KASIHAN PALESTINA JADI TUNGGANGAN POLITIK GOLONGAN GANTI PRESIDEN

Mora Sifudan – Ada yang paham korelasi bela Palestina dengan ganti presiden? Saya gagal paham soal ini. Sebab sepengetahuanku, Presiden Jokowi lah yang dengan lantang menentang Trump memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Loh kog Jokowi yang mau diganti? Gagal paham!

“Jangan ngomong dua periode, 2019 ganti presiden betul? Takbir! Sudah cukup, FPI tinggal tunggu komando guru kita di Mekah kapan pulang. Kita buktikan sekarang, kita buktikan sekarang, kenapa? Karena konstitusi negara setiap penjajahan harus dihapuskan. Kalau Pemerintah kita tak mau ikut serta, kepada kita serahkan senjata kepada kita, serahkan senjata ke umat Islam.” (Detik)

Logikanya, mestinya mereka mendukung Jokowi dua periode karena pemimpin yang dengan tegas keputusan Gedung Putih. Seharusnya mereka mengelu-elukan Jokowi sebagai presiden yang peduli terhadap saudara sesama Muslim. Seharusnya mereka berterima kasih kepada Jokowi karena sudah berperan aktif membela Palestina.

Logika mereka ini memang terbalik. Sama seperti logika terhadap kerusuhan di Mako Brimob. 5 polisi tewas, mereka bilang rekayasa. Napi teroris membunuh dengan sadis, mereka bilang karena Ahok ada di Mako Brimob. Tidak ada korelasi, tidak masuk akal, tetapi karena kebencian ya dihubung-hubungkan saja.

Ini menunjukkan bahwa aksi 115 itu bukan aksi kepedulian terhadap Palestina. Aksi itu bukan aksi bela Palestina. Aksi bela Palestina hanya kamuflase aksi politik. Mereka hanya cari cara agar gerakan ganti presiden itu didengungkan di Monas. Sebab Monas memang tidak boleh digunakan untuk kegiatan politik praktis. Jadi jelas aksi 115 adalah aksi ganti presiden.

OKlah bisa saja dibantah bahwa itu hanya oknum saja. Tapi kalau tidak mau dibilang aksi 115 itu adalah aksi politik dengan menunggangi penderitaan Palestina, seharus dapat dihentikan siapa yang berbicara dan di suruh turun panggung. Kalau tetap diberi panggung, berarti memang direncanakan.

Yang kasihan adalah Islam itu sendiri. Mereka menunggangi Islam untuk memuluskan nafsu politik mereka. Mereka memanfaatkan sentimen agama Islam menarik perhatian, kemudian di dalamnya mereka meneriakkan ganti presiden.

Tetapi nanti kalau dikatakan agar memilah politik dengan agama, mereka berontak, berteriak pemerintah anti-Islam. Padahal secara tidak sadar mereka sedang merusak nama baik Islam di mata publik. Karena bagi mereka agama hanya kuda tunggangan meraih kekuasaan. Bagi mereka, agama adalah alat untuk menumbangkan lawan politik.

Yang kasihan Palestinanya. Penderitaan rakyat Palestina dimanfaatkan sebagai alat politik di negara yang mayoritas penduduknya beragama sama dengan mereka. Dan kalangan yang memanfaatkan mereka ada orang yang katanya paling islami dari pada warga negara beragama Islam lainnya.

Warga Palestina di sana meregang nyawa demi membela negaranya. Warga Palestina membutuhkan dukungan tulus dari berbagai pihak di belahan dunia ini agar mereka merdeka dan bebas dari tekanan Israel. Sayangnya penderitaan mereka, nyawa-nyawa yang meregang dan teriakan mereka hanya dijadikan tunggangan politik oleh golongan ganti presiden di Indonesia. Miris, menyedihkan, dan mengenaskan.

Masihkah Anda percaya terhadap orang-orang seperti itu? Itu hak Anda. Mau percaya silakan, mau tidak silakan juga. Yang penting Anda sudah diingatkan. Jangan nanti menangis menyesali bahwa Anda juga hanya dijadikan kuda tunggangan, setelah itu ditinggalkan.

Pemprov DKI dikadali kelompok ganti presiden

Aksi 115 adalah kegiatan keagamaan. Pemprov DKI tidak melarang kegiatan keagamaan. Kegiatannya memang salat subuh dan salat Jumat. Tetapi isinya politik. Sementara Monas tidak bisa digunakan untuk kegiatan politik. Maka secara tidak langsung aksi 115 sudah mengkadali Pemprov DKI.

Parahnya, dalam aksi itu ikut juga Anies, Gubernur DKI. Dia juga ada di antara kerumunan yang menunggangi kegiatan keagamaan demi nafsu politik. Tetapi jangan heran, sebab Anies sendiri menghalalkan penolakan mayat demi melenggangnya dia ke DKI. Hitung-hitung balas budi, ya Ian Nies.

Bahaya kalau sampai mereka berkuasa

Akan sangat berbahaya jika manusia-manusia yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. Jangan berharap Anda akan mendapatkan pelayanan memuaskan kalau mereka berkuasa. Karena kekuasaan pun hanya dimanfaatkan untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Tidak percaya? Lihat saja koruptor Quran, yang sampai tega menilep dana Al-Quran. Jika mereka sampai tega korupsi uang pencetakan Quran, maka tidak ada lagi yang mereka tidak tega. Jangan mereka akan berharap memikirkan Anda. Apalagi berharap memikirkan negara ini. Itu hanya mimpi di siang bolong.

Jangan menunggu setelah berkuasa, sebelum berkuasa saja mereka sudah menghalalkan segala cara. Apalagi kalau kekuasaan sudah di tangan, ya semuanya bisa digulung.

Cobalah berpikir sekali lagi. Cobalah merenungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama ini. Adakah mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh tulus? Adakah mereka berjuang demi kepentingan umum? Adakah mereka berjuang demi kepentinganmu?

Salam dari rakyat jelata
sumber: seword
fb: Bus Sinabung Jaya

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *