SEHARUSNYA: PRABOWO MENANG, INDONESIA BISA PUNAH!

Locusta Gregorius – Kelompok sebelah belum menjadi penguasa saja, gayanya sudah seperti penguasa. Bagaimana jika benar-benar menjadi penguasa? Bisa tamat riwayat negeri ini.

Awal dari hancurnya sebuah negeri adalah adanya politik yang memecah belah. Hal inilah yang seharusnya perlu kita waspadai bersama sebagai anak negeri. Ada banyak orang di luar sana yang ingin menjadi penguasa demi melanggengkan keinginan golongannya. Ada banyak! Mereka beralibi dengan mengatakan suara yang mereka gaungkan adalah suara rakyat. Rakyat yang mana? Rakyat atau golongan tertentu?! Entahlah.

Memasuki awal tahun di tahun 2019, sudah begitu banyak kebohongan yang diumbar pihak penantang Jokowi. Hari pertama, Prabowo mengatakan bahwa selang cuci darah di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang seharusnya dipergunakan untuk 1 (satu) orang, malah dipergunakan untuk 40 (empat puluh) orang. Hari kedua, Sandiaga yang berbohong dengan mengatakan beliau membangun tol Cipali tanpa hutang. Hari ketiga giliran Andi Arief dari Demokrat yang menyebar kebohongan dengan menyebut adanya 7 (tujuh) kontainer dari Cina berisi surat suara yang telah dicoblos di Tanjung Priok.

Hal ini sangat bertentangan dengan petahana yang sangat optimis menghadapi tahun 2019 (kita bisa lihat di media sosial Jokowi). Satu pihak sibuk menggembar gemborkan kabar bohong (simbol pesimis) kepada masyarakat, dan satu pihak dengan cekatan mengabarkan semangat optimisme. Sangat berbanding terbalik.

Semakin hari, etika politik kita semakin tidak beradab. Kita mulai kehilangan budaya timur yang sopan, santun, tenggang rasa hingga saling menghormati sebagai sesama anak bangsa. Saya termasuk orang yang tidak setuju dengan sikap Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengirimkan award mengenai kebohongan kepada lawan politiknya. Di satu sisi, ada kesan bahwa PSI seakan-akan menghalalkan segala cara demi meraih suara rakyat. Sebagai partai yang baru, yang katanya diwakili oleh para pemuda, seharusnya PSI membawa semangat jiwa muda yang energik, namun positif.

Sangat disayangkan, seluruh mata masyarakat diarahkan pada tindakan yang dilakukan PSI. Ada sikap yang sangat tidak baik untuk dicontoh. Sikap saling sindir menyindir, fitnah, menghina adalah bukti bahwa iklim politik kita masih anak-anak. Mengutip pernyataan dari Gus Dur, DPR isinya anak TK semua.

Apa yang dilakukan PSI hari ini adalah bukti bahwa mereka terpancing dengan gaya politik lawan yang membabi buta menghalalkan segala cara demi meraih simpati. PSI tidak perlu meniru Demokrat yang pura-pura sedih di depan kamera akibat atribut partai yang dirusak. PSI harus kembali pada jati dirinya.

Saya melihat bahwa kubu penantang hari ini diisi oleh elit-elit yang cukup mumpuni untuk merusak sendi-sendi bangsa ini. Tentunya hal ini adalah konsekuensi dari oposisi yang mencoba meraih simpati rakyat dengan cara merangkul kaum radikal. Sebut saja orang-orang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sibuk deklarasi #2019ganti presiden dan ganti sistem. Ada lagi orang-orang tamak seperti Fadli Zon yang kebelet ingin menjadi bagian dari penguasa. Ada lagi bagian dari penguasa di masa lalu yang rindu ingin menjadi penguasa kembali. Tidak ada yang salah jika mereka ingin menjadi penguasa. Yang salah adalah ketika mereka menghalalkan segala strategi demi meraih kekuasaan. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin jika mereka menang di Pilpres 2019, maka Indonesia akan punah.

Bagaimana tidak? Oposisi hari ini banyak membonceng orang-orang yang ingin mengubah sistem negeri kita. NKRI Bersyariah yang selalu digaungkan oleh Habib Rizieq adalah bukti bahwa mereka ingin mengubah negeri ini dari ideologi Pancasila. Jika hal ini dipaksakan, bukan tidak mungkin Negara Kesatuan Republik Indonesia kita akan pecah berkeping-keping. Dimana-mana akan ada pertumpahan darah. Daerah akan melawan. Dan mereka yang duduk di pusat akan menggunakan kekuatan militer untuk meredam perlawanan. Akhirnya, Indonesia bubar. Kita akan mengulang kembali sejarah Majapahit maupun Sriwijaya. Runtuh akibat lemahnya negara karena seluruh sumber daya dialihkan pada persaingan politik.

Apa yang menjadi ketakutan kita adalah ketika Prabowo menciptakan musuh di dalam selimutnya sendiri. Kita paham bahwa strategi Prabowo hadir di Reuni 212 pada tahun 2018 kemarin adalah bagian dari strategi meraih suara rakyat. Prabowo rela merangkul kalangan radikal demi tujuan politiknya.

Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika Prabowo memenangkan Pilpres 2019. Orang-orang yang berada di lingkarannya akan duduk dan berpesta ria merusak negeri ini. Apa yang terjadi di DKI Jakarta sudah lebih dari cukup sebagai cermin kita memandang masa depan negeri ini. Anies menang, DKI Jakarta amburadul. Prabowo menang, Indonesia bisa punah. Begitulah kira-kira.

Apa jadinya jika sosok-sosok seperti Fadli Zon, Amien Rais, Ahmad Dhani, Mardani Ali Sera, Andi Arief duduk di pemerintahan? Bisa kita tebak. Sebagian mereka akan mencoba mengganti sistem negara ini. Mereka kan sangat berambisi untuk mengubah sistem negeri ini. Sebagian lagi dari mereka akan sibuk rekaman menciptakan lagu. Toh, kita perlu apresiasi untuk talenta terbaru dari seorang Fadli Zon. Ternyata selain berbakat menjadi Wakil Ketua DPR yang dimuliakan, ternyata beliau punya potensi besar sebagai penyanyi. Sangat layak jika kita sandingkan dengan SBY.

#JokowiLagi

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *