PIDATO JOKOWI ‘MEMBAKAR’ SEMANGAT ALUMNI UI ‘MENAMPAR MUKA’ PRABOWO

Mora Sifudan – Siapa bilang pidato bagus itu yang penting berapi-api? Siapa bilang pidato hebat itu hanya mengandalkan suara keras dan kelihatan tegas – meskipun itu dibutuhkan – seperti Prabowo? Pidato itu tentang isi, intonasi dan penekanan. Pidato itu tidak hanya modal teriak-teriak sampai serak. Berpidato itu berarti pesan atau isi pidato tersampaikan dengan intonasi dan penekanan yang tepat.

Di hadapan alumni UI – bukan Iluni UI – Jokowi berpidato dengan sangat bagus. Isi dan pesan pidatonya tersampaikan dengan baik. Intonasi dan penekanannya tepat pada saat-saat yang diperlukan.

Sekali menonton pidato Jokowi, saya langsung mendapat pesan dan isinya dengan sangat jelas. Saya lihat pula bahwa pendengarnya sangat memperhatikan baik-baik mengikuti intonasi dan penekanan Jokowi. Pidato Jokowi mampu membakar semangat alumni UI. Jokowi mampu meyakinkan alumni UI bahwa dia telah bekerja dan dia pantas melanjutkannya untuk periode kedua. Dia – secara tidak langsung – meminta alumni UI agar ikut serta menjadi ‘mulut’ Jokowi untuk menyampaikan pencapaian selama periode pertama.

Menjadi presiden itu harus berpengalaman dalam manajemen birokrasi

Cerita Jokowi saat mau jadi Walikota sangat mengena sekali. Dia menceritakan bahwa satu setengah tahun pertama dia harus belajar menjadi seorang birokrat agar bisa menjalankan pemerintahan daerah. Dan itu tidak mudah. Tidak semudah yang orang pikirkan.

Secara tidak langsung dia mau mengatakan ke Prabowo bahwa tanpa pengalaman di birokrasi gak usah sok paham pemerintahanlah. Mengingat Prabowo tidak punya pengalaman di pemerintahan. Jadi ketua RT saja tidak pernah.

Ketika dia melanjutkan lagi soal pencalonannya di periode ke dua di Solo, jadi Gubernur di Jakarta, lalu jadi presiden, seolah mau mengatakan ke Prabowo bahwa dia yang sudah berpengalaman dalam pemerintahan bertahun-tahun pun tetap tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mengelola sebuah negara. Apalagi Prabowo yang tak punya pengalaman, mau di bawa ke mana Indonesia ini?

Isu antek asing

Selama ini Jokowi memang dituduh sebagai antek aseng-asing. Hari ini Jokowi seolah menampar muka pada penebar isu kurang ajar itu. Jokowi membeberkan pencapaian pemerintah dalam usaha merebut kembali perusahaan migas dan tambang yang dikelola asing seperti Rokan, Mahakam dan Freeport.

Pertanyaan Jokowi sangat telak. Kalau pemerintah sudah menguasai blok Rokan, Mahakam dan 51% saham Freeport dengan cara yang tidak mudah, lalu antek asingnya ada di mana. Suatu Pertanyaan yang memaksa Prabowo dan seluruh kampret-kampretnya menutup muka karena malu tidak kepalang.

Kalau bahasa pasaran mungkin seperti ini, “Hoi cuk, ojok keakean cangkem, kon cuk! Tak pancal raimu.” Tapi sayang, Jokowi terlalu santun untuk mengucapkan kata-kata seperti itu.

Indonesia optimis vs Indonesia bubar dan punah

Kita tahu semua bahwa Indonesia bubar dan punah keluar dari mulut Prabowo. Dia menyatakan itu ketika berpidato. Dia memprediksi Indonesia tahun 2030 dengan mencatut cerita fiksi dalam sebuah novel berjudul Ghost Fleet karangan August Cole dan P. W. Singer.

Sementara mengenai Indonesia bubar, Prabowo menyatakannya juga dalam pidatonya. Dia kala itu menyoroti keinginan rakyat akan adanya perubahan. Perubahan dimaksud berkaitan dengan pemerintahan bersih dari korupsi sementara pemerintah selalu gagal menjalankan amanat rakyat. Untuk itu dia mengatakan jangan sampai mereka kalah. Jangan sampai mengecewakan keinginan rakyat. Kalau sampai kalah, Indonesia bisa punah.

Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan bahwa Indonesia harus optimis. Mengelola negara memang tidak mudah. Tantangannya banyak dan berat. Tetapi menghadapi tantangan itu Indonesia tidak bisa menyerah. Tidak ada Indonesia bubar. Tidak ada Indonesia punah. Jokowi menyatakan bahwa Indonesia harus tetap optimis untuk jaya apa pun tantangannya.

Pidato Jokowi ini seperti mau menampar wajah Prabowo yang pesimis dan penuh ketakutan serta menakut-nakuti. Bagaimana mungkin negara sebesar Indonesia bubar? Hanya orang-orang pesimis yang percaya akan hal itu. Hanya negara yang dipenuhi penakut, penculik dan teroris saja yang akan mengakibatkan suatu negara bisa bubar.

Bagaimana mungkin kekalahan Prabowo akan menyebabkan Indonesia punah? Jangan ngimpi. Dipimpin SBY yang banyak menghasilkan koruptor dan program mangkrak saja, Indonesia malah tambah maju di tangan Jokowi. Kalau Prabowo jadi presiden mungkin Indonesia yang demokratis seperti sekarang mungkin akan punah berubah jadi Indonesia penuh ketakutan karena dipimpin penculik dan diktator, yang membungkam rakyatnya dengan penghilangan nyawa. Yang ada – kalau Prabowo jadi presiden – adalah Indonesia raya dalam khayalan, aslinya hancur.

Apa yang dikatakan Jokowi bahwa akan selalu ada harapan, selalu ada putra-putri bangsa yang akan menyelamatkan Indonesia. Dan putra bangsa itu bukan Prabowo yang pesimis dan menakut-nakuti anak-anak bangsa itu..

Salam dari rakyat jelata

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *