IJTIMA ULAMA 3, YAKIN CUMA KARENA MASALAH KECURANGAN PILPRES?

Jaya Wijaya-Pada awalnya penulis menyangka bahwa kaum radikal yang akan menggelar Ijtima Ulama 3 hanyalah alat yang digunakan Prabowo untuk berkuasa, tinggal sediakan “kardus” maka Ijtima Ulama akan bergerak sesuai keinginan Prabowo. Namun setelah melihat hasil Pemilihan Legislatif dimana Gerindra yang sebelumnya diprediksi akan mendapat suara di atas 20% ternyata hanya mendapat 12% suara, sedangkan PKS yang diprediksi tidak akan lolos parlemen malah meningkat lumayan tajam di atas suara Demokrat yang juga berada di kubu Prabowo. Penulis jadi sadar bahwa ada motif lain selain “kardus” dan memenangkan Prabowo sebagai Presiden.

Boleh donk penulis suudzon (mikir negatif) sedikit terhadap kaum radikal yang baru saja mengadakan Ijtima Ulama hari ini? daripada Fadly Zon (kaga mikir) lebih baik suudzon donk? kaum radikal ini ibarat penyakit cancer, cancer sangat berbahaya karena biasanya diketahui setelah mencapai stadium 3 atau stadium 4. Banyak teman yang mengatakan “tidak usahlah takut kaum radikal, dukungan partai udah pada bubar, dukungan Internasional tidak ada, dukungan rakyat sulit karena peredaran senjata ketat”, teman penulis seolah lupa jika senjata mereka saat ini adalah “virus kebencian”, jika sudah banyak yang terjangkit virus radikalisme maka tinggal tunggu waktu saja Arab Spring terjadi di Indonesia, konflik sekretarian yang mengatasnamakan agama akan semakin banyak di Indonesia. Penyebaran radikalisme ini tidak pandang bulu lho, mau kaya atau miskin, pintar atau bodoh jika sudah terjangkit virus radikalisme maka hanya kehancuran yang akan mereka bawa, Pilpres 2019 sudah membuktikannya bagaimana kebencian telah merasuki sebagian masyarakat Indonesia, sehingga menjadi Pilpres paling brutal sepanjang sejarah Indonesia, dimana fitnah, hoax, kebencian sudah menjadi barang halal di Indonesia.

Penulis suudzon karena pagi tadi mendapat berita dari detik yang kira-kira berbunyi “Namun, Bernard mengatakan acara ini akan tertutup dari media. Nantinya, media hanya boleh meliput di akhir kesimpulan Ijtimak”. “Jadi untuk BPN, pimpinan partai koalisi, kita undang nanti sore ketika penutupan dan jumpa pers hasil dari Ijtimak Ulama III,” kata Slamet. Ijtima Ulama kali ini tertutup dari media dan untuk semua koalisi Prabowo baru boleh hadir ketika penutupan, bahkan Capres dan Cawapres juga tidak diundang saat gelaran acara Ijtima Ulama berlangsung. Jika seperti itu, maka orang yang waras pasti akan berfikir ada yang disembunyikan dari Ijtima Ulama ini.

Sebelum membahas lebih dalam mari kita bahas berbagai misteri yang mencuat pada Pilpres kali ini, terkait dengan Ijtima Ulama.

Mengapa Ijtima Ulama Memilih Prabowo Yang Tidak Islami?

Banyak yang berfikir bahwa muslim dan ulama yang mendukung Prabowo adalah muslim yang bodoh karena mendukung seseorang yang keislamannya dipertanyakan. Penulis melihat mungkin ada beberapa masyarakat yang telah dibodohi, tapi apa mungkin ulama-ulama di kubu Prabowo sebodoh itu? Kemungkinan terbesarnya adalah, memang sengaja ulama-ulama tersebut memilih Prabowo yang memang tidak ada islami-islaminya.

Lalu tujuannya apa? untuk menjawabnya maka penulis akan balik bertanya, jika kaum radikal sudah menyebar, lebih mudah mana menurunkan pemimpin yang Islami atau yang non Islami seperti Prabowo untuk digantikan dengan pemimpin pilihan Ijtima Ulama? untuk caranya tentu saja bisa melalui jalur konstitusi agar tidak bentrok dengan TNI dan Polisi, Pilpres 2024 kaum radikal akan memajukan Presiden dari kalangan mereka untuk didukung oleh masyarakat yang sudah tersebar virus radikalisme. Memang semuanya masih jalan panjang, namun membaca kemungkinan langkah-langkah mereka dari sekarang akan sangat membantu bangsa kita mengantisipasi gerakan-gerakan mereka yang memang saat ini masih bergerak “underground” mengincar masyarakat bawah.

Mengapa Ijtima Ulama Dikomandoi Rizieq Shihab?

Rizieq Shibab menyampaikan arahannya pada Ijtima Ulama kali ini melalui video dari Arab Saudi sana, seperti kita ketahui Rizieq Shihab lah inisiator Ijtima Ulama ini. Pertanyaannya kenapa sih harus dikomandoi Rizieq Shihab yang merupakan buronan di Arab Saudi sana? Bahkan dikalangan pendukung Jokowi, Rizieq Shihab ini hanyalah seorang pengecut yang tidak berani pulang seperti bang toyib.

Perlu diketahui jika Rizieq Shibab saat ini berbeda dengan Rizieq Shihab pada 2014, Jika pada 2014 Rizieq Shihab hanya dikenal sebagai pemimpin ormas garis keras yang dua kali masuk penjara, maka 2019 Rizieq Shihab ini sudah banyak yang menganggapnya sebagai Imam Besar, Pahlawan yang paling berjasa memenjarakan “Penista Agama” dan juga seorang Martir yang rela berkorban demi kejayaan Islam di Indonesia. Bagi pendukung Prabowo dan kaum radikal, segala perkataan Rizieq Shihab ini adalah kebenaran yang harus diperjuangkan.

Mungkinkah Salah Input Pada SITUNG KPU Disengaja?

Untuk hal ini maka hanya ada dua kemungkinan, karena kemungkinan yang lainnya yaitu sengaja dilakukan pendukung Jokowi sangat tidak mungkin!! Karena pendukung Jokowi tahu kalau Jokowi yang akan memenangkan Pilpres berdasar hasil Quick Count, lagi pula SITUNG KPU hanya bentuk keterbukan KPU saja terhadap masyarakat, penentuan pemenang yang sah ditentukan lewat rekapitulasi manual yang dihadiri saksi kedua kubu. Maka dua kemungkinan yang tersisa hanyalah :

A. Human Error, semoga saja memang human error karena ada juga yang salah input merugikan kubu 01.

B. Sengaja dilakukan pendukung 02 untuk membuat opini kecurangan, jadi alurnya kira kira begini : Pendukung sengaja salah input dengan menambah suara Jokowi, viralkan lalu bentuk opini kecurangan, setelah viral lalu perbaiki suara masuk seperti awal, bisa juga menunggu laporan masyarakat untuk memperbaikinya.

Yakin Ijtima Ulama 3 Cuma Untuk Masalah Kecurangan Pilpres?

Pertanyaan penutup dari penulis, benarkah Ijtima Ulama 3 hanya untuk membahas masalah kecurangan Pilpres 2019? penulis sangat yakin jika mereka sudah mengetahui kalau Jokowi yang akan memenangkan Pilpres kali ini dan kalaupun ada kecurangan yang terjadi disebabkan kader-kader partai di daerah maka akan dilakukan oleh ke-dua kubu (yang tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir).

Lalu kenapa mereka membahas masalah ini? tentu saja masalah ini sebagai pintu masuk untuk aksi-aksi mereka selanjutnya, langkah awal aksi mereka sudah dilakukan oleh Ustad Sambo dengan meyakinkan emak-emak bahwa Prabowo telah memenangkan Pilpres 2019. “Jangan ada keraguan, kita menang, sesungguhnya telah menang, betul. Tidak ada kata kita kalah, kalau enggak menang, menang kali kalo kata orang Medan,” kata Ustaz Sambo di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (28/4).

Kura-kura apa saja yang akan direncanakan oleh mereka? Sepertinya penulis akan bahas pada artikel khusus, untuk pantengin terus artikel penulis bisa masuk ke : https://seword.com/author/lckwijaya
sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *