GAK HERAN, BAHAR TIDAK MEMENUHI PANGGILAN POLISI

Mora Sifudan – Melihat video ceramah Bahar bin Smith terkait pelaporan dirinya telah menghina dan melecehkan presiden dan juga ketika di reuni 212, dia bagaikan singa mengaum yang tidak takut menghadapi proses hukum. Bahkan dia kelihatan menantang dan seolah mau jadi tumbal atas kejahatan. Ya begitu, kelihatan seperti singa Allah.

Beberapa hari yang lalu saya menulis juga tentang Bahar ini dengan judul: Bahar Bin Smith Ketakutan Membusuk Di Penjara. Kesimpulan saya, klarifikasi Bahar terhadap pelaporan itu hanyalah bentuk ketakutannya terhadap proses hukum. Karena memang dia sudah tahu bahwa perkataannya adalah pelecehan dan penghinaan paling parah sejauh ini, bahkan lebih parah dari pendahulunya Rizieq Shihab.

Terbukti Senin, 3 Desember 2018, dia tidak memenuhi panggilan kepolisian tanpa ada alasan apa-apa. Menurut kepolisian surat pemanggilan sudah dikirimkan dan dijadwalkan hari ini pemeriksaan. Karena hari ini tidak hadir, maka dijadwalkan kembali Kamis depan.

” Saya konfirmasi ke Bareskrim, enggak jadi hari ini.” (Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Syahar Diantono, CNNIndonesia)

“Apabila tidak datang akan dipanggil kedua, di alamat pondok pesantren atau alamat tempat tinggal yang lain.” (Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, CNNIndonesia)

Kenapa kepolisian langsung memanggil Bahar bin Smith? Karena kepolisian sudah memeriksa 11 saksi termasuk saksi pelapor. Maka sudah waktunya kepolisian memeriksa Bahar bin Smith. Seperti biasa kepolisian memeriksa terlapor untuk mengklarifikasi dan meminta keterangan terkait kasus dilaporkan. Kalau ternyata terbukti bersalah, maka akan dilanjutkan ke pengadilan. Jadi sesuai prosedurlah.

Kenapa begitu cepat prosesnya, apakah kepolisian menarget Bahar? Kalau membandingkan kasus penghinaan terhadap presiden yang terjadi sebelumnya, yang dilakukan oleh anak sekolahan keturunan Tionghoa beberapa waktu lalu, kepolisian sudah terkesan lambat karena menunggu laporan. Sementara terhadap anak sekolahan mereka langsung bergerak tanpa adanya pelaporan. Jadi jelas bukan karena ditargetkan, melainkan karena kasus pelecehan dan penghinaan terhadap presiden sangat meresahkan masyarakat dan membahayakan bagi negara.

Apakah pernyataan Bahar pantas dilaporkan? Dari pandangan orang biasa seperti saya, tanpa harus menjadi seorang pendukung Jokowi, hanya sebagai warga negara yang menghormati presiden sebagai simbol negara, pernyataan itu sudah pantas dilaporkan.

Demikian juga kalau kita mengacu pada pendapat para ulama yang selama ini sangat dihormati dan bukan bagian dari kubu-kubu politik, dakwah itu tidak patut dilakukan dengan mencela, menghina dan melecehkan orang lain. Dari segi logika ini, kalau orang biasa saja tidak boleh, apalagi kepala negara yang harus dihormati. Itu sesuai dengan ajaran agama, loh, bukan asumsi saya pribadi.

Belum kalau kita mengacu pada pernyataan Syafii Maarif, *”Ya, kalau dia melakukan kesalahan, melanggar hukum ya tidak apa-apa. Semua berkedudukan sama di depan hukum. Ya, tergantung apa yang diucapkan. Dakwah itu isinya macam-macam, apa kontennya itu yang penting. Ya, isi dakwah itu yang sejuk dong, yang damai yang membangun kesadaran manusia. Jangan menghina dengan berbagai hoaks, pakai ujaran kebencian dan segala macam. Itu menurut saya tidak beradab.”* (Syafii Maarif, IDN)

Nah tidak beradab kalau dilihat dari sudut pandang norma kesopanan, kesusilaan dan agama. Kalau dalam norma hukum, tidak beradab itu diterjemahkan sebagai tindak pidana. Jadi sudah tepat kalau Bahar dilaporkan. Jangan nanti mengatakan Bahar dikriminalisasi.

Kenapa Bahar tidak memenuhi panggilan? Selain ketakutan, kemungkinan besar sedang mengadakan konsolidasi sebab pada 2 Desember masih sibuk mengurus reuni 212. Konsolidasi yang dimaksud adalah apa isu yang akan dimainkan dan berapa massa yang akan mengawal ke kantor polisi. Jadi tidak heran, kalau tidak hadir. Justru kalau memenuhi panggilan, barulah kita heran.

Hal seperti ini sudah tidak asing lagi bagi kalangan mereka. Dulu Rizieq juga seperti itu, mangkir dulu lalu giring opini, setelah itu menghadiri panggilan kepolisian disertai tekanan massa. Buka hanya Rizeq, Amien Rais juga sempat mangkir dari panggilan kepolisian. Jadi sudah tidak asing lagi kebiasaan seperti itu.

Apakah kasus Bahar akan seheboh Rizieq? Oh tunggu dulu. Beda Bahar beda Rizieq. Rizieq sudah berpuluh tahun bermulut busuk. Jadi Bahar belum sekaliber Rizieqlah. Malah sebenarnya kalau video Bahar tidak diviralkan, kepolisian sepertinya menganggap Bahar hanya kroco-kroco saja. Jadi sebenarnya tidak diperhitungkan dan tidak diikuti sebanyak pengikut Rizieq. Maka kasus Bahar ini tidak akan seheboh kasus Rizieq.

Apakah panggilan kedua akan dipenuhi? Jangan tanya saya. Lari ke luar negeri kan sudah tidak bisa, ya paling juga memenuhi dengan membawa massa. Malulah, masak yang siap membusuk dipenjara tidak memenuhi panggilan.

Salam dari rakyat jelata

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *