BAASYIR BATAL DIBEBASKAN, JOKOWI MENANG GANDA, GORENGAN KUBU SEBELAH AKHIRNYA HANGUS

Xhardy – Seandainya Baasyir jadi dibebaskan dengan alasan kemanusiaan, ya mau gimana lagi. Ini juga keputusan pemerintah yang tentunya sudah dipikir panjang. Jokowi tidak ada untungnya dari pembebasan Baasyir, malah lebih banyak ruginya. Buktinya saat wacana ini menguat, gelombang protes sangat besar.

Tapi setelah itu, akhirnya case closed.

Kepala Staf Presiden Moeldoko memastikan bahwa saat ini permintaan pembebasan bersyarat atas Abu Bakar Ba’asyir tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah. Alasannya Ba’asyir tidak dapat memenuhi syarat formil sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan lebih lanjut didetailkan dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat.

Syarat formil bagi narapidana perkara terorisme, yaitu pertama, bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya. Ini tidak bisa.

Kedua, telah menjalani paling sedikit dua per tiga masa pidana, dengan ketentuan dua per tiga masa pidana tersebut paling sedikit 9 bulan. Dihukum tahun 2011 selama 15 tahun sesuai vonis. 2/3 masa tahanan berarti 10 tahun dan harus tunggu pada 2021 baru bisa bebas bersyarat. Opsi ini tak berlaku.

Ketiga, telah menjalani asimilasi paling sedikit setengah dari sisa masa pidana yang wajib dijalani.

Dan yang terakhir, menunjukkan kesadaran dan penyesalan atas kesalahan yang menyebabkan pemohon dijatuhi pidana dan menyatakan ikrar kesetiaan pada NKRI secara tertulis.

Opsi inilah yang bisa membebaskannya. Tapi akhirnya ditolak. Baasyir menolak meneken dokumen itu karena merasa tidak terlibat dalam perencanaan dan pendanaan latihan militer di Aceh. Dia hanya mengetahui latihan tersebut untuk para mujahid yang ingin berangkat ke Palestina dan latihan-latihannya bersifat sosial.

Selain itu Baasyir juga mendapat penjelasan dari Yuzril Ihza Mahendra jika Pancasila sejalan dengan Islam. Baasyir kemudian menganggap tak perlu meneken setia kepada Pancasila karena sudah setia pada Islam. Logikanya, loh kalau gitu sama dengan Pancasila dong. Kenapa nggak bela Islam saja, kan sama saja. Jadi argumen tersebut belum membuat Baasyir yakin.

Ya sudah. Case closed.

Tapi tak ada masalah juga lah. Jokowi malah untung di sini. Padahal Jokowi sudah siap diserang oleh kubu sebelah kalau sampai ini (pembebasan Baasyir) terjadi. Jadi jangan salahkan Jokowi lagi padahal dia sebenarnya menyambut baik permohonan Baasyir bebas. Sebab, kondisi kesehatan Baasyir yang kini sudah berusia 81 tahun terus menurun sehingga membutuhkan perawatan yang khusus. Dari sisi kemanusiaan, Presiden Jokowi sangat memperhatikannya dengan sungguh-sungguh.

“Namun ya Presiden juga memperhatikan prinsip-prinsip bernegara yang tidak dapat dikurangi dan tidak dapat dinegosiasikan,” ujar Moeldoko. Meski demikian, Moeldoko memastikan bahwa akses Ba’asyir terhadap fasilitas kesehatan tidak akan berubah. Bahkan akan ditingkat jika memang diperlukan dan sudah mendesak.

Jadi ini murni Baasyir sendiri yang memilih ngotot dengan pendiriannya. Jadi sah kita katakan masalah ini selesai. Baasyir lanjutkan lagi masa hukumannya. Jokowi pun untung ganda, karena bahan gorengan kubu sebelah pun layu. Bahkan sudah hangus duluan sebelum bisa dinikmati.

Kubu sebelah pasti sudah mengambil ancang-ancang jika pembebasan Baasyir benar-benar terlaksana. Penulis yakin mereka sudah sumringah bahkan sudah ngiler ingin segera menyerang. Maklum, Baasyir ini terkait dengan radikalisme, sehingga mereka bisa dengan mudah menuduh Jokowi tidak serius atau tidak pro pemberantasan terorisme. Isu ini akan sangat sensitif sekali dan pasti akan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebuah peluang langka yang untunglah lenyap.

Pesta pun batal. Kubu sebelah tak sempat melakukan serangan. Jokowi lagi-lagi menang banyak dalam isu ini. Dengan alasan kemanusiaan, ingin membebaskan Baasyir, tapi dianya sendiri yang menentukan batalnya pembebasan dirinya. Jokowi tak perlu pusing-pusing lagi, tinggal laksanakan sesuai aturan. Baasyir yang menentukan semuanya hingga berakhir seperti ini. Dikasih kesempatan tapi tidak mau. Ya sudah.

Sebenarnya penulis punya spekulasi mengenai wacana pembebasan Baasyir ini, tapi sudahlah, ini anggap saja sudah selesai. Ungkit pun percuma. Nanti malah dibaca para kampret dan digoreng beneran pulak. Mari lebih baik kita fokus dengan pilpres dan pantau kubu sebelah yang kadang suka bermanuver yang tidak-tidak.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *