PRASANGKA BURUK MELULU, AHOK GABUNG PDIP, PA 212 CIUM GELAGAT TAK BAIK

Xhardy – Hanya dalam beberapa hari sejak keluar dari penjara, Ahok langsung terjun ke dunia politik meski hanya sebatas anggota dan bukan pengurus dan juga dikabarkan tidak akan ikut kampanye. Akan tetapi sudah banyak yang bereaksi dengan bergabungnya Ahok ke PDIP.

Sebenarnya kabar Ahok akan masuk PDIP sudah lama terdengar. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat pernah menyebut Ahok sudah lama berkeinginan bergabung ke PDIP. “Dia berkehendak, ya saya bilang boleh. PDIP kan partai terbuka, jadi siapapun boleh masuk asalkan tetap setia ke Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan konstitusi,” kata Djarot, pada Januari lalu.

Sebut saja Juru bicara Persaudaraan Alumni 212, Novel Bamukmin, yang ikut mengomentari bergabungnya Ahok ke PDIP. Menurut Novel, Ahok sebagai warga negara Indonesia sah-sah saja jika ingin bergabung ke partai politik.

“Untuk BTP yang mau masuk ke partai politik, sah-sah saja sebagai warga negara Indonesia yang berhak untuk memilih dan dipilih, dan menyampaikan aspirasi politiknya pada partai,” kata Novel.

Meskipun demikian, Novel menduga ada itikad tak baik dengan bergabungnya Ahok ke partai berlambang banteng itu. Menurut Novel, PDIP adalah partai yang tidak pro dengan aspirasi Ulama dan umat Islam, yaitu apa yang dia sebut sebagai partai pendukung penista agama dan pengkriminalisasi Ulama.

“Namun justru cocok kalau BTP bergabung di sana, akan semakin terasah karakter BTP-nya,” ujar Novel.

Apa maksud karakter BTP akan terasah, saya juga tidak tahu persis. Apakah itu maksudnya Ahok yang dulunya adalah sosok penista agama dan partai yang menampungnya adalah juga partai tidak pro ulama dan pro Islam?

Novel ini kadang lucu sekaligus bikin gemas. Mirip seperti narasi bapak tua yang mengkotak-kotakkan partai Allah dan partai setan. Novel menyebut partai yang berseberangan dengan mereka adalah partai tidak pro ulama, partai pendukung penista agama, partai pendukung pengkriminalisasi ulama. Seenak jidatnya mencap kubu sendiri paling bersih dan suci.

PA 212 ini adalah pihak yang sepertinya memiliki sertifikasi untuk mencap siapa penista agama, siapa tukang kriminalisasi ulama, siapa partai tidak pro Islam, siapa ulama menurut versi mereka. Siapa pun atau pihak mana pun yang tidak sejalan dengan mereka, maka siap-siaplah untuk dicap buruk.

Ahok mau kembali berpolitik atau tidak, mau gabung ke partai mana, itu hak dia yang tidak bisa di ganggu gugat. Novel yang terlalu berprasangka buruk sehingga mencium gelagat tidak baik mengenai bergabungnya Ahok ke PDIP. Logika yang aneh, memangnya Ahok mau jadi penjahat atau koruptor di sana? Jelas sekali kalau dia ingin membentuk narasi kalau Ahok yang seorang penista agama gabung ke partai pendukung penista agama. Intinya orang tidak baik akan berkumpul dengan orang yang tidak baik juga.

Lagi-lagi narasi penista agama kembali dimainkan. Padahal Ahok sudah menjalankan masa hukuman secara maksimal tanpa mengambil hak untuk bebas bersyarat. Kalau tidak salah kepala lapas Cipinang bahkan kagum dengan Ahok karena seumur hidupnya belum pernah melihat napi yang tidak mengambil bebas bersyarat. Usai jalani hukuman, Ahok harusnya tidak lagi dicap sebagai penista agama (meski dia tidak bersalah, hanya disalahkan karena tekanan politik dan massa yang hobi demo di Monas). Masa lalu sudah berlalu.

Tapi mereka tetap mencap penista agama pada Ahok dan bahkan partai pendukung pun ikut dicap. Memang begitulah potensi mereka, hanya bisa teriak penistaan agama, kriminalisasi ulama, tidak pro umat Islam. Padahal mereka harusnya malu, telah berkali-kali memanfaatkan agama untuk kepentingan politik praktis. Aksi bela agama tapi ada disisip dengan pesan politik dan dukungan terhadap salah satu calon presiden. Tak perlu berprasangka buruk kalau sendiri juga sering berperilaku buruk.

Satu pertanyaan pamungkas, seandainya Ahok bergabung dengan PA 212, apakah mereka masih akan mencium bau gelagat tidak baik atau bahkan akan mencium wangi sate padang? Intinya mereka ini distributor tunggal dalam mencap siapa pun. Kalau berseberangan dengan mereka, sama saja akan dinyinyirin dan dianggap musuh. Ulama yang berseberangan pun sepertinya tidak akan diakui.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *