – jika surga ada langit-langitnya, dengan kerak neraka – jika neraka ada keraknya.

Ini adalah sebuah tudingan yang paling jujur dari warga DKI Jakarta terhadap Anies. Warga Jakarta sambil tersenyum sambil berkata “Nies, kamu itu terlalu cuek di Jakarta.”

Kata-kata yang halus, tidak seperti artikel ini yang banyak kata-kata yang tajam. Tapi saya percaya, kalimat yang diucapkan oleh warga Jakarta di depan muka Anies dan istrinya ini, adalah kata-kata yang lebih kejam dari apa yang penulis ungkapkan. Mengapa demikian?

Karena dihajar dengan kalimat yang tumpul, itu jauh lebih menyakitkan ketimbang dihajar oleh kalimat yang tajam.

Jadi saya mungkin perlu belajar menghajar Anies dengan kata-kata yang tumpul. Agar apa? Agar… Ah tidak perlu diteruskan. Nanti kalian malah ketagihan membaca artikel saya. Tapi boleh lah, nanti saya coba ya. Hahaha.

Kita nyanda bisa pakai kalimat-kalimat halus. Torang semua sudah terbiasa bicara langsung dari hati ke ulu hati, jo dang!

Tapi demi pembelajaran dan demi meraih pembaca yang lebih luas, saya coba usahakan menggunakan kalimat yang halus. Saya ingin belajar seperti Jokowi. Dia bicara halus, tapi setiap kata-katanya, bisa diinterpretasi dengan luar biasa berbeda oleh koalisi maupun oposisi.

Ahok dan Anies, adalah dua orang yang berbeda. Mereka tidak bisa disamakan. Tapi setidaknya, mereka masih sama-sama manusia. Kedua orang ini sama-sama menerima kritik pedas.

Ahok menerima kritik pedas, yang cenderung tidak membangun. Ahok sebenarnya lebih dari menerima kritikan. Dia menerima fitnahan. Dia difitnah terlibat kasus korupsi oleh Dahnil Ku, Amien Rais dan oposisi, karena sudah merusak Gerindra di tahun 2014 gagal memenangkan Prabowo.

Anies pun demikian. Ia menerima kritik pedas. Tapi membangun. Anies ini sebenarnya tidak menerima kritikan yang menghancurkan. Dia tidak menerima fitnahan. Bahkan orang ini ikut terlibat dalam kaum radikalis. Mayat perusuh diangkat tinggi-tinggi, seperti mau ketemu Tuhan saja.

Tapi perbedaan dari kedua orang ini, adalah bahwa Ahok berubah. Ahok terus berbenah. Ahok tidak mendendam. Ahok tidak mengangkat mayat perusuh tinggi-tinggi seperti mau dibawa ke haribaan Tuhan saja. Ahok tidak menghina warganya sebagai sampah.

Tapi bodo amat lah ya, toh gue juga bukan warga Jakarta. Gue enak-enak aja komentarin kalian yang ada di Jakarta. Selamat ya, warga Jakarta. Denger-denger, baru hari pertama, Jakarta udah kembali rusuh? Bahkan belum habis Lebaran, ada anak-anak yang nyaris mampus di atas atap TransJakarta?

Selamat menikmati hidangannya, warga Jakarta… (baca: Makang ngana pe pilihan, jo dang)

Begitulah makan-makan

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *