BERHENTILAH MEMUJA AHOK DI TENGAH BERITA DUKA

Alifurrahman-Ani Yudhoyono dan Arifin Ilham, dua tokoh ini meninggal di waktu bersamaan, dengan penyakit yang sama; kanker. Sontak kita semua berduka sesuai kadarnya masing-masing. Ada yang merasa sangat kehilangan Arifin Ilham, ada pula yang ikut sedih mendengar Bu Ani meninggal.

Kenapa perasaan seseorang bisa beda? Padahal yang dihadapinya adalah sama-sama soal kematian? Jawabannya pasti adalah soal hubungan emosional. Mereka yang lebih sering melihat Bu Ani, jelas akan lebih sedih mendengar beliau meninggal. Sementara mereka yang tak terlalu akrab atau mengikuti berita tentang Bu Ani, sebaliknya lebih sering ikut pengajian Arifin Ilham, jelas akan lebih sedih mendengar sang ustad berpulang.

Tapi, dari sekian banyak ucapan belasungkawa, dari sekian banyak komentar yang masuk di seluruh jejaring sosial media yang saya ikuti, ada satu komentar cukup seragam; mengaitkan kematian dua tokoh ini dengan Ahok.

Andai Ahok jadi Gubernur dan rumah sakit kanker jadi dibangun, maka dua tokoh nasional ini tak perlu lari ke luar negeri. Bisa dirawat di Indonesia. Kira-kira begitu komentarnya, dengan beragam rangkaian kata berbeda.

Secara logika, itu masuk akal. Saya setuju bahwa niat Ahok membangun rumah sakit tersebut sudah benar. Tapi, di tengah-tengah kabar duka seperti ini, bathin saya bertanya; bisakah kita rehat sejenak dari urusan politik dan mendewakan Ahok?

Ini ada orang meninggal, malah dimanfaatkan untuk memuja Ahok. Okelah kalian tak punya niat memanfaatkan, tapi kenapa harus memuja Ahok dalam situasi seperti sekarang? di mana nurani kalian?

Okelah kita tak sependapat dengan Arifin Ilham. Okelah kita sempat berdebat sengit saling serang sebelum Pilkada, membela Ahok dan menyerang SBY. Kita masing ingat dengan istilah lebaran kuda. Kita juga masih ingat dengan banyak hal yang kebetulan dua orang tokoh ini dianggap berseberangan dengan Ahok. Tapi ya ini mereka sudah meninggal. Hari ini kita sedang berduka. Harus sekarang banget gitu muja Ahoknya? Nggak bisa seminggu lagi gitu?

Kalian bisa cek dan lihat. Saya adalah orang yang mendukung Ahok di Pilkada DKI. Tapi kalau melihat para pendukung Ahok semakin hari semakin liar, terus menerus mengait-ngaitkan Ahok dalam setiap kejadian. Dengan cara memuja atau menganggap Tuhan bersama Ahok dan menitipkan karma pada setiap orang yang menyerangnya dulu, saya kok jadi miris ya?

Ahok itu pekerja keras, saya setuju. Ahok itu mampu berikan perubahan dan bisa mengelola kota, saya juga sepakat. Tapi Ahok itu manusia. Buktinya dia dipenjara. Dia bukan dewa yang selalu benar dan selalu pantas untuk dipuja-puja tak kenal waktu.

Betapapun kita berbeda pandangan politik dengan SBY sekeluarga ataupun Arifin Ilham, biarlah itu menjadi sebuah alasan demokrasi. Hak berpendapat. Tapi ketika sang ustad dan Ibu negara itu berpulang, berilah hak penghormatan dan doa yang baik untuk mengiringi jenazahnya.

Kalaupun kalian sangat ingin membahas Ahok dan memuja-mujanya, nanti dulu. Minimal jangan hari ini atau besok. Ini kita sedang berduka, masa iya kalian masih memuja sosok lain seolah mensyukuri sakit seseorang.

Negara kita belum punya rumah sakit kanker mumpuni, itu sebuah kesalahan. Karena dengan begitu dua tokoh ini harus dirawat di luar negeri. Tapi, kematian ini urusan kemanusiaan. Sebagai sesama manusia, sudah seharusnya kita ikut berduka.

Apa susahnya kita doakan Bu Ani dan Arifin Ilham agar diterima di sisiNya? Mudah kok. Kalaupun kita tidak bisa hormat dan selalu ingat dengan Pilkada DKI, ingatlah bahwa kita ini bukan manusia pemegang palu yang hanya punya masalah dengan paku. Kita ini manusia yang punya hati dan nurani. Manusia yang sama-sama tak kuat menghadapi perpisahan.

Lagi pula Ahok tidak sedang nyalon jadi gubernur. Pun hari ini bukan masa kampanye. Ga ada gunanya juga memuja-muja Ahok, sekalipun tujuannya menyadarkan masyarakat yang selama ini masih menolaknya karena alasan SARA.

Saya tahu tidak semua pendukung Ahok seburuk itu dalam hal memuja. Tapi melihat serangkaian status, tweet dan komentar, saya pikir artikel ini penting untuk saya tulis sebagai pengingat. Begitulah kura-kura.
sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *