DUA ANIES DI DKI, SATU TOLAK PENGGUSURAN, SATUNYA SETUJU, ANEH!

Ronindo – Dua kebijakan berbeda satu Gubernur. Ini yang terjadi di DKI pada era rezim santun. Hari ini Pak Anies menegaskan bahwa jangan ada lagi penggusuran di bumi Indonesia. Konsisten dengan janji kampanyenya waktu lalu. Tapi di tempat lain terjadi penggusuran. Jadi ini fiksi apa fakta?

Bagi Gubernur Anies, penggusuran permukiman warga adalah bentuk ketidakadilan kepada masyarakat. Dia berharap, penggusuran Kampung Akuarium di Penjaringan, Jakarta Utara, yang dilakukan di era pemerintahan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada 2016 lalu tak lagi terjadi.

Jadi rupanya Anies masih terus mendiskreditkan pemerintahan sebelumnya. Anies terus menyinggung nama Ahok yang selalu ditudingnya sebagai gubernur yang bersikap tidak adil dan mengizinkan penggusuran. Padahal Anies berhutang program pembangunan yang dilanjutkannya saat ini dari program Pak Ahok.

Cara ini ampuh bagi Anies untuk memikat suara para korban penggusuran karena Anies langsung mengeksploitasi kondisi mereka dan menjanjikan tak akan ada penggusuran pada era pemerintahannya. Sembari memeluk dan mendramatisir, Anies memainkan dramanya:

“Kalau ditanyakan penderitaan maka cobaan yang dihadapi itu komplet. Ibu mana yang pernah membayangkan melahirkan anaknya lalu menguburkan anaknya? Enggak ada, dan ibu ini mengalami, dia melahirkan dan dia menguburkan (anaknya). Saya garis bawahi tadi dalam sambutan, peristiwa di akuarium harus menjadi pelajaran kepada semua bahwa di bumi Indonesia tidak boleh lagi ada peristiwa seperti ini,” kata dia di Kampung Akuarium, Sabtu (14/2), seperti dilansir https://www.merdeka.com/jakarta/gubernur-anies-di-bumi-indonesia-tak-boleh-lagi-ada-penggusuran.html.

Sempurna drama pengibulan Anies. Anies dengan tegas menyatakan bahwa di bumi Indonesia tak boleh ada lagi peristiwa atau korban penggusuran. Permainan kata-kata Anies memang membuat trenyuh dan menyiratkan dirinya pemimpin peduli. Tapi pedulinya peduli amat.

Di tempat lain Anies sedang memainkan jurus mautnya. Di kampung Akuarium menyerukan dirinya menolak penggusuran sedangkan di tempat lain di Jakarta sudah terjadi penggusuran secara santun.

Senin (9/4/2018) lalu terjadi peristiwa penggusuran di wilayah DKI atau dengan memakai bahasa Anies yaitu penertiban. Penertiban puluhan bangunan di pinggiran kali di Kampung Duri RT 09 RW 01 Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat diprotes pemilik bangunan.

Penertiban tersebut melibatkan 100 orang yang terdiri dari aparat TNI, Polri dan Satpol PP. Nah, pastinya penggusuran eh penertiban itu sepengetahuan pejabat Pemprov dan Anies dong. Nah, kok Anies nggak tahu?

Ini menunjukkan ketidakkonsistenan Anies atau ketidaktahuan dirinya mengenai masalah di lapangan. Awas, nantinya Anies bisa-bisa mencari alasan untuk berkelit karena dirinya jago bersilat kata dan bersilat lidah.

Siap-siap saja datang protes kepada Anies. Tapi jangan kuatir, Anies aman karena proses pengaduan di Balai Kota sudah dihilangkan alias digusur juga oleh Anies. Jadi gimana dong? Ya itulah, Anies makin mempersulit pengaduan oleh warga.

Akhirnya warga protes keras saat terjadi penertiban. Mereka pasti tak menyangka akan datang penertiban karena setahu mereka tak akan ada penertiban atau penggusuran.

“Jangan seenaknya saja ngebongkar bangunan saya. Toh saya punya sertifikat kok,” protes Rosni P, pemilik bangunan kepada petugas gabungan di lokasi penertiban, Senin (9/4/2018), seperti dilansir http://poskotanews.com/2018/04/09/puluhan-bangunan-dibantaran-kali-ditertibkan-warga-kampung-duri-protes/ .

Nasib apes menimpa Rosni dan para warga yang menjadi korban penertiban. Mereka seharusnya menagih janji kepada Anies yang sudah menggaransi tak ada penggusuran.

Pada akhirnya warga hanya pasrah melihat petugas tetap menertibkan bangunan yang bercokol di area terlarang itu. Petugas lainnya melakukan negoisasi dengan cara persuasif kepada sejumlah warga di lokasi penertiban itu.

O ya seharusnya warga menelepon Anies agar menggagalkan penertiban tersebut. Atau warga menghubungi Ratna Sarumpaet yang terkenal sakti itu agar bisa menganulir penertiban dan mengembalikan rumah warga yang menjadi target penertiban.

Lurah mengaku sudha melakukan sosialisasi. Berarti sudah ada rencana sejak lama dan mengapa Anies tak mau membatalkan rencana penertiban ini. Aneh tak ada protes ke Pak Anies juga. Beginilah pengakuan Lurah:

“Sebelum ditertibkan, kami sudah memberi sosialisasi kepada puluhan penghuni di bantaran kali supaya segera pindah dari aset pemda ini,” kata Lurah Semanan.

Apakah sudah ada tanda tangan Pak Anies dalam surat pemberitahuan sehingga warga ikhlas kendati tak semuanya? Ini yang jadi misteri. Dua Anies kok bisa memerintah Jakarta.

Jadi mana tanggung jawab Anies? Ternyata usaha menghentikan penggusuran itu hanya fiksi alias pengibulan belaka. Anies tak konsisten, seperti biasa. Beginilah warga jadi puyeng dan akhirnya harus menerima kenyataan pahit ini. Bahagia gubernurnya, pahit dan pedih warganya.
sumber: seword
fb: Bus Sinabung Jaya

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *