CERITA ‘ANAK BAWANG’ AJARI AHOK VIRTUAL OFFICE DAN CO WORKING SPACE

Merdeka.com – Minat anak-anak muda berkecimpung pada sektor pemerintahan masih sedikit, padahal ini jadi langkah awal maju memperbaiki birokrasi. Realita itu dirasakan sebagian sejumlah mantan staf magang di Balai Kota DKI Jakarta.

Fiona Handayani, konsultan industri dan bisnis mengaku pengalaman magang di Balai Kota seperti titik balik sebagai anak muda. Ikut berkecimpung sebagai staf magang pada Gubernur DKI era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyadarkannya bahwa perubahan tidak akan terjadi jika hanya diiringi keluhan tanpa ada pergerakan.

Bergerak, menurutnya, tidak sendiri melainkan saling bahu membahu memberi kontribusi sesuai dengan keahlian masing-masing. Sementara, pemimpin yang memberi peluang bagi anak muda ataupun warga yang mau bekerja demi perubahan adalah pintu masuk.

“Saya, sebelumnya muak sekali dengan birokrasi, apatis, tapi saya dan kami anak bawang (staf magang) juga punya pandangan yang sama, sampai kapan kami dihadapi keadaan yang memuakan kalau kita saja tidak bergerak, tidak mau terjun langsung,” papar Fiona di sela-sela peluncuran buku “Catatan Anak Bawang tentang Ahok dan Hal-Hal yang Belum Terungkap”, Jumat (6/4).

“Kami ingin berkontribusi, melayani publik dan ternyata setelah saya magang di Balai Kota, anak-anak muda masih kurang masuk ke pemerintahan,” imbuhnya.

Dia menambahkan selain bekerja sama, terbuka menerima pembelajaran hal-hal baru menjadi satu dari sekian faktor kesuksesan dalam perubahan. Seperti pengalaman Ayu Kartika Dewi, konsultan, yang menuturkan pernah ‘mendikte’ Ahok tentang virtual office, dan co working space.

Bukan bermaksud menjunjung personal, namun Ayu menyadari senioritas dalam bebenah tidak cukup baik. Motto hidupnya “yang pintar ajari, yang bodoh nurut” diakuinya dirasakan secara nyata saat itu.

“Saya pernah ajarin bapak (Ahok) pak bagaimana kita buat aturan tentang izin virtual office, bapak waktu itu bilang, coba jelasin. Panjang lebar saya jelasin rencana aturan izin vo sama co working space, saya tanya bapak ngerti enggak ini? Dengan polosnya, sambil benerin kacamatanya dijawab, saya enggak paham itu tapi kamu ajari saya, kalau itu baik saya nurut,” cerita Ayu.

“Saya kasih gambaran beberapa negara yang berhasil menerapkan virtual account dan co working space penerapannya bagaimana, kendala dan solusinya seperti apa akhirnya bapak bilang oh bagus yah ternyata, yaudah kita bikin itu,” imbuhnya.

Hasil positif pun diraih. Menurut Ayu sejak ada aturan tentang izin virtual account atau co working space banyak beberapa perizinan mudah terselesaikan dengan tepat waktu.

Contoh tersebut, ujar Ayu, menjadi satu motivasinya dan para anak bawang, optimis semesta akan bekerja jika tekad, optimis, selalu menyertai setiap usaha.

Bergantinya pemimpin di Balai Kota menurut Fiona dan Ayu menjadi pacuan tersendiri untuk para anak muda agar tidak terkungkum sistem birokrasi sempit nan kaku. [dan]
sumber: merdeka
fb: Bus Sinabung Jaya

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *