KEJAMNYA SURVEI: TRIO AMIEN RAIS-SANDI-PRABOWO HANCUR DI MATA MASYARAKAT!

Ahmad Maulana S – Kebenaran tak dapat disembunyikan, hati nurani tak bisa dibohongi, begitu kira-kira kondisi perpolitikan tanah air pada hari-hari terakhir ini.

Walau sempat membuat cemas sekaligus gemas buah riuhnya hoax yang bertaburan di seantero negeri, pada akhirnya sejarah kembali angkat suara.

Melalui kenyataan yang terpampang hari ini, sejarah kembali membersihkan dunia perpolitikan negeri ini.

Hari ini mata Indonesia kembali terbuka, bahwa negeri gemah ripah loh jinawi ini memang tak sama dengan Negara-negara lain yang masyarakatnya mudah terprovokasi.

Trump boleh menang di Amrik sana. Namun bila cara-cara yang identik digunakan di Indonesia, hasilnya hanya akan menjadi semacam “Go to hell…!!!” bagi para pengkloning cara tersebut.

Terbukti, melalui survei yang dirilis oleh Indikator Politik Indonesia, elektabilitas pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul 20 % atas pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hal tersebut berarti pula bahwa, ketika hoax dijadikan panglima dalam strategi politik, maka yang terjadi bukanlah teraihnya kemenangan, melainkan justru kekalahan yang amat telak.

Dalam pemilihan presiden, dikenalnya capres dan cawapresnya memang merupakan kebutuhan yang paling utama, karena secara logika tak mungkin orang akan memilih calon yang tidak dikenal olehnya sama sekali.

Namun apabila pengenalan pasangan capres-cawapres itu sendiri dilakukan dengan cara-cara yang buruk, bukannya meraih simpati dan dukungan dari calon pemilih, yang terjadi justru sebaliknya, yaitu pemilih akan lari menghindar, barangkali sambil sesekali buang ludah saking muaknya dengan keburukan yang ditebarkan oleh pasangan capres-cawapres tersebut.

Pada titik itulah sepertinya letak kesalahan terbesar yang dimiliki oleh pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandi.

Menganggap bahwa dikenal masyarakat terlebih dahulu adalah tujuan yang paling utama, membuat pasangan Prabowo-Sandi melakukan begitu banyak tindakan yang dinilai tak sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia. Beberapa tindakan politik yang dilakukan Prabowo-Sandi bahkan bisa dibilang amat bertentangan.

Hasilnya, jelas. Dalam rilis hasil survei terbaru yang dilakukan Indikator Politik Indonesia terkait elektabilitas pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya mendapat angka 34,8% alias sangat tertinggal jauh bila dibandingkan dengan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, yang unggul dengan perolehan 54,9%.

Hal tersebut membuktikan bahwa penggunaan hoax yang ditujukan untuk menyudutkan salah satu pasangan calon, selain terbukti gagal juga berbalik meningkatkan militansi internal dari pendukung calon yang diserang hoax tersebut.

Hal tersebut sejalan dengan hasil survei yang juga menyatakan bahwa karakteristik pemilih kedua pasangan calon tersebut cenderung setara, dalam artian para responden cenderung tak percaya terhadap informasi yang menyudutkan pilihan mereka, tapi mereka percaya pada informasi negatif tentang calon lain.

Kesimpulan dari semuanya menjadi amat tegas, yaitu bahwa hoax yang bagaimanapun hebatnya, tak akan mampu mempengaruhi para pemilih Jokowi untuk pindah ke lain hati. Apalagi untuk pindah pilihan kepada calon yang banyak melakukan kebohongan yang amat murahan.

Maka penggunaan hoax demi merebut pemilih Jokowi jelas merupakan angan semata, yang tak akan mungkin bisa menjelma menjadi kenyataan sebab pemilih Jokowi bukanlah orang-orang yang bisa dibohongi hanya dengan penggunaan politik identitas maupun fitnah murahan

Dalam contoh kasus hoax Ratna Sarumpaet, misalnya. Kasus hoax tersebut malah menyebabkan adanya sentimen positif atau lebih mendukung terhadap Jokowi-Ma’ruf, sebaliknya meningkatkan sentimen negatif atau lebih tidak mendukung pada Prabowo-Sandi.

Sementara itu, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memprediksi sejumlah partai politik menengah belum aman karena memiliki tingkat elektabilitas yang kecil hingga dinilai sulit untuk menembus angka 4 persen sebagai ambang batas parlemen.

Menyoroti perolehan elektabilitas PAN yang amat rendah yaitu sebesar 1,8 %, peneliti LSI Ardian Sopa mengatakan bahwa PAN harus bisa memunculkan sosok pendobrak agar mampu bersaing dengan partai yang lain.

Menurut Ardian, PAN harus bisa mencari sosok pengganti Amien Rais yang dinilai sudah memudar.

“PAN yang selama ini mengandalkan pamor Amien Rais harus mampu mencari alternatif sumber pendobrak baru karena pamor Amien Rais yang memudar,” sebutnya.

Bagaimanapun juga, kebenaran memang tak akan pernah dapat disembunyikan. Apalagi hati nurani, benar-benar tak bisa dibohongi walau dengan segala macam hoa, fitnah serta pemaksaan sekalipun.

Dan kebenaran yang terpampang hari ini membuktikan betapa telah hancurnya nama trio Amien Rais, Sandiaga Uno-Prabowo di mata masyarakat. Bahwa ketiga nama tersebut, sejatinya memang benar-benar tak didukung serta tak dibutuhkan masyarakat. Karena yang dibutuhkan rakyat adalah tipikal seperti Jokowi, yang benar-benar merakyat serta bekerja untuk rakyat.

Sementara Amien, Sandi dan Prabowo, tak lebih cuma ge-er sendiri sok merasa dibutuhkan rakyat, namun anehnya tanpa pernah melakukan satupun kebaikan yang bisa bermanfaat bagi rakyat itu sendiri.
sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup
www.sinabungjaya.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *