MENOLAK LUPA : STASIUN BUS SINABUNG JAYA DI BERASTAGI

PO SINABUNG JAYA yang berdiri sejak tanggal 1 April 1961 oleh pendiri dan pemiliknya almarhum kedua orang tua kami Reti Sembiring Gurukinayan (Pa Kueteh) / Releng Bru Sitepu (Nd. Kueteh) di Gang Usaha Tani, Jalan Veteran Berastagi Kabupaten Karo Sumut yang berasar dari desa Gurukinayan yang persis di bawah kaki gunung Sinabung yang sekarang telah ditinggal pergi oleh penduduknya akibat erupsi mempunyai keterikatan dengan kota Berastagi, tidak hanya untuk kedua orang tua kami tapi kami juga semua anak cucunya.

Maju mundurnya PO. SINABUNG JAYA mulai diawali dari kota Berastagi, kota kami dilahirkan, dibesarkan dan dididik oleh guru-guru kami tercinta termasuk SMA Negeri Kabanjahe sampai akhir tahun 1970-an membuat kami tidak akan melupakan kedua kota ini termasuk desa Gurukinayan maupun desa Berastepu tempat ibu saya dilahirkan yang juga desa tersebut sudah lama ditinggal pergi oleh warganya akibat erupsi gunung Sinabung, syukur menurut informasi yang kami dapat gunung yang memberikan kehidupan dan masa depan yang lebih baik kepada kedua orang tua kami pada saat ini telah mulai bersahabat kembali dengan warga disekitar gunung Sinabung yang sejak tahun 2013 pada bulan Septermber tiada henti mengeluarkan lavanya maupun awan panas yang membuat beberapa warga kehilangan nyawanya.

Operasional Bus PO. SINABUNG JAYA yang poolnya di Berastagi melayani trayek AKDP “KABANJAHE-BERASTAGI-MEDAN PP” sedangkan poolnya yang ada di desa Gurukinayan dan Berastepu melayani trayek “SUKAMERIAH-GURUKINAYAN-KABANJAHE-BERASTAGI-MEDAN PP” dan “KUTA TONGGAL-GAMBER-BERASTEPU-KABANJAHE-BERASTAGI-MEDAN
PP”

Pada tahun 1961 akibat kebijakan pemerintah pada waktu itu “USAHA NASIONAL PERUSAHAAN MOTOR GUNUNG” (PMG) foto salah satu cikal bakal lahirnya PO. SINABUNG JAYA (terlampir) agar tidak terjadi monopoli angkutan penumpang umum di Indonesia, termasuk PMG yang pada tahun 1960 telah memiliki armada hampir sebanyak 200 unit di Kabupaten Karo dan sekitarnya, maka harus dibubarkan dan kepada anggota yang bergabung dengan perusahaan ini yang memiliki paling sedikit 5 (lima) bus dapat mengajukan pembentukan usaha angkutan baik yang bersifat per-SEORANGAN (PO) maupun berbadan hukum diberikan kemudahan untuk pengajuan dokumennya, dan salah satu dimanfaatkan kemudahanan tersebut dengan membuat perusahaan PO. SINABUNG JAYA pada tanggal 01 April 1961 di Berastagi.

Pada tahun tersebut banyak berdiri perusahaan angkutan penumpang khususnya di Kabupaten Karo Sumut disamping PO, SINABUNG JAYA, antara lain PO. SUTERA, PO SAUDARA, PO.TANI, PO. SEBAYANG, PO SELAMAT JALAN, PO. SELAMAT KERJA, PO. PELITA, PO. SINGALOR LAU. PO SWIFT dan lainnya yang awalnya operasional berjalan dengan lancar dalam satu wadah USAHA NASIONAL PMG yang pemiliknya adalah bapak Kompeni Bangun yang biasa disebut “TOKEH PMG” berasal dari desa Batukarang alhirnya terjadi persaingan yang tidak sehat antar operator baru tersebut yang melayani trayek AKDP “KABANJAHE-BERASTAGI-MEDAN PP”, sama dengan dengan situasi yang sekarang terjadi di trayek tersebut bukan “PERANG LAYAYAN” akan tetapi “PERANG TARIF” sehingga pada saat ini usaha angkutan daerah ini seperti USAHA SOSIAL karena tarif yang berlaku untuk MEDAN – KABANJAHE yang berjarak 76 km hanya dikenakan tarif Rp. 13,000,- dan Berastagi yang berjarak 65 km hanya Rp. 10.000,-. padahal tarif angkutan kota di Medan jarak dekat tidak kurang dari Rp. 3.000,- dan tertinggi antara lain Pancurbatu-Lubuk Pakam tidak kurang dari Rp. 15.000,-. Rasa sosial yang begitu tinggi telah ditunjukkan bertahun-tahun oleh pengusaha angkutan di trayek AKDP “KABANJAHE-BERASTAGI-MEDAN PP”, jelas ini adalah tarif yang tidak masuk akal untuk jarak tempuh sejauh itu, tapi kalau ditelusuri lebih dalam mereka mau berkorban dengan perkiraan waktu tertentu pasti ada operator saingan lainnya yang akan bangkrut, tapi anehnya sampai saat ini sudah tahunan mereka tidak ada yang bangkrut hanya busnya tahun keluaran 1980-an dengan CASHING tahun tinggi tetap beroperasi sampai saat ini, setelah
ditelusuri lebih jauh rupanya pemiliknya juga banyak merangkap sebagai petani, sehingga perawatan bus nya disubsidi dari hasil panen pertanian mereka, oleh sebab itu tidak heran kalau di bus tersebut beraneka sticker yang ditempel di sekeliling bus nya dengan aneka tulisan “RIMO MULANA” yang artinya bus tersebut dibeli dari hasil penen jeruk, atau “TOMAT MULANA” (awalnya dari tomat) dan banyak lagi. Oleh sebab itu operator pesawat terbang enggan menerima pilot dari daerah ini, karena pihak operator takut
pesawatnya nanti ditempeli aneka sticker seperti di atas. (maaf joke, heheheeee…)

Kembali ke topik di atas, karena operasional bus-bus pecahan dari PMG tersebut di atas, bukan terjadi persaingan tarif tapi persaingan kecepatan jarak tempuh jadi ukuran
pada waktu itu apalagi tanjakan bukit Barisan, para pengemudi pada stress berat di jalur pendakian ini, karena kalau kalau pengemudi yang merasa mesin bensin “CHEVROLET VIKING” (foto terlampir) keluaran yahun 1960-an sebelum daerah Sembahe mereka dijalan datar sengaja memperlambat laju kenderaannya agar disalib kenderaan dibelakangnya biar tidak kehilangan muka karena kalau sempat disalib bus belakangnya sang kernet akan memanas manasi si pengemudi dengan melambai-lambai kan rangannya agar pengemudi menekan gasnya lebih dalam, padahal sudah kadas dan apabila dipaksa lagi yang korban adalah pemilik bus karena mesin harus disevice lagi dan lama baru selesai karena harus mesinnya harus di service di Medan.

Pada waktu itu BUS SINABUNG JAYA No.7, sangat disegani di jalur tersebut, karena bus EX ACEH TENGAH dariTAKENGoN yang hanya beberapa kali dioperasikan dan kemudian dikandangkan pemiliknya kami beli pada tahun 1967,dan jarak tempuh Medan – Berastagi yang berjarak 65 km hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit,dan ini viral istilah sekarang, penumpang pada senang karena pengemudinya memang berpengalaman, tentu pada waktu itu bisa demikian karena kenderaann yang melintas daerah tersebut pun masih bisa dihitung dengan jari setiap menitnya.

Akibat operasional tersebut tidak terkendali dan saling rebut penumpang di stasiun dan di tengah jalam malah ada yang saling tikam di lapangan khususnya di stasiun Beratagi depan Toko Idaman yang akhirnya menelan korban jiwa, maka akhirnya operasional bus yang melayani trayek yang sama dengan membentuk BKS (Badan Kerja Sama) pada tahun 1966 yang diprakarsai oleh abang tua kami Bapak Kueteh Sembiring Gurukinayan (Pa Bas Ukurta) sebagai perakilan dari PO. SINABUNG JAYA, yang pada waktu itu merangkap sebagai Ketua Umum IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) di Provinsi Sumatera Utara, yang salah satu organisasi pemudanya adalah “PEMUDA PANCASILA”, yang kebetulan sejak kepemipinannya khususnya di Kabupaten Karo banyak pemuda yang tadinya beringas dan membuat masyarakat resah jadi kalem termasuk petugas lapangan operator bus di Berastagi dan Kabanjahe.
Akhirnya operasional bus trayek AKDP “KABANJAHE-BERASTAGI-MEDAN PP” berjalan dengan baik karena setiap bus dengan operator yang berbeda diselang seling keberangkatannya dengan baik dan benar.

Sesuai dengan perjalanan waktu dari sekian banyak operator tersebut di atas sejak tahun 1976 tinggal beberapa operator yang beroperasi dengan perubahan armada angkutan dari Chevrolet berbahan bakar bensin ke Daihatsu Engkel berbahan bakar bensin dan mulai tahun 1980 an beralih ke Mitsubishi Colt Diesel 3/4 yang juga berbahan dasar solar.

Terakhir yang aktif melayani trayek tersebut adalah PO. SINABUNG JAYA, PO, SELAMAT JALAN dan PT SUTRA, dimana pada tahun 1990 armada bus SINABUNG JAYA telah memiliki 99 unit bus (data BK ada di kami) dan memiliki plafon sampai saat ini 92 Unit.
Akibat operasiona yang begitu padat setiap 5 menit berangkat (silahkan klik vodeo ini https://www.youtube.com/watch?v=gHQIh7QHask&t=187s) maka petugas lapangan baik di Kabanjahe, Berastagi maupun di Medan Terminal Pinang Baris dan Simpang Kuala Medan makin maju dan berkembang untuk memberikan pelayayan yang terbaik bagi pengguna jasa angkutan penumpang Bus SINABUNG JAYA.

Untuk STASIUN BERASTAGI yang awalnya hanya berbentuk tenda darurat, atas prakarsa ex KARYAWAN BKS (BADAN KERJASAMA) sedikit demi sedikit dari uang jam BUS SINABUNG JAYA membangun sedikit demi sedikit ruang tunggu yang cukup nyaman untuk calon penumpang dan sekaligus meja kursi pengatur jam keberangkatan. Mereka yang masih aktif pada waktu itu antara lain (1) Morel Sembiring; (2) Let Purba; (3) Bebas Bangun; (4) Pengsel Ginting; (5) Pen Ginting; (6) Nampuri Sembiring; (7) Mahmud Ginting); (8) Boncar Sembiring; (9) Saktin (Pa Rinjam) Sembiring; (10) Mimbar Tarigan; (11) Kompani Sembiring; (12) Elok Sembiring; (13) Ganti Barus dan lainnya, dari 13 (tiga belas) tersebut di atas hanya pak Pen Ginting yang masih hidup dan sekarang tinggal bersama keluarganya di Simalingkar Medan, 3 (tiga) tahun yang lalu kami masih berkomonikasi dengan beliau melalui HP, semoga beliau tetap sehat walafiat.
Pada waktu BUS SINABUNG JAYA masih aktif beroperasi sampai pertengahan tahun 2007, kebesamaan antar mereka masih terjalin dengan baik, semua hasil bersih dari penerimaan uang jam yang mereka terima setiap waktu tertentu mereka bagi rata kepada para perintis tersebut di atas walaupun karena kesibukan dan faktor usia mereka tetap dapat bagian, bukan hanya itu yang sudah almarhum haknya tetap disampaikan kepada anak istrinya yang berhak, itulah salah satu kebersamaan yang tiada tara diantara mereka karyawan ex BKS yang akhirnya menjadi petugas lapangan di STASIUN BERASRAGI.

Menjadi pertanyaan bagi kami selaku Direksi PO. SINABUNG JAYA, bagaimana kelanjutan pengelolaan stasiun tersebut, karena sejak pertengahan tahun 2007 sejak BUS SINABUNG JAYA tidak aktif “STASIUN BUS SINABUNG JAYA” tersebut telah ditempati oleh operator lain yang juga melayani trayek yang sama.

Tentu pertanyaan ini yang bisa menjawab adalah PARA AHLI WARIS tersebut di atas yang dulu bersusah payah membangun stasiun tersebut dan juga “OKNUM” yag dulu mengizinkan operator tersebut menggunakan EX STASIUN BUS SINABUNG JAYA BERASTAGI.

Maaf kami tidak mengedit lagi tulisan ini apa adanya dan apabila ada kalimat yang tidak benar dan tidak nyambung mohon di maafkan.

Bujur, salam Sinabung Jaya dan Taneh Karo Simalem.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *