BANYAK KEMATIAN MISTERIUS, WARGA SEKITAR TOL NGALIYAN GELAR DOA TOLAK BALA

Merdeka.com – Sejak pembangunan ruas tol Batang-Semarang seksi IV di wilayah Ngaliyan Kabupaten Semarang, sudah ada beberapa orang yang meninggal dunia. Namun, warga yang menilai kematian tersebut tidak wajar dan disebabkan pembangunan tol melanggar norma di daerah tersebut.

Salah satunya, Suratinah. Ditemui saat akan melintas Jalan Raya Tambakaji, Kampung Bringin, Kecamatan Ngaliyan Semarang, dia bercerita telah kehilangan anaknya, Nafi Yahya Nursati, yang meninggal dunia pada 7 Maret 2018.

“Anak saya merupakan orang keempat yang meninggal akibat pembangunan jalan tol ini. Tiga orang Februari kemarin, terakhir ya 7 Maret anak saya itu,” ungkapnya, Rabu (28/3).

Suratinah menjelaskan putranya meninggal akibat menghindari gundukan tanah proyek tol saat naik sepeda motor dekat rumahnya. Jarak antara kampungnya Bringin Kulon, RT 03/RW IV, dengan proyek tol tak jauh, anaknya meninggal di ujung tol yang sedang dibangun.

Ada pak Jupri, yang meninggal usai azan di Masjid Baitul Mustagfirin. “Ada juga yang meninggal usai kerokan. Padahal bilangnya cuma masuk angin biasa,” kata Suratinah. Warga pun mengadakan doa tolak balak agar tak lagi korban karena pembangunan tol.

Takmir Masjid Baitul Mustagfirin, Nur Kosim mengungkapkan doa tolak bala diselenggarakan di masjid yang saat ini lokasinya berada di tengah jalan tol. “Masjid lama akan tetap ada di jalan itu, sampai masjid baru selesai pembangunannya. Mungkin empat bulan lagi,” ujarnya.

Kosim menyebut, ada sembilan orang yang meninggal akibat sebab misterius.

“Kemungkinan ada kawasan mistis yang dilewati tol. Dan memang nyatanya kena proyek tol juga. Daerah mistisnya berupa hutan di muara Kali Sepepe. Sungainya bentuknya kecil tapi dikenal angker sekali. Setiap Selasa kliwon, ada ular besar lewat di situ atau penampakan sekumpulan bebek beberapa kali sempat dilihat warga,” ungkapnya.

Saking angkernya, ia mengungkapkan tak ada satupun warga yang berani menjamah kawasan Kali Sepepe. “Sejak dulu menurut kepercayaan kami, tidak boleh dirusak. Karena keramat sekali,” katanya.

Selain korban jiwa, ada beberapa kejadian lain yang tak masuk di akal. Seperti mobil yang tiba-tiba meluncur hingga bawah tol saat terparkir. Di dekat terowongan jalan tol, kecelakaan kerap dialami pengguna jalan. “Banyak yang luka-luka akibat menabrak pembatas jalan di dalam terowongan,” kata Kosim.

“Selama ini tidak ada ritual selametan dari pihak tol. Ya akhirnya warga yang berinisiatif mengadakan doa tolak bala dengan sesaji nasi gudangan dan bubur abang putih. Semoga warga dijauhkan dari marabahaya,” tuturnya. [rhm]
sumber: merdeka
fb: Bus Sinabung Jaya

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *