CATATAN PERJALANAN NUSANTARA (2)

“Mengunjungi Sang Guru Pdt. John Titaley”

Akhirnya, di tengah kesibukan dan jadwal yang padat-merayap, saya sempatkan untuk bertemu kembali dengan salah satu guruku yang saya hormati, Prof. Dr. Pdt. John Titaley, mantan rektor UKSW, Salatiga, yang biasa saya sapa Om John. Bukan hanya sebagai guru, Om John juga sudah saya anggap seperti orang tuaku sendiri.

Dari dulu, sejak saya kuliah S2 Sosiologi Agama di UKSW tahun 2000 hingga kini, saya tetap mengagumi Om John sebagai sosok idealis dan kukuh dalam pendirian, baik dalam pemikiran keagamaan yang progresif-liberal sehingga sering dimarjinalkan oleh sekelompok umat Kristen maupun dalam memegang prinsip hidup sederhana.

Sependek pengetahuanku, Om John adalah tokoh Kristen yang gaya hidupnya mirip-mirip Yesus yang hidup dalam kesahajaan, kedermawanan, dan komitmen perjuangan kemanusiaan dan cinta-kasih yang melintasi batas-batas primordial keagamaan. Tidak banyak tokoh agama manapun yang bisa tahan hidup dengan prinsip-prinsip seperti ini.

Meskipun sering dituduh korupsi oleh rival-rivalnya, saya tetap melihat Om John sebagai orang yang sangat bersahaja, bersih, dan anti-korupsi. Sudah beberapa periode Om John menjabat sebagai Rektor UKSW tetapi tetap hidup dalam kemiskinan dan kesederhanaan. Jangankan korupsi, menabung saja nyaris tak dipikirkan.

Itulah sebabnya begitu ia tidak menjabat sebagai rektor, ia kebingungan mencari rumah tinggal karena tak punya uang dan harta benda lainnya. Selama menjadi rektor, Om John tinggal di sebuah rumah dinas yang kecil-mungil tak terawat. Sementara gajinya habis untuk makan dan dibagi-bagi ke orang lain yang membutuhkan.

Saat saya (bersama keluarga) mengunjunginya di sebuah perumahan di Salatiga, ia dan istri (Bu Ida) tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sempit, lusuh, kumuh, dan acak-acakan, sangat tidak layak untuk seorang mantan rektor UKSW. Sesaat saya tertegun di depan rumahnya. Sedih sekali. Ingin rasanya menangis tapi saya tahan sambil pura-pura tersenyum.

Seperti biasa, melihat kami datang, Om John dan Bu Ida menyambut dengan senyuman dan riang gembira. “Om John dan Bu Ida, apa kabar?” Sapaku. Sepertinya Bu Ida sudah agak baikan dan bisa berjalan meskipun tertatih-tatih karena stroke.

Di tengah-tengah ngobrol ngalor-ngidul, saya beranikan diri untuk bertanya: “Kenapa Om John tinggal di rumah seperti ini?”

Om John menjawab karena ia tidak punya uang cukup untuk membeli rumah yang agak layak. Ia hanya punya uang 100 juta. Jumlah ini adalah 20% dana yang boleh diambil di muka dari dana pensiunnya. Dana itu, ditambah bantuan dari anak-anaknya, dipakai untuk membayar DP sebuah rumah sederhana di sebuah perumahan yang sedang dibangun oleh kontraktor perumahan.

Saya tanya Om John lagi: “Kurang berapa angsuran rumahnya?” Om John tidak menyebut nominal, tapi saya bisa memperkirakan sisanya.

Saya coba yakinkan beliau: “Om John, ijinkan saya untuk ikut membantu. Om John tak perlu khawatir, saya sudah buatkan rumah untuk orang tua, kakak-kakak, dan orang-orang terdekat lainnya, saatnya saya membantu Om John yang sudah saya anggap seperti orang tuaku sendiri”.

Demikianlah, saya bertekad dalam hati untuk ikut membantu melunasi angsuran rumahnya dan membantu biaya kebutuhan hidupnya.

Alhamdulilah, puji Tuhan, kini Om John dan Bu Ida sudah punya rumah sendiri meskipun sederhana, seperti prinsip hidupnya yang memang selalu bersahaja.

Sehat terus Om John dan Bu Ida agar tetap bisa menjadi pelita kehidupan untuk menyinari kegelapan.

Sumanto Al Qurtuby
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

fb Sumanto Al Qurtuby
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *