PROSTITUSI ADA DI DALAM DIRI SENDIRI

OtnasusidE – Semua orang bermoral selalu bilang prostitusi itu merusak moral. Apakah demikian adanya? Sebuah pertanyaan yang patut disampaikan pada diri sendiri, baik sebagai makhluk lelaki maupun perempuan.

Prostitusi itu selalu memiliki daya tahan yang sangat luar biasa. Ada dalam seluruh peradaban. Ada dalam seluruh lapisan strata masyarakat. Semua ada pasarnya mulai dari selembar tikar ataupun pinggir rel kereta api hingga ke hotel berbintang berkasur pegas dan ditonton oleh ribuan kaca cahaya.

Bahkan di sebuah kota kecil ketika aku menerima tamu, masih ada juga yang nakal menanyakan boneka malam. Kepalaku langsung dibuat mumet dengan permintaan tamu ini.

Sebagai tuan rumah yang baik, tentu saja aku mengatakan di kota ini tidak ada tetapi bila ingin berjalan-jalan dalam kerlap kerlip lelampu kunang-kunang malam akan ditemani. Lagi pula aku juga manusia yang bermoral tipis tetapi hampir tidak pernah menghakimi.

Berputarlah kami dari satu tempat ke tempat lainnya. Akhirnya kami berhenti pada satu tempat. Sungguh bungkusnya sangat halus. Aku terhenyak dengan modelnya. Bukan model ikan ataupun model gandum sebagai makanan khas tradisional Palembang ya.

Makan minum dan tetiba ada lima perempuan dengan aneka gaya dan rasa mendatangi meja kami dan meja pun menjadi gelak tawa. Kepalaku pun sudah mumet dengan minuman.

Teman yang memang megang ponjen pun dengan royal membagi tips lima puluh ribuan setiap kali para perempuan itu bernyanyi ataupun menunjukkan keahliannya. Parahnya si teman bilang aku adalah bosnya. Somplak.

Akhirnya tiga perempuan mengerubungiku dan dua perempuan dibawa entah ke mana oleh tamuku. Akupun bilang aku sedang tidak tertarik karena memang aku datang hanya untuk menemani tamuku.

Sepertinya ada satu perempuan yang tak mau menyerah dengan pernyataanku. Dia terus menemaniku hingga subuh ketika tamuku kembali dengan dua perempuan. Ketika kami pulang pun si perempuan memberikan selembar tisu dengan nomor teleponnya.

Tamuku tertawa ngakak melihat tingkah perempuan muda, bertato hati di pusarnya kepada diriku. “Bawalah! Dia jatuh cinta padamu alias horny denganmu,” kata tamuku.

Aku menggeleng. Dan mentari pagi menyemburat diantara jejalanan yang masih berkabut di sebuah daerah di kawasan Bukit Barisan Sumatra.

Jalan Lintas Tengah Sumatra merupakan sebagian surga dunia bagi pencari orgasme semu. Silahkan dijabani di lintas tengah maupun timur. Mari. Tempatnya sederhana tetapi hingar bingar musik dangdut dan warna lampu menghias.

Ada juga yang kalem tak mencolok tetapi perempuan-perempuan berpakaian ketat membebat tubuhnya berseliweran di warung makan tersebut. Terkadang juga beralih wujud menjadi pijat urut tradisional.

Prostitusi pun tak membatasi umur. Perempuan yang masih bau kencur –padahal kencur itu sehat– ada yang menjajakan dirinya. Berawal dengan cabe-cabean ataupun seks bebas dengan teman temannya kemudian menjajakan diri daripada dengan teman nggak dapat duit lebih baik menjajakan diri dengan orang lain yang mau bayar, dapat duit dan peralatan elektronik yang sedang diimpikan.
Perantaranya ya teman-teman itulah.

Prostitusi pun sudah mengubah dirinya menjadi jual beli atas nama cinta, orgasme semu dengan beautifikasi artificial. Mulai dari operasi plastik hingga ke pemutihan plus memerahkan di bagian-bagian tubuh yang tersembunyi.

Kaki kupu-kupu bahkan menambahkan bisa juga loh memudakan warna yang tadinya sudah coklat tua menjadi coklat muda. Bahkan temannya yang ahli bedah sampai menimba ilmu ke Jepang untuk merekonstruksi daerah pro kreasi ataupun rekreasi.

Walau demikian tidak semua beautifikasi itu untuk kegiatan yang berjualbeli atas nama cinta, orgasme semu. Ada juga yang memang melakukan beautifikasi untuk pasangan tercinta.

Prostitusi juga tidak memandang jenis kelamin, umur dan juga religiusitas. Semua bisa masuk dan terjebak di dalamnya karena memang asik masyuk.

Offline dan online juga hanya tempat alias proses untuk bertukar cairan. Jadi sudahlah itu hanya media saja. Semua tergantung kepada kesadaran terbawah diri yang namanya manusia. Mau menjaga kemaluan boleh tidak mau menjaga kemaluan juga boleh.

Masalahnya adalah ketika orang sudah kebelet otaknya maka kemaluannya sudah tidak malu lagi. Suka tidak suka, hajar!. Ha ha ha.

Demikian pula ketika orang sedang jatuh cinta maka pembatas sudah tidak ada lagi. Kalau cintanya sudah disahkan oleh lembaga yang berwenang dan ada saksinya maka mau jungkir balik dan tidak malu-malu juga ra popo.

Aku tak mau berurusan dengan penyakit. Toh sejak zaman dulu, ada raja singa dan juga banyak macamnya, prostitusi juga jalan. Hal yang lebih ganas lagi adalah HIV AIDS pun ternyata tak menyurutkan langkah mereka yang bergelut di dunia prostitusi untuk mundur.

Lalu bagaimana dengan gerakan moralitas? Sudahlah, tapi juga jangan menyerah karena memang itulah pertarungan abadi, antara baik dan buruk. Semua pertarungan abadi itu sebenarnya adalah di diri sendiri. Jika aku, anda, kamu mau, ya pasti akan terjadi karena memang ada kebutuhan dari kedua belah pihak.

Apa yang ada dibenak lelaki mature ketika ada perempuan muda memeluk tubuhnya dan bilang, “I am free. I am yours,”. Apa yang ada dibenak lelaki mature ketika ada perempuan mature memegangi tas lelaki mature dan meminta nomor telepon dalam sebuah perjalanan kereta?

Bisa jadi semua ini tentang uang. Bisa jadi terkadang tidak selalu dan tidak selamanya tentang uang? Sebagai bahan perenungan mungkin kita perlu nonton Indecent Proposal? Moral digoyang dengan uang. Prostitusi ada di dalam diri sendiri. Bagaimana menurut Kompasianer?

sumber: kompasiana.com
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *