ISU TKA CHINA JUTAAN ITU DUSTA

Isu tentang adanya pembiaran masuknya puluhan juta Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia begitu kencang dihembuskan dalam setahun terakhir ini seolah keadaan sudah genting. Padahal ini murni hanya untuk menjatuhkan kredibilitas Jokowi. Bahkan sudah berulang kali dijelaskan oleh Menakertrans pun, hoax tetap terus beredar.

Sejatinya TKA sudah lama ada dan tidak pernah diributkan, terlebih jumlahnya terbilang normal atau sangat kecil dan tak lebih 1% dari jumlah penduduk Indonesia, serta jumlah TKA terbesarpun bukan di era sekarang, tapi pada tahun 2011 silam. Suatu negara terdapat TKA itu normal, bahkan di negara maju sekalipun. Bahkan nyaris 50% orang yang berada di Singapore adalah pendatang dari luar.

Begitu santernya isu tersebut dijadikan sebagai serangan ke Jokowi, mendorong Ketua Komisi IX DPR, Dede Yusuf melakukan kunjungan kerja ke PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali, Sulawesi Tengah. Dede mengatakan dirinya dan rombongan Komisi IX mengecek langsung ke PT IMIP mulai dari kantin pekerja, mess pekerja, pabrik hingga ruang operator.

Dari hasil pengecekan itu, Dede menemukan jumlah TKA yang berada di PT IMIP berjumlah 2.500 orang. Sementara pekerja lokal mencapai hingga 28.000 orang. Dede juga menyebut gaji para pekerja lokal cukup menggiurkan yakni Rp 4 juta untuk lulusan SMA yang bekerja sekitar 6 bulan. Sedangkan untuk pekerja dengan masa kerja sudah 2 tahun gajinya mencapai Rp 10 juta per bulan.

“Bahkan saat ini masih dibutuhkan 10.000 tambahan karyawan lagi, semuanya tenaga lokal dan lowongan terbuka bagi umum. Mungkin ada yang berminat?” Ujar Dede.

“Mungkin dulu pada saat pembangunan smelter diawal 2014-2016 banyak TKA yang keluar masuk dengan kontrak per 2-3 bulan. Setelah Smelter berdiri, hanya 10% TKA yang tinggal. Untuk meneruskan Transfer Technologi kepada pekerja lokal. So once again, kami tidak menemukan serbuan TKA, yang ada justru puluhan ribu pekerja kita yang berasal dari sekitar Sulawesi,” jelasnya.

Dalam kunjungan, Dede juga bertemu dengan Bupati dan Ketua DPRD Morowali untuk membahas pendapatan daerah di sana. Dia meminta agar dibentuk Satgas Pengawasan TKA disana.

“Saya juga mendapat penjelasan dari Bupati dan Ketua DPRD tentang pendapatan daerah dan multiplier effect ke daerah yang terasa besar. Bahkan Morowali sempat mendapat angka pertumbuhan ekonomi sebesar 35%. 5 besar tertinggi di Indonesia. Jika hubungan Pemda dan industri bisa berjalan baik, sangat mungkin Morowali ke depan akan menjadi kota industri Metropolitan dengan pendapatan daerah ratusan miliar setahun,” tutup Dede.

Tak heran dengan kencangnya isu ini membuat gerah warga disana yang kemudian membuat pernyataan sikap agar persoalan TKA jangan dipolitisir, terlebih warga disana justru saat ini menjadi sejahtera dengan adanya perusahaan.

“Ayo berkontestasilah yang sehat”

Salam NKRI Gemilang

fb Wahyu Sutono
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *