PANCASILA : MANTRA TERBAIK BANGSA INDONESIA

Rahmatika – 1 Juni. Mungkin Anda hari ini sedang enjoy di rumah sambil membaca tulisan-tulisan yang seliweran di linimasa tanpa sadar sebetulnya sekarang ini ditetapkan sebagai hari libur nasional dalam rangka apa? Jawabannya adalah karena ini merupakan hari lahir Pancasila.

Tentu mungkin akan ada yang bertanya, “ngapain sih Hari Lahir Pancasila saja harus ditetapkan jadi hari libur?”. Menurut saya salah satu tujuannya adalah sebagai pengingat. Anda kan kalau ada libur merah akan selalu tergerak untuk mencari tahu. Minimal jadi ingat bahwa 1 Juni tahun 1945 lalu Pancasila lahir sebagai sebuah ideologi bangsa. Dan kini 73 tahun setelah itu Pancasila masih sangat relevan dengan kehidupan berbangsa bernegara.

Mengapa saya bilang Pancasila masih sangat relevan? Coba kita telisik dari sila pertama hingga kelima.

SILA PERTAMA : KETUHANAN YANG MAHA ESA

Butir-butirnya ada 7, yakni :

(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Kurang enak apa sebetulnya jadi bangsa Indonesia itu? Anda mau punya keyakinan dan beribadah dijamin oleh negara. Memang ada saja yang tidak bisa melaksanakan ini dengan baik, tetapi sejatinya negara sangat menjamin kebebasan rakyatnya untuk memiliki hak privasi atas spiritualisme. Kita cuma diminta untuk membina kerukunan hidup antar umat, tidak memaksakan agama ke orang lain, saling menghormati, dan bekerja sama. Sungguh mereka yang 73 tahun lalu merumuskan Pancasila bisa dibilang adalah orang-orang yang visioner dan paham dengan keberagaman yang ada di masyarakat kita.

SILA KEDUA : KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

Memiliki 10 butir :

(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.

(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Setelah urusan dengan Tuhan, persoalan kemanusiaan ada di urutan kedua. Ini sudah sekonsep dengan nilai Islam : Habluminallah dan Habluminannas. Vertikal dan horizontal. Ke Sang Pencipta dan ke sesama ciptaan.

Di situ kita ditatar untuk menyadari bahwa sebagai sesama ciptaan Tuhan maka kita ini sama. Perbedaan warna kulit dan latar belakang seharusnya tidak jadi halangan untuk bisa saling memanusiakan. Dan penekanan untuk saling hormat, mencintai, bertenggangrasa, tidak semena-mena, bekerjasama, saling tolong menolong, dan sebagainya ditekankan kembali di sini. Artinya, konseptor negara ini sejak dulu sangat ingin manusia itu bisa hidup berdampingan satu sama lain dalam suasana yang nyaman dan kondusif karena bisa saling menghargai. Coba deh semua orang bisa menerapkan ini, nggak ada saya kira perselisihan di kelompok masyarakat.

SILA KETIGA : PERSATUAN INDONESIA

Memiliki 7 butir :

(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Setelah bisa saling menghormati dalam kehidupan spiritual dan sosial, kini kita diajak untuk bersatu, cinta tanah air, bangga jadi Bangsa Indonesia. Kemudian sikap ini tak hanya dilakukan di kawasan sebangsa saja, tapi juga menyangkut Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia. KIta diajak untuk tidka egois dan hanya mengedepankan kepentingan golongan, suatu kondisi yang sekarang banyak terjadi. Banyak konflik yang muncul karena golongan tertentu ingin lebih dominan dan mengambil alih peran. Ini yang harus dihindari. Ketika kita merasa bersatu, kita akan bisa bergaul dengan lebih baik dan berlaku tertib sebab kita sadar begitu kita melakukan huru-hara sama saja kita menyakiti saudara-saudara kita sendiri.

SILA KEEMPAT : KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN

Butir-butirnya ada 10 :

(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.

(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

(6) Dengan iā€™tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Bisa hidup dalam harmoni spiritual dan sosial serta bersatu tentu perlu sebuah tata tertib bagaimana ketika ada perbedaan muncul. Sebab ada banyak kepala pasti ada banyak keinginan, ide, dan ambisi yang bisa menghancurkan harmonisasi dan persatuan yang telah dibangun. Di sini lagi-lagi Pancasila yakni sila keempat jadi jawaban. Kalau ada perbedaan ya selesaikan dengan duduk bersama, musyawarah, saling membagikan pikirannya untuk kemudian dicari keputusan yang terbaik.

SILA KELIMA : KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

Butirnya ada 11, yaitu :

(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

(4) Menghormati hak orang lain.

(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

(9) Suka bekerja keras.

(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Negara sangat paham bahwa berikutnya sangat penting mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi warganya. Orang kalau perutnya lapar akan mudah bergejolak emosinya. Kalau sudah bergejolak emosinya dia akan lupa dengan harmonisasi, persatuan, apalagi permufakatan yang sudah ada. Maka itu kita diajak berusaha baik secara individu dengan bekerja keras, tidak boros, tidak hedon, tidak mengambil yang bukan haknya, saling menolong, dan sebagainya sambil negara juga berupaya membantu mewujudkan itu melalui pembangunan dan regulasi.

Dari sini kita paham bahwa Pancasila adalah mantra terbaik yang pernah ada di bangsa ini. Semua aspek penting sudah masuk dalam lima silanya. Mulai dari hubungan spiritual manusia dengan Sang Pencipta, hubungan sosial, pentingnya bersatu, bagaimana menyelesaikan konflik, hingga soal kesejahteraan dan keadilan. Lima hal ini sebetulnya juga merupakan kebutuhan dasar manusia dalam hidup bernegara. Dan semua itu ada dalam Pancasila. Jadi cukuplah Pancasila untuk Indonesia, tidak perlu ada yang lain.
sumber: seword
fb: Bus Sinabung Jaya

This entry was posted in Berita, Berita Pilihan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *