KASIHAN PSSI, KATANYA “EDY BERTAHAN SAMPAI 2020”

Mpok Desy-Buruknya penampilan Timnas Indonesia di Piala AFF 2018 adalah kekecewaan para pecinta bola tanah air, karena menjadi kegagalan Timnas Indonesia untuk lolos ke babak semifinal dan membawa harum nama Indonesia. Kondisi ini jugalah yang memberikan tekanan kuat pada Edy Rahmayadi untuk turun dari kursi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.

Sejatinya Edy memiliki kebesaran hati untuk mengundurkan diri mengingat dirinya juga memegang jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara yang menjadikannya jauh berada dari pusat kegiatan PSSI di Jakarta.

“Saya tak mikirin itu, yang penting Anda tak menyuruh saya mundur ajalah. Kalau kalian pun nyuruh mundur, saya tak mau mundur. Tolong kalian buat “Edy bertahan sampai 2020″. Sampai pada kongres berikutnya,” kata Edy Rahmayadi di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Rabu (5/12).

Waduh, koplak! Penulis kok jadi berpendapat bahwa Edy ini keras kepala dan egois yah. Padahal baik sebagai Ketua Umum ataupun Gubernur, keduanya memiliki kesamaan adalah sama-sama pelayan. Pemikiran yang keliru, ngawur dan old fashion jika beranggapan pemimpin itu dilayani! Itu dulu, zaman jadul ketika pemimpin identik dengan power dan tangan besi bisa perintah sana dan perintah sini. Zaman now, justru sebaliknya menjadi pemimpin itu melayani!

Pengertian penulis sih, ketika kita berada pada posisi atau jabatan tinggi maka disaat bersamaan ada tanggungjawab yang mengikuti sebagai konsekwensinya. Artinya, kita dituntut kemampuan untuk bisa membawa kebaikan dari yang kita pimpin. Bagaimana supaya menjadi kebaikan, maka kita harus turun, melihat dan mendengarkan langsung setiap permasalahan yang ada.

Bisa jadi Edy begitu mencintai PSSI, sehingga keras hati tidak akan mundur dari jabatannya meski banyak desakan publik. Bisa jadi dirinya telah memiliki rencana jangka panjang agar organisasi ini berjalan dengan baik. Menurutnya, evaluasi maupun kongres juga terus dilakukan.

“Saya tak mau mundur dari PSSI. Karena saya cinta dengan PSSI. Kita punya manajemen. Ada waktu kegiatan kongres tahunan, ada kegiatan evaluasi, setiap periode ada jadwalnya. Jadi di mana pun Ketua PSSI berada itu tak masalah. ini harus berjalan semuanya. Di PSSI ini lengkap ada pengkaji disiplin, kepala staf, sekjen. Semua ini tak bisa memutuskan satu persoalan karena ada statuta yang mengaturnya,” tutur Edy. Dikutip dari: cnnindonesia.com

Sudah menjadi rahasia umum Edy Rahmayadi ini dikenal suka nyeleneh dengan perkataan dan bahkan sikapnya. Pernyataan yang cukup fenomenal dari seorang Edy adalah “Apa urusan anda bertanya kepada saya.” Jawaban nyeleneh yang diberikan Edy ketika pembawa acara di Kompas TV menanyakan jabatan ganda yang dipegangnya kini. Demikian juga respon kocak terhadap video viral ketika dirinya mengelus pipi supporter PSMS di Stadion Teladan, Medan. Nyeleneh Edy mengatakan,” Sudah suatu kebiasaan saya memegang pipi. Jika enggak saya megang kepala”. Wadow…nggak nyambung pak!

Faktanya, Edy tidak memungkinkan untuk memegang dua jabatan secara bersamaan. Itu tidak adil bagi keduanya. Keegoan Edy, hanyalah akan menghancurkan satu diantara keduanya, dan kini PSSI lah yang menjadi korban kesombongan Edy.

Menurut pengakuannya sih Edy sempat berpikir untuk mundur dari Ketua Umum PSSI, tetapi bukan karena dirinya tak bisa menangani persoalan yang dihadapi PSSI. Melainkan lebih karena tak ingin menjadi sasaran bully dari berbagai pihak.

“Memang ada di benak saya akan mundur, iya, tapi bukan karena saya tak bisa menangani ini, bukan itu persoalannya. Tapi karena kepentingan pribadi saya. Saya kepengin santai, tak ingin di bully-bully,” ucap Edy memberikan penjelasan.

Blank dan tidak mengerti samasekali cara berpikir Edy Rahmayadi yang condong memprioritaskan diri dan keakuannya. Apakah Edy tidak melihat ini bukan soal dirinya, tetapi ini persoalan pembinaan PSSI. Apakah keegoan dari satu orang harus menghancurkan nama besar PSSI?

Begitu sombong Edy percaya diri bahwa rangkap jabatan sebagai Ketua Umum PSSI sekaligus Gubernur Sumut bukan sebuah hambatan. Dia juga menegaskan bahwa dirinya bukan gila jabatan. Konyolnya lagi, Edy mengatakan dirinya menyesalkan tak ada yang menyanjungnya.

“Karena di PSSI ini, begitu menang tak ada yang menyanjung saya, malah orang yang memakai kesenangan ini. Tapi begitu kalah, Edy Out. Saya mau tenang, santai, bukan karena saya tak bisa membina. Saya bawaan lahir memang begini. Saya tak gila jabatan, Pangkostrad pun saya tinggalkan apalagi hanya Ketua Umum PSSI,” tuturnya. (frn)

What?

Repotlah jika model gaya kepemimpinan Edy Rahmayadi menjadi role model pembenaran gaya pemimpin di negeri ini. Ini gaya jadul dan kelewat kuno! Ini bukan memimpin, tetapi ini menjajah! Nyatanya, model pemimpin seperti ini masih ada di negeri ini. Pemimpin yang gila hormat, dan senang disanjung. Mereka lupa ataukah berlagak bodoh untuk mengakui pemimpin itu sebuah pengabdian!

Lihat Jokowi, Presiden Republik Indonesia! Bayangkan jika seorang Edy Rahmayadi mengalami seperti Jokowi! Sudah bekerja siang dan malam habis-habisan, dan buktinya pun dirasakan, sekaligus juga bisa dilihat oleh mata, tetap saja tidak pernah dianggap! Tetap saja ada orang error yang menyalahkan Jokowi!

Apakah bijak PSSI membiarkan hancur demi ego seorang Edy Rahmayadi? Pemimpin macam apa yang hanya memikirkan dirinya, dan mengorbankan negara? #savePSSI

Kayaknya mending gitu aja deh.

#JokowiLagi

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *