KASIHAN PRABOWO, HILANG KESADARAN KALAU SEDANG NYAPRES

Bamswongsokarto – “Saya baru keliling kabupaten-kabupaten Jawa Tengah, Jawa Timur. Mungkin Saudara monitor. Jadi, saya juga bingung, kalau saya bercanda dipersoalkan, kalau saya begini, dipersoalkan, begitu dipersoalkan,” ujar Prabowo di acara Tablig Akbar dan Deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo Sandi (Kopassandi) di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan.Detik.com

Itulah pernyataan Prabowo, yang marasa bingung karena semua ucapan dan tindakannya selalu dipersoalan. Rupanya dia hilang kesadaran kalau saat ini sedang mencalonkan diri sebagai calon presiden di pilpres 2019. Dianggapnya masyarakat sudah cukup puas dan akan memilihnya jika disuguhi candaan-candaan SARA. Seorang capres seharusnya mampu mengelola emosi dan kewibawaannya dengan baik dan benar, sehingga masyarakat terkesima karena ucapan-ucapannya menyejukkan. Prabowo yang diangap sebagai orator ulung, seharusnya menempatkan audien sebagai bagian yang harus dihargainya. Orator ulung pastinya sudah mempersiapkan dengan baik siapa pendengarnya, materi apa yang akan disampaikannya, dan bagaimana latar belakang dan karakteristik audiennya. Jadi, ada kendali dalam menyampaikan pidatonya, sehingga tidak nubras-nubras grusa-grusu, serta tidak berakibat fatal jika terjadi kesalahan. Apalagi gaya dan penampilannya dimirip-miripkan dengan Ir. Soekarno, yang memang aslinya kharismatik. Maka Prabowo harus pula membawa nilai-nilai yang melekat pada tokoh yang diduplikasinya.

Rupanya Prabowo ini, jika sudah berada di depan massa mempunyai perasaan “di puncak Everest”, dia menganggap dirinya sendiri super dan pendengarnya kecil, sehingga pendengarnya harus menghormatinya. Lihat saja beberapa waktu lalu, Prabowo marah-marah kepada beberapa ibu-ibu yang berebut buku yang dibagikan oleh timsesnya sendiri. Prabowo lupa bahwa dirinya bukanlah ketua panitia pembagian buku. Juga saat Prabowo mendamprat para wartawan, dia hilang kesadaran bahwa oleh jasa wartawanlah namanya dikenal. Dan yang sampai saat ini masih menggoreskan luka hati serta harkat dan martabat masyarakat Boyolali adalah pidato Prabowo yang sama sekali tidak menggambarkan calon pemimpin yang baik, yaitu memuka-mukakan wajah miskin masyarakat Boyolali.

Jangan mengelak, Wo. Pidatomu memang dipersoalkan oleh masyarakat Boyolali dimanapun mereka berada. Masyarakat Boyolali punya harga diri, yang tidak layak jika dipakai sebagai bahan candaan dalam pidato. Jangan menganggap bercanda. Bercanda itu ada tempat dan waktunya, bercanda itu tidak dengan mendeskreditkan masyarakat, apalagi dengan cara menghina dan memiskin-miskinkan muka orang-orang Boyolali.

“Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini. Betul?” kata Prabowo kepada para pendukungnya. Yang oleh para pendukungnya dijawab serentak “Betuuull..”.

Ini berarti bukan hanya Prabowo yang menghina masyarakat Boyolali, tetapi termasuk juga caleg-caleg Gerindra untuk DPRD Boyolali. Siap-siap saja para caleg Gerindra di DPRD Boyolali gigit jari untuk bisa duduk di kursi dewan.

Saya juga bingung, kalau saya bercanda dipersoalkan, kalau saya begini, dipersoalkan, begitu dipersoalkan

Semua tergantung bagaimana begini dan begitunya Prabowo sebagai calon capres, kalau begini dan begitunya menghargai orang lain atau masyarakat yang sedang diincar suaranya untuk memilihnya, tentu saja Prabowo harus bisa among roso dengan mengendalikan diri dan tetap sadar bahwa dirinya saat ini sedang membutuhkan masyarakat.

Begini dan begitunya Prabowo selama ini memang memancing siapapun untuk mempersoalkan. Kalau tidak dipersoalkan, maka masyarakat akan dengan mudah termakan dan tersesat oleh banyaknya hoaks. Lihat saja begini begitu bonyoknya Ratna Sarumpaet, Indonesia bubar 2030, kekayaan Indonesia diangkut ke luar, anthek asing aseng, dan begini begitu yang lainnya. Semuanya memang tidak berdasarkan data dan fakta yang sebenarnya.

Pembelaan Sandiaga Uno si cawapres berambut petai, yang meminta pidato Prabowo tidak dipolitisasi justru semakin memperjelas label miskin terhadap masyarakat Boyolali. Ini menunjukan bahwa Sandiaga juga hilang kesadaran. Sandiaga pura-pura bego, Prabowo khan sedang berpidato dalam rangka politik saat meresmikan Posko Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno Kabupaten Boyolali. Kok bisa-bisanya meminta pernyataan itu tidak dipolitisir. Tidakkah Sandiaga Uno bisa berkaca kepada Pilgub DKI Jakarta 2017, apapun dipolitisir demi kemenangannya. Pidato Prabowo itu dalam ranah politik, maka layak jika siapa pun mengaitkannya dengan politik.

Inilah blunder politik dari seorang calon Capres yang oleh timsesnya telah dipoles menjadi The New Prabowo, tetapi tetap saja tidak bisa berubah menjadi new. Karena semuanya memang sudah menjadi watak wantun pembawaan aslinya, dipoles dengan cara apapun hanya akan berhasil sesaat. Setelah itu kembali lagi ke karakter aslinya.

Padahal Prabowo sendiri pernah mengatakan: “Sekarang banyak sekali penasihat, Bapak kalau bicara harus kalem Pak, Bapak bakal calon presiden, jangan menggebu-gebu, jangan meledak-ledak, itu nasihat semua,” ucap Prabowo saat memberikan sambutan bedah buku karyanya, “Paradoks Indonesia” di Jakarta. Sumber

Namun, jika Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menolak meminta maaf, karena tidak menemukan unsur kesalahan Prabowo, itu haknya BPN Prabowo-Sandi. Karena bukan unsur yang dicari, melainkan tersinggungnya harkat dan martabat masyarakat Boyolali. Dan Boyolali adalah zona dapil kekalahan telak Prabowo.

Penulis tidak membenci Prabowo, hanya kasihan ternyata saat ini Dia sedang hilang kesadaran kalau sedang nyapres.

#JokowiLagi saja….

Salam Semilir Kesejukan

sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *