SEPERTI BIASA: PEMBOBOL ATM GAK ADA HUBUNGAN DENGAN GERINDRA DAN PRABOWO! JUJUR AJA NAPA?

Mora Sifudan-Memang sudah terkenal kebiasaan Gerindra dan kampret-kampretnya langsung mengatakan ‘itu bukan kami’, ‘tidak relawan resmi’, ‘tidak ada hubungan’, dan lain sebagainya ketika sudah terbentur masalah.

Masih ingatkan waktu Faldo membantah pernyataan Adian Napitupulu di salah satu debat bahwa tukang sebar hoaks itu adalah mereka bahkan disebarkan melalui konferensi pers. Dan Faldo mengatakan dengan keras ‘itu bukan kami’. Dasar tidak tahu malu.

Hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos pun dibuat dan disebarkan relawannya sendiri, lalu mengatakan bahwa itu bukan mereka. Emak-emak, yang menyebar fitnah azan dilarang dan perkawinan akan dilegalkan kalau Jokowi dua periode pun, dianggap sebagai hasil diskusi rakyat. Diskusi rakyat matamu cuk.

Kali ini pun, ketika salah satu keponakan Prabowo skimming ATM untuk mencuri uang, mereka juga membantah bahwa Ramyadjie tidak ada hubungannya dengan Gerindra dan dia bukan keponakan Prabowo. Katanya hanya kerabat jauh, makanya tidak ada nama ‘Djojohadikusumonya’.

“Ini murni soal hukum, silakan kepolisian proses secara hukum, tidak ada urusan dengan politik, dengan BPN, dengan Tidar, dengan Gerindra, dengan Pak Hashim. Yang bersangkutan bukan keponakan Pak Prabowo, hanya kerabat jauh. Kalau keponakan tentu ada Djojohadikusumo, ini kan enggak ada.” (Andre Rosiade, Tempo)

Padahal Ramyadjie Priambodo ini adalah bendahara Tidar, organisasi sayap Gerindra. Mungkin memang tindakannya yang membobol ATM itu tidak ada hubungannya dengan partai, tetapi jangan disangkal si pembobol ATM ini tidak berhubungan dengan Gerindra dan Prabowo.

Kasus asusila Ariodj juga tidak ada hubungannya dengan Prabowo, tetapi hubungan kekeluargaan tetap saja ada bukan. Ini bukan hanya soal ada atau tidak ada hubungan kasus dengan Prabowo dan Gerindra, melainkan soal si pelaku yang ternyata kerabat Prabowo. Kalau tidak ada hubungannya dengan Prabowo, kenapa dulu sibuk membantah kalau yang sedang anu bertiga itu bukan Ariodj?

BPN bisa saja membantah. Gerindra bisa saja dengan mudah mengatakan itu bukan kami, itu orang lain, itu bukan keluarga dekat, itu tidak ada hubungan dengan kami. Tetapi bisakah Gerindra membantah bahwa bendahara organisasi sayap Gerindra adalah seorang pembobol ATM? Bisakah Prabowo membantah entah jauh atau dekat bahwa pembobol ATM itu adalah bagian dari keluarga Prabowo?

Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab Gerindra adalah bagaimana bisa keluarga Prabowo – entah jauh entah dekat – menjadi seorang pembobol ATM sementara Prabowo dan keluarga lainnya adalah konglomerat kelas kakap. Bayangkan Prabowo punya kuda seharga Rp 3 M, tanah lebih luas dari 12 kota, dan perusahaan-perusahaan, tetapi keluarganya ada yang kerjaannya membobol ATM. Ini bagaimana ceritanya?

Bagaimana Prabowo – yang sudah lima kali nyapres – bisa mengabaikan keluarganya sementara dia sok mau memakmurkan Indonesia? Biar Anda tahu bahwa waktu 20 tahun itu adalah waktu yang cukup lama untuk memperbaiki keluarga, membantu perekonomian keluarga agar tidak ada yang berkekurangan. Dengan begitu tidak ada yang jadi pembobol ATM. Maka apa yang terjadi hari ini yaitu keponakan Prabowo jadi pembobol ATM tidak akan pernah terjadi.

Untuk apa Prabowo teriak soal memakmurkan rakyat sementara dia sendiri tidak mampu memakmurkan hanya lingkaran keluarganya sendiri. Tetapi nyatanya ketimpangan sosial itu tidak saja menimpa Indonesia melainkan menimpa keluarga Prabowo sendiri. Berarti apa? Berarti selama ini Prabowo mengabaikan keluarganya – entah jauh entah dekat. Ya sorry saja, pantas Prabowo tidak akur dengan Titiek.

Tidak perlu memperhatikan keluarga jauh, keluarga paling dekatnya saja tidak bisa dia sejahterakan dan makmurkan, yaitu Titiek Soeharto. Boro-boro mau memakmurkan si pembobol ATM, kebutuhan Titiek saja dia tidak bisa penuhi. Lalu kamu mau membiarkan dia memakmurkan Indonesia? Jangan ngimpi!!!

Saya memang sangat sensitif soal keluarga ini. Karena bagi saya keluarga ini adalah inti keberhasilan seseorang. Kalau seseorang sudah berhasil dalam keluarga maka dia akan mungkin berhasil di luar keluarganya. Kalau keluarga saja tidak bisa dia pimpin, maka yakinlah dia tidak akan memimpin apa-apa di luar keluarganya.

Tolong jangan samakan pemimpin dalam keluarga dan negara dengan perusahaan, maaf tidak sama. Dalam perusahaan, ada uang ada jasa atau barang. Artinya uang adalah segalanya, karena memang juga demi uang. Tetapi memimpin negara, uang bukan segalanya. Memimpin negara hampir sama dengan memimpin keluarga, cinta adalah segalanya. Tanpa cinta dalam memimpin negara, maka negara akan hancur sebagaimana keluarga.

Salam dari rakyat jelata

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *