CATATAN PERJALANAN NUSANTARA (3)

“Bali, Bersatunya Adat dan Agama”

Orang Jawa harus berterima kasih dengan orang Bali karena merekalah yang mempraktikkan, merawat, menjaga, dan melestarikan tradisi dan budaya Jawa.

Pernyataan ini agak berbau gimana gitu. Tapi memang ada benarnya. Di saat orang-orang Jawa modern tidak lagi mampu membaca, apalagi mengerti isi dan maknanya, teks-teks yang berbahasa dan beraksara Jawa Kuno (Kawi), orang Bali-lah yang melestarikannya.

Di saat kini banyak orang Jawa, baik laki maupun perempuan, mulai bergaya ketimurtengah-timurtengahan atau kebarat-baratan yang ditandai dengan pemakaian busana ala Timur Tengah atau Barat, orang Bali–baik pria maupun wanitanya, baik tua, muda maupun nak-kanak–justru bangga dengan busana tradisional mereka.

Mudah dijumpai dimana-mana mbok-mbok Bali yang mengenakan pakaian tradisional. Konon jika perempuan Bali mengenakan pakaian adat tradisional, maka mereka boleh tidak berhelm di jalan raya. Demikian pula dengan bapak-bapak dan anak-anak. Foto di bawah ini adalah contoh anak-anak dengan busana tradisional untuk acara-acara ritual-keagamaan.

***

Hal lain yang menarik di Bali adalah bersatunya adat dan agama. Dunia profan dan sakral menyatu di jagat raya, alam pikiran, dan pandangan dunia orang Bali. Oleh karena itu, kita dengan mudah menjumpai berbagai ragam “aktivitas duniawi” yang beriringan dengan “aktivitas ukhrowi”.

Sesajen yang lengkap dengan ubo rampainya (aneka bunga, kelapa, dupa, dlsb) selalu hadir dimana-mana: rumah, toko, kantor, sawah, dlsb. Di Bali, kita bisa saksikan menyatunya atau meleburnya dunia jasmani dan rohani, dunia lahiriyah dan batiniyah, alam rasionalitas dan spirituaitas. Begitu seterusnya.

Dengan kata lain, masyarakat Bali menganggap dunia profan dan sakral harus menyatu. Yang transendental dan horizontal harus melebur. Tidak boleh dipisahkan. Ini persis seperti konsep Salib dalam Kristen yang merupakan simbol relasi kuat antara yang vertikal dan yang horizontal. Konsep yang kurang lebih sama juga diteguhkan dalam Islam, dimana “habl min Allah” (hubungan dengan Tuhan) harus beriringan dengan “habl min nas” (hubungan dengan manusia).

Selama dua hari keliling Bali (atas undangan Syaikh Duktur Almukarom Bambang Noorsena, sejarawan dan tokoh Gereja Kristen Ortodoks Suriah di Indonesia), selain menelusuri sejumlah situs sejarah, saya beruntung bisa belajar dan menggali sedikit hal (meskipun sepintas) tentang masyarakat dan “dunia Bali”. Saya juga berkesempatan belajar dan bercengkrama dengan sejumlah tokoh, resi, dan guru Hindu yang sangat alim dan bijak.

Sayang, karena waktu yang sangat terbatas, saya tidak bisa lebih banyak mengeksplorasi situs-situs sejarah dan dunia spiritual Bali. Meskipun demikian, kunjungan singkatku ke Bali melambangkan tentang pentingnya menjalin silaturahmi dan hubungan baik antara Jawa dan Bali karena memang dalam sejarahnya keduanya memiliki relasi yang sangat erat.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah, lawatanku ke Bali juga dalam rangka konsolidasi dan menjalin jaringan yang lebih luas berkaitan dengan pendirian Nusatara Kita Foundation dan Nusantara Institute yang didirikan untuk merawat tradisi dan kebudayaan, khazanah keilmuan, dan nilai-nilai luhur leluhur di Nusantara.

Sumanto Al Qurtuby
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

fb Sumanto Al Qurtuby
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *