BELA SESAMA PENYEBAR HOAX! FAHRI AKAN BANTU RINGANKAN DAKWAAN RATNA DI PENGADILAN!

Budiman-Entah apa yang ada di benak Fahri Hamzah hingga ia menawarkan diri untuk menjadi saksi yang meringankan dakwaan terhadap Ratna Sarumpaet. Sementara BPN saja mengacuhkan kondisi Ratna saat ini, bahkan sempat akan ikut mengadukannya sebagai tindakan yang merugikan mereka. Andre, malah dengan santai menyebut Ratna Sarumpaet sebagai “Mak Lampir”. Lalu kenapa dengan Fahri Hamzah?

Dugaan saya, karena Fahri ini sudah tidak lagi berkontestasi dalam politik. Kita tahu, ia tidak lagi nyaleg. Alasannya saya tidak tahu, dan tidak peduli juga. Siapa pun yang menginginkan “nama baik” politik, akan menghindari diri dari Ratna Sarumpaet yang namanya sudah sangat buruk di mata rakyat. Mungkin karena merasa sudah tidak peduli dengan “suara pemilih”, ia pun bersikap nekat.

“Ibu Ratna itu pada bulan Juli nanti akan berumur 71 tahun. Seorang ibu-ibu yang sudah berumur dan memiliki jejak yang sangat besar dalam sejarah pergerakan hak asasi manusia dan juga kesenian di Indonesia,” kata Fahri kepada detikcom, Selasa (19/3/2019).

Menurutnya, Ratna merupakan pelaku seni yang karya dan tulisannya mempengaruhi aliran seni di Indonesia. Fahri juga membeberkan alasan-alasan lain sehingga bersedia menjadi saksi fakta.

“Terlalu tega kita hanya karena sebuah kebohongan yang sudah diakui, kita mengenakan kepadanya pasal-pasal yang seharusnya sudah tidak diberlakukan lagi. Diproduksi pada masa darurat, 1946, cukuplah. Apakah kita sebagai bangsa sudah tidak punya etika lagi dan rasa tega terhadap seorang anak manusia. Mungkin karena derajat, moral, dan etika kita sedang sangat jatuh sehingga kita nggak bisa punya akal budi terhadap orang yang sudah tua dan punya jasa banyak terhadap bangsa,” tutur Fahri.

Selain itu, Fahri juga mengkonfirmasi akan menjadi penjamin penangguhan tahanan Ratna menjadi tahanan kota. Fahri ingi Ratna bisa tinggal bersama keluarga.

“Karena itulah saya mengajukan diri sebagai yang menjamin agar beliau beristirahat di rumahnya, bersama anak-cucunya, dan bukan di penjara dalam sel-sel yang mengungkung tubuh dan jiwanya,” tambahnya.

Lucu saja mendengar orang seperti Fahri Hamzah bicara etika. Terlepas dari apa niatnya yang ingin membela Ratna Sarumpaet, kita masih ingat bagaimana “kiprah” Fahri Hamzah ketika ia masih “main politik”. Ia sampai dikeluarkan oleh partainya sendiri karena dianggap merusak nama baik partai karena komentar-komentarnya yang kontraproduktif.

Fahri Hamzah pernah menghina Jokowi “sinting” hanya karena membuat hari santri nasional. Apakah pantas berkomentar sekasar itu hanya karena keputusan yang tidak signifikan? Jika Jokowi melemahkan KPK, seperti halnya Fahri yang begitu membenci KPK, barulah pantas disebut sinting.

Kemudian, alasan menghargai orang tua pun aneh. Fahri Pernah bersikap kurang ajar kepada AM Fatwa yang usianya saat itu 77 tahun. Saat itu ia menuduh lembaga yang dikelola AM Fatwa bermain politik. Dan tuduhannya yang keji itu, sempat membuat AM Fatwa marah sekali karena ucapannya terus dipotong oleh Fahri Hamzah.

Kenapa sekarang ia jadi “lembek” begini si Fahri Hamzah? Apa sikap ganas dan kontroversialnya hanya untuk beratraksi di panggung politik saja?

Salah satu ke-“kurang ajara”-an Fahri Hamzah, adalah ketika ia meledek inpres yang dibuat Jokowi untuk menangani gempa di Lombok. Sebuah kenyinyiran yang kelewatan. Inpres tersebut ia tuduh tanpa struktur, tidak jelas pembiayaan, dan tidak punya target.

Padahal isi dan program inpres itu sangat jelas, melibatkan banyak lembaga, dengan pembiayaan yang sudah tersusun rapi dan memiliki target yang jelas. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan anggaran Rp 529,6 miliar untuk rekonstruksi Lombok hingga Desember 2018. Selain itu ada bantuan pembangunan berupa 50, 25, dan 10 juta kepada korban dengan kerugian yang berbeda-beda.

Bagaimana mungkin, sesuatu yang sudah sejelas itu, dan dilaksanakan demi tindakan yang cepat untuk membantu korban bencana saja bisa ia nyinyiri. Dan sekarang, ia seolah bicara soal etika dan bagaimana sikap menghargai orang tua?

Kita ingat, ketika kasus Ratna merebak, ia termasuk di antara orang yang menuduhkan pelakunya ada di pihak pemerintah. Ia bahkan menyebut mereka sebagai “bajingan”. Artinya apa? Kasus penganiayaan ini bukanlah kasus kecil, dan ketika ia berbohong, maka pelakunya tidak bisa dimaafkan begitu saja. Lagi pula, Ratna Sarumpaet sempat ingin “melarikan diri” ketika netizen dan kepolisian mulai menemukan kejanggalan. Upaya minta maaf Ratna bukanlah atas dasar dari hati, tetapi karena terdesak.

Dan untuk orang seperti ini, hukumlah yang harus bertindak. Kita tidak mau muncul pencipta-pencipta hoax keji yang baru, jika perilaku semacam ini dimaafkan. Kecuali jika kita adalah orang-orang yang sering pula menyebarkan hoax, maka wajar jika kita ingin membela terdakwa kasus hoax.

#RatnaHarusDihukum

#JokowiLagi

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *