BERI KEMUDAHAN BAGI NAPI EDARKAN NARKOBA, BEKAS KALAPAS KALIANDA DIADILI

LAMPUNG-Mantan Kalapas Kelas II A Kalianda, Muchlis Adjie (51) yang didakwa menerima uang dari jaringan bandar narkoba yang juga penghuni lapas menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Selasa (9/10/2018) sore.

Dalam persidangan tersebut, Muchlis Adjie didakwa melakukan kongkalingkong (main mata) dengan narapidana kasus narkotika, Marzuli Y.S yang tengah menjalani hukuman di Lapas Kalianda .

Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim, Mansur. Saat menjalani sidang Muchlis tampak terlihat santai mendengarkan dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Di ruangan persidangan, tampak terlihat juga beberapa petugas dari BNNP Lampung turut memantau jalannya persidangan terdakwa mantan Kalapas Kalianda, Muchlis Adjie.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Roosman Yusa pengganti Jaksa Andri Kurniawan mendakwa Muchlis Adjie karena memberi kemudahan terhadap Marzuli Y.S, napi kasus narkotika warga binaan Lapas Kalianda

Hal itu diketahui setelah BNNP Lampung mengungkap adanya 2,7 Kg sabu dan 4 ribu butir pil ekstasi di lapas yang dibawa oleh sipir lapas, bernama Rechal Oksa Hariz dan oknum polisi Polres Lampung Selatan, Brigadir Adi Setiawan yang didakwa menjadi kurir narkoba.

“Terdakwa tanpa hak melawan hukum menjadi perantara dalam pemufakatan jahat jual beli narkotika, melakukan tindak pidana prekursor narkotika menawarkan untuk dijual, menjual dan membeli narkotika golongan satu bukan tanaman. Muchlis didakwa melanggar Pasal 132, 114 dan 112 UU No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika,”ungkapnya.

Saat Muchlis Adjie menjabat sebagai Kalapas Kelas II A Kalianda pada Februari 2017 lalu, Sumiyati selaku keluarga dari Marzuli datang bersama Andiryani Dewi, yakni istri dari Gunawan mantan Kalapas Kalianda menemui Muchlis untuk melobi agar Marzuli ditempatkan di blok terpisah.

Dalam pertemuan itu, Muchlis setuju lalu Marzuli dipindahkan ke kamar sel yang hanya ditempati oleh tiga orang napi. Sementara napi lainnya, harus berhimpitan dalam kamar sel tahanan bersama 20 napi lain .

“Dari pemisahan itulah, Marzuli dapat bebas menerima fasilitas seperti menggunakan ponsel dan bebas menerima keluar masuk tamu,”beber JPU.

Bahkan tidak hanya itu saja, kata JPU Roosman Yusa, berkat akses bebas itulah, Marzuli secara bebas mengendalikan peredaran jenis sabu dan ekstasi dari balik sel tahanan Lapas Kalianda.

“Belakangan diketahui, bahwa terdakwa Muchlis sudah beberapa kali menerima aliran dana hasil bisnis barang haram itu dari Marzuli yang ditransfer melalui rekening mulai dari Rp 2 juta, Rp 5 juta dan Rp 10 juta,”jelasnya. (Koesma/b)
sumber: poskotanews
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *