UMPAN DIMAKAN, SEBUT PARTAI SETAN, AMIEN RAIS DIJERAT PASAL BERLAPIS!

hysebastian – “Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan,” kata Amien.

Amien Rais, dengan segala keterbatasannya yang banyak, seolah-olah sedang mencari masalah dengan rakyat Indonesia. Ketua Cyber Indonesia Aulia Fahmi mengatakan bahwa pernyataan Amien Rais berpotensi bisa berdampak pada timbulnya perpecahan antara umat beragama. Secara khusus Aulia Fahmi mengatakan bahwa perpecahan itu ada di antara umat Islam itu sendiri.

Saya setuju, bahwa ada unsur perpecahan yang sengaja dilontarkan oleh Amien Rais, dalam mendikotomikan antara dua partai, yakni partai Allah dan partai Setan. Mengapa saya setuju dengan pandangan Aulia Fahmi yang mengatakan ada kemungkinan perpecahan antara umat Islam?

Pertama, secara iman kepercayaan Kristen, saya tidak pernah mendengar atau diajarkan bahwa Tuhan itu berpolitik. Di Perjanjian Lama, Tuhan memilih raja sebagai pengatur bangsa, imam sebagai pengatur liturgi, dan nabi untuk menyambungkan lida Tuhan. Tuhan sendiri tidak pernah berpolitik. Wahyu Tuhan tidak diturunkan untuk semua orang. Perkataan Tuhan bisa kita dengar melalui sabda-Nya kepada raja, imam, dan secara khusus nabi.

Kedua, kitab suci saya, Alkitab mengatakan bahwa perpecahan itu timbul dari dalam, karena ulah orang-orang sombong. Kekristenan bukan dipecah dari luar, melainkan dari orang-orang yang berperan sebagai Yudas Iskariot, menjual Tuhannya untuk tiga keping perak. Saya melihat ada kemiripan antara kasus Amien Rais yang menurunkan Tuhan di dalam dunia politik dengan kisah Yudas yang menjual Yesus.

Ketiga, dalam kehidupan bernegara dan berpolitik, saya tidak pernah melihat langit terbuka dan mendadak mendengar suara dari langit yang berkata-kata tentang partai mana yang milik-Nya, partai mana yang milik Setan. Ini adalah cara pandang yang benar-benar kacau. Membawa Tuhan turun ke dalam politik, menjadi sebuah kesalahan fatal yang benar-benar fatal.

Dari ketiga alasan saya inilah, membuat saya setuju dengan Aulia Fahmi, bahwa orang bernama Amien Rais ini harus menjaga mulutnya. Setidaknya jika tidak bisa menjaga mulutnya, harus ada orang berwenang yang bisa membuat dirinya diam.

Ini bukan masalah mengekang kebebasan berbicara. Ini masalah tenun kebangsaan yang sepertinya ingin dikoyak-koyak elit PAN ini. Berbicara mengenai keutuhan bernegara, Amien Rais paling berpotensi untuk menjadi penyebab terjadinya perpecahan.

“Kami melihat ada indikasi yang mengarah pada perpecahan, ada kalimat yang mengandung ujaran kebencian,” kata Aulia kepada CNNIndonesia.com.

Akhirnya, Amien dilaporkan dengan pasal 28 ayat 2 Juncto pasal 45 ayat 2 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang Dugaan Ujaran Kebencian SARA dan Pasal 156a KUHP tentang Penodaan Agama.

Pernyataan yang dianggap berbahaya ini, harus benar-benar diselesaikan dan diusut. Kita tahu bahwa agama pun memiliki banyak aliran. Dalam hal ini, toleransi diperlukan. Jangan menjadi orang yang dengan beraninya mengklaim bahwa ajaran dia yang paling benar.

Sama-sama memegang kitab suci yang sama, tapi tradisi berbeda. Ini pun terjadi di setiap agama, dan saya yakin itu. Namun alangkah baiknya jika perbedaan itu, untuk sementara ini kita singkirkan dulu.

Ini bukan bicara kompromi terhadap iman, melainkan ini berbicara mengenai perpecahan diameteral yang semakin besar. Masakan demi nama agama, kita bisa saling membunuh? Tidak heran jika ada filsuf besar komunis yang mengatakan bahwa “Religion is the opium of the people. Siapakah dia?

Adalah seorang bernama Karl Marx, seseorang yang sudah mati, dan kuburannya pernah didatangi oleh Fadli Zon. Bukan hanya didatangi, namun Fadli Zon nyekar. Bayangkan, nyekar. Kalau datang saja sih biasa saja. Saya pun ingin lihat makam Karl Marx. Namun untuk nyekar, tunggu dulu.

Ternyata apa yang dikatakan filsuf sosialis Karl Marx ini rasanya ada benarnya. Mereka yang menggunakan opium berlabelkan agama, terkadang jauh lebih terlihat sangar dan tak terkontrol. Mereka mengalami sebuah fase tantrum dalam kehidupan. Maka tidak heran jika kit sebut mereka kejang-kejang.

Akhir kata, semoga keadilan ditegakkan dan kebencian ditekan. Meskipun saya mengakui bahwa untuk terjadinya hal itu, kita harus menunggu kedatangan Sang Hakim Agung yang mengadili seluruh dunia ini, yang kita kenal dengan nama Nabi Isa, Tuhan Yesus Kristus.

Betul kan yang saya katakan?

sumber: seword
fb: Bus Sinabung Jaya

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *