KONTEMPELASI AHOK

Daniel H.T.- Penjara tidak membuat nama harum Ahok hilang dari peredaran, ia tak sedikit pun dilupakan. Dari mulai waktu ia dipenjara (9 Mei 2017) sampai dengan saat menjelang ia bebas murni pada Januari 2019 mendatang, namanya masih sering disebut-sebut banyak orang dengan kagum dan hormat.

Larisnya film biopik yang inspiratif tentang Ahok, A Man Called Ahok (masuk dalam daftar 10 film Indonesia terlaris di tahun 2018), membuktikan masih banyak orang di Indonesia yang respek terhadapnya sehingga ingin mengetahui riwayat kehidupannya dengan menonton film tersebut.

Mereka penasaran dan ingin tahu proses apa dan bagaimana yang menempa ia menjadi seorang Ahok seperti sekarang, yang berprinsip teguh tak tergoyahkan, konsisten dalam kepatutan terhadap hukum sekalipun hukum itu tak adil kepadanya, sangat tegas, tanpa kompromi, keras bahkan cenderung kasar dengan keberanian yang luar biasa saat berhadapan dengan pejabat-pejabat negara bermental koruptif.

Apa langkah Ahok ke depan setelah ia bebas dari penjara pun menjadi berita dan bahan diskusi di beberapa media, antara lain isu tentang rencana dia menjadi kader PDI-P yang dihembus oleh mantan koleganya Djarot Saiful Hidayat. Informasi ini menjadi bahan diskusi di Kompas TV, dalam acara “Sapa Pagi” beberapa waktu lalu, dengan thema “Ahok Bergabung ke PDI-P?”, menghadirkan Ketua DPP PDI-P, Nusyorwan Soejono, Ketua Departemen Politik DPP PKS, Pipin Sopian, dan analis komunikasi politik dari UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto.

Ternyata, seperti yang diutarakan oleh Djarot, yang juga Ketua DPP Bidang Organisasi PDI-P (14/12/2018), meskipun sudah disebut Ahok berniat masuk PDI-P, melalui utusannya yang mengunjungi Ahok di Rutan Mako Brimob, ada parpol lain yang membujuk Ahok agar setelah bebas nanti menjadi kader parpol itu, tetapi dengan halus ditolak Ahok. Ahok mengatakan kepadanya, jika ia jadi masuk parpol, ia hanya mau ke PDI-P. Pun, jika menjadi anggota PDI-P, ia hanya ingin menjadi anggota biasa yang bisa berkontribusi untuk partai.

Menurut salah satu staf Ahok, Ima Mahdiah, menjelang kebebasannya, Ahok sudah mendapat banyak undangan sebagai pembicara tentang pengalaman dan filosofi hidup pribadinya, birokrasi, dan lain-lain. Undangan itu datang dari beberapa kota di Indonesia, maupun dari luar negeri. Dari luar negeri undangan datang dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Timor Leste, Australia, New Zealand, dan Amerika Serikat.

Ima juga mengatakan, setelah bebas nanti, Ahok akan membuat suatu gebrakan yang mengejutkan. Tapi ia tidak mengungkapkan apa kejutan tersebut.

Ketika bertemu dengan Direktur Jenderal Pemasyaraktan Sri Puguh Budi Utami, Senin (10/12/2018) lalu, sejumlah wartawan teringat Ahok, dan mereka pun bertanya tentang tanggal pasti Ahok bebas murni.

Sri Puguh menjelaskan, Ahok akan mendapat remisi Natal 2018. Total remisi yang sudah dan akan diterima Ahok adalah 3 bulan 15 hari (105 hari), sehingga Ahok akan bebas murni pada 24 Januari 2019.

Di artikel saya di Kompasiana, yang saya tulis pada 25 Desember 2017, dengan judul Menghitung Remisi Ahok, Kapan Dia Bisa bebas?, saya menguraikan terlebih dahulu dasar hukum perhitungannya, dari situ, perhitungannya menjadi sebagai berikut:

Remisi pertama yang diperoleh Ahok pada 25 Desember 2017 (hari raya Natal) disebut Remisi Khusus, sebab diberikan khusus pada hari raya agama yang dianut si narapidana (Ahok). Karena pada waktu itu Ahok baru menjalani masa hukuman 7 bulan dari minimal 6 bulan, tetapi belum satu tahun, maka remisi yang diaperoleh hanya 15 hari. Sampai di sini waktu bebasnya yang seharusnya 9 Mei 2019, menjadi 24 April 2019.

Remisi kedua yang diperoleh Ahok pada 17 Agustus 2018, disebut Remisi Umum, sebab diberikan secara umum untuk semua narapidana yang memenuhi syarat mendapat remisi, yaitu pada setiap Hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Karena ketika itu Ahok sudah menjalani masa hukuman minimal 1 tahun penjara, maka remisi yang dia peroleh adalah sebanyak 60 hari. Sampai di sini waktu bebasnya yang seharusnya 24 April 2019 menjadi 23 Februari 2019.

Pada tulisan saya tersebut di atas, saya menyebutkan ada kemungkinan Ahok mendapat Remisi Tambahan, yaitu jika oleh yang berwenang memberi remisi (Menteri Hukum dan HAM) ia dianggap memenuhi syarat untuk itu, yaitu, jika ia (narapidana) dinilai telah melakukan: suatu jasa kepada negara, perbuatan yang bermanfaat bagi negara atau kemanusiaan, atau perbuatan yang membantu kegiatan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan.

Jika Remisi Tambahan ini diberikan kepada Ahok, ia akan mendapat potongan masa tahanan lagi sebanyak 30 hari, hingga waktu bebasnya berubah dari 23 Februari 2019 menjadi 3 Februari 2019.

Jika ditambah dengan Remisi Khusus kedua yang akan diperoleh pada 25 Desember 2018 nanti sebanyak 30 hari lagi, maka Ahok diperkirakan bebas pada 4 Januari 2019.

Demikian yang saya uraikan di tulisan saya tersebut di atas.

Namun, ternyata, Remisi Tambahan sebagai remisi yang ketiga itu tidak diberikan kepada Ahok. Remisi ketiga Ahok baru akan diberikan sebagai Remisi Khusus pada 25 Desember 2018, sebanyak 30 hari, sehingga demikian, dari Remisi Umum 17 Agustus 2018, waktu bebas Ahok berubah dari 23 Februari 2019, menjadi pasti pada 24 Januari 2019.

Berarti perhitungan saya tersebut benar adanya.

Dari berbagai kesaksian orang-orang yang pernah mengunjungi Ahok di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, diperoleh informasi bahwa kondisi kesehatan fisiknya tampak semakin baik, tidak lagi kegemukan, perut yang dulu sedikit buncit, kini sudah rata. Demikian juga dengan kondisi kejiwaannya yang kelihatan semakin matang.

Mereka yang datang berkunjung ke Rutan Mako Brimob, Depok, itu banyak yang kecele, mengira akan melihat Ahok yang lusuh, stress berat, sehingga perlu diberi penghiburan dan semangat. Saat bertemu Ahok, yang terjadi justru sebaliknya, Ahok tampak semakin sehat, ceriah, dan justru mereka yang diberi semangat oleh Ahok.

Salah satu pengacara Ahok, I Wayan Sudirta, yang mengunjungi Ahok sebulan lalu, menegaskan kembali hal itu.

“Pak Ahok makin sehat, jiwanya makin matang. Menjadi semakin sahat dan emosinya sudah menurun, sudah bagus,” katanya pada 3 Desember 2018.

Wayan menambahkan bahwa selama dipenjarakan Ahok mendapat kemajuan dari sisi rohani, mental maupun kesehatan. “Dari segi tutur kata, banyak sekali kemajuannya.” (Tempo.co).

Penjara benar-benar telah menempa jiwa dan karakter Ahok menjadi jauh lebih matang daripada sebelumnya. Dari seorang yang temperamental, dari orang yang gampang tersulut emosinya menjadi orang yang penyabar dan pemaaf. Kasus penistaan agama, yang diikuti dengan hukuman dua tahun penjara terhadapnya telah mengubah karakter Ahok menjadi lebih kalem dan bijaksana .

Di dalam suratnya bertanggal 26 Juli 2017 kepada saya, Ahok menulis refleksi dirinya tersebut, tulisnya:

“Saya sedang diajar Tuhan agar mampu menguasai diri di dalam tahanan. Saya harus mengatasi perasaan terkurung, dengan mengendalikan hati, pikiran dan emosi. Jika sudah lulus, saya akan dibebaskan Tuhan untuk melayani masyarakat kembali.”

Selama menjalani masa hukumannya itu Ahok memanfaatkan sebaik-baiknya untuk berkontempelasi lewat perenungan yang dalam, membaca Alkitab, banyak berdoa minta bimbingan Tuhan, dan belajar dari banyak buku-buku motivasi dan inspiratif yang dikirim oleh warga dari seluruh Indonesia kepadanya.

Bisa jadi hukuman penjara merupakan jalan Tuhan bagi Ahok, agar ia bisa merefleksi diri secara penuh, agar lahir kembali, berubah menjadi sosok yang lebih rendah hati, bukan pemarah lagi, tetapi penyabar, yang tidak lagi kasar dalam bertutur-kata, supaya dapat menjadi orang yang lebih bijaksana.

Proses berkotempelasi itulah yang diduga membuat ia beberapa waktu lalu memutuskan tidak mengambil haknya untuk pembebasan bersyarat. Ahok ingin menuntaskan proses kontempelasinya itu, agar selepasnya dari penjara ia dapat berubah menjadi pribadi yang baru, yang lebih matang jiwanya, sosok yang penyabar, yang dapat mengendalikan emosinya, tanpa melepaskan prinsip-prinsip hidupnya yang paling hakiki, yakni ketaataan pada hukum, dan gigih melawan segala macam bentuk perilaku koruptif.

Di dalam buku berjudul Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik; Refleksi bagi Para Pemimpin, oleh Michael C. Tang, yang saya kirim buat Ahok, terdapat banyak nasihat tentang kehidupan dari Lao Tzu, antara lain nasihat yang mengatakan,

“Yang paling mulia adalah orang yang lahir dengan kebijaksanaan. Berikutnya orang yang menjadi bijaksana melalui belajar. Berikutnya adalah mereka yang baru mau belajar setelah mengalami kesulitan hidup. Yang paling buruk adalah mereka yang tidak mau mencoba untuk belajar.”

“Tidak ada sesuatu pun di dunia yang selunak air. Namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat.”

Ajaran-ajaran seperti itu rupanya telah menyadarkan Ahok bahwa tidak semua masalah ketidakbenaran harus dihadapi dengan cara yang keras. Tak jarang cara keras justru semakin membuat masalah kian rumit, karena keras bentrok dengan keras, tak ada yang mau mengalah. Saat keras melawan keras yang terjadi adalah amarah-amarah yang saling membakar, saling ingin menjatuhkan.

Sebaliknya, kesabaran dan kelemahlembutan yang tulus justru lebih dapat menaklukkan hati orang yang sekeras apapun. Orang sejahat apapun dapat luruh hatinya, lalu menjadi insaf, ketika lawan yang ia benci dan serang terus-menerus menghadapinya dengan kesabaran dan kelemahlembutan. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan kebaikan.

Demikian juga belajar dari kasusnya itu, Ahok pun pasti tidak akan lagi menyinggung hal-hal yang terkait dengan agama dan keyakinan orang lain, terutama saat berada di tempat umum. Hal yang juga menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Dalam perjalanan waktunya di penjara, dalam kontempelasinya, Ahok merasakan dirinya dituntun dan ditempa Tuhan untuk membentuk karakternya yang baru.

Di dalam suratnya yang kedua kepada saya, bertanggal 22 Mei 2018, Ahok menulis puji syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Kasih:

“Saya baik-baik saja di sini dan bersyukur dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk banyak belajar. Bersyukur diberikan kesehatan, sukacita dan ada damai sejahtera Allah yang melampui segala akal menyertai hati dan pikiranku. …”

Sesungguhnya tidak hanya kepada Ahok, tetapi juga kepada semua kita, termasuk kepada musuh-musuhnya, lewat kasus Ahok tersebut seharusnya juga merenung, merefleksikan diri untuk apa yang telah kita lakukan dalam kaitannya dengan mendukung, ataupun memusuhi Ahok.

Ketika mendukung Ahok, apakah dukungan itu tidak terlalu berlebihan sampai cenderung mengkultuskan dirinya? Sesungguhnya — yang harus dilakukan — adalah mendukung dengan tetap bersikap kritis terhadapnya. Jika ia benar didukung sepenuhnya, dan jika ia salah seharusnya diingatkan. Mendukung secara membabi-buta justru akan menjerumuskan Ahok.

Demikian juga dengan sikap memusuhi Ahok, apakah sungguh memusuhinya karena ia dianggap telah menistakan agama, atau karena faktor perbedaan pilihan politik, karena faktor SARA; karena dia Tionghoa dan Kristen? Sehingga patut dibenci dan dendam selama-lamanya, bahkan menghalalkan darahnya? Kalau sudah begitu apakah sesuai dengan ajaran agama yang sesungguhnya harus mengedepankan kasih sayang dan pemaaf? Allah saja maha pemaaf, masakan umatNya bersikap sebaliknya?

Jika sungguh hanya karena Ahok dianggap telah melakukan penistaan agama, sesungguhnya dengan dia sudah divonis penjara dan menjalani masa hukumannya itu secara penuh sesuai dengan aturan hukum, maka kasus tersebut sudah selesai. Tidak boleh ada lagi kebencian dan dendam. Kalau masih ada, berarti sikap membencinya bukan hanya karena kasus penistaan agama itu.

Mantan Ketua MUI, yang kini cawapres Ma’aruf Amin, yang merupakan orang yang paling “bertanggung jawab” atas fatwa MUI yang menyatakan Ahok telah melakukan penistaan agama, dan sebagai saksi yang memberatkan untuk Ahok di persidangan, yang berujung pada vonis 2 tahun penjara untuknya itu, pun sudah beberapakali menyatakan bahwa begitu vonis hukuman kepada Ahok berkekuatan hukum tetap dan Ahok pun menjalani hukumannya itu, maka sesungguhnya kasus penistaan agama itu sudah selesai.

Ahok sendiri sejak awal sudah menyatakan, meskipun ia pernah merasa dizolimi dengan fatwa dan vonis penjara itu, ia sama sekali tidak dendam kepada siapapun juga yang dianggap bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepadanya itu. Ia sejak awal, sudah memaafkan mereka semua, termasuk kepada Ma’aruf Amin.

Konsisten dengan pernyataannya tentang sudah selesainya kasus Ahok itu, menjawab pertanyaan wartawan, Ma’aruf Amin pun menyatakan ia bersedia dipertemukan dengan Ahok, jika mantan Gubernur DKI Jakarta itu sudah bebas, sebaliknya menurut Djarot Saiful Hidayat, Ahok juga tidak berkeberatan jika dipertemukan dengan Ma’aruf Amin, untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan kembali bersatu sebagai sesama WNI, demi kemajuan bangsa dan negara.

Atas inisiator Relawan Nusantara, Nusron Wahid, Ma’ruf Amin sudah bertemu dengan perwakilan pengurus Relawan Nusantara. Organisasi ini merupakan barisan pendukung Ahok pada Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu. “Buat saya, sekarang saya harus bergaul dengan semua pihak untuk keutuhan bangsa,” kata Ma’ruf Amin di kediamannya, Jalan Situbondo, Jakarta pada Senin, 24 September 2018. Ma’ruf juga menyebut, dirinya juga merasa perlu melakukan pertemuan khusus dengan para pendukung Ahok.

Saat Ahok dinyatakan terbukti bersalah melakukan penistaan agama dan divonis 2 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, timbul reaksi prihatin dan kecaman dari dunia internasional, seperti dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Biro Asia Timur dan Pasifik, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk kawasan Asia, Amnesti Internasional, ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR), dan beberapa media asing ternama, seperti BBC dan The Guardian dari Inggris, CNN, The New York Times dan The Washington Post dari Amerika Serikat, AFP dari Perancis, Aljazeera dari Qatar, Hurriyet dari Turki, Strait Times dan Channel News Asia dari Singapura.

Reaksi solidaritas dalam bentuk “Nyala Lilin untuk Ahok” pun bermunculan dari pendukung Ahok di berbagai kota di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, lalu menyebar ke berbagai kota di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera sampai di Papua, bahkan sampai di beberapa kota di beberapa negara.

Menjelang waktu bebasnya Ahok, di seluruh Indonesia diputar sebuah film biopik inspiratif tentang masa remaja Ahok yang membentuk karakternya menjadi seperti sekarang, A Man Called Ahok. Film ini dipuji dan mendapat review positif dari kalangan kritikus film Indonesia. Secara komersial film ini juga tergolong sukses, dengan pencapaian jumlah penonton 1.465.145 dan termasuk dalam 10 film Indonesia terlaris tahun 2018 (filmindonesia.or.id).

Ketika Ahok divonis hukum 2 tahun penjara pada 9 Mei 2017, pianis dan komposer terkemuka Ananda Sukarlan mengekspresikan keprihatinannya dengan menciptakan sebuah komposisi yang diberi judul “No More Moonlight Over Jakarta”.

Komposisi yang dibuat sebagai bentuk protes seorang Ananda Sukarlan terhadap ketidak adilan untuk Ahok itu dibuat berdasarkan pada Sonata Beethoven yang berjudul “Moonlight”. Karya tersebut juga diinterpretasikan secara visual oleh Julie Putra dengan indah. Visual art tersebut digambarkan dengan seseorang yang berusaha menggapai bulan dengan menaiki anak tangga di atas Jakarta yang terlihat dari adanya gambar api dari Tugu Monas.

Karya Ananda Sukarlan yang berjudul “No More Moonlight Over Jakarta” itu akan dimainkan oleh official pianist dari 32 Bright Clouds , Yael Weiss, pada konsernya yang di gelar di beberapa negara mulai tanggal 24 Januari 2018, bertepatan dengan tanggal bebasnya Ahok.

Washington DC merupakan kota yang menjadi jantungnya hak asasi manusia. Di kota tersebut berdiri kantor Amnesty International OHR atau Office Of Human Right.

Di kota tersebut, karya Ananda Sukarlan akan dimainkan oleh Yael Weiss yang merupakan official pianist dari “32 Bright Clouds”.

Yael Weiss akan membuka rangkaian konser tersebut di Strathmore Mansion, Washington DC pada tanggal 24 Januari 2019. Tanggal tersebut bertepatan sekali dengan tanggal selesainya Ahok menjalani masa hukumannya.

Rangkaian konser tersebut kemudian akan dilanjutkan di Western University, London Ontario Canada pada tanggal 26 Januari 2019. Selanjutnya, pada 15 Maret 2019 yang akan diadakan di Kerry Town Concert House, Ann Harbour, Michigan USA. Dilanjutkan di bulan Juni, tepatnya tanggal 2 Juni 2019 di Museum of Fine Art, St. Petersburg, Florida, USA, dan dilanjutkan pada tanggal 22 Juni 2019 di 32 Bright Cloud Recital in Havana, Cuba.

Musik adalah bahasa yang universal yang bisa menyentuh hati manusia yang paling dalam. Melalui musik, kita dapat mengungkapkan rasa bahagia, sedih, rasa terimakasih, simpati dan lain-lain. Dan melalui musiknya, Ananda Sukarlan membagikan rasa bahagia menyambut kebebasan Ahok dari masa tahanannya (anantakomunika.com).

Ananda Sukarlan, salah satu pendukung setia Ahok itu telah mempersiapkan penyambutan pembebasan Ahok itu dengan caranya sendiri sesuai dengan talenta yang dimilkinya di bidang musik, tentu para pendukung Ahok lainnya akan pula memberi penyambutan khusus untuk Ahok, saat ini nanti untuk pertama kali keluar dari Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, menghirup udara bebas, kembali menjalani kehidupan normalnya di Jakarta, sebelum memastikan apa langkah kehidupan selanjutnya di masa depan.

Apakah Basuki Tjahaja Purnama tidak akan lagi bercahaya di Jakarta, seperti komposisi karya Ananda Sukarlan itu: “No More Moonlight over Jakarta”?

Atau seperti yang pernah dikatakan Ahok: “Kamu kalau bangun pagi-pagi, pernah lihat cahaya fajar, ‘kan? Yang makin lama tambah terang sampai tengah hari. Itulah jalan, kalau saya benar, tetap akan terus terang. Kamu enggak bisa tahan. Enggak ada kegelapan yang bisa menahan cahaya fajar. Dia akan terus tambah terang.”

Kita lihat saja nanti. *****

sumber: kompasiana.com
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *