APAKAH ANDA CUMA DIAM SAAT MELIHAT PELECEHAN SEKSUAL DI ANGKUTAN UMUM?

Banyak perempuan membagikan kisah pelecehan yang mereka derita di angkutan umum, ada pula yang merekam pelecehan-pelecehan itu sebagai saksi, dan membagikannya dan kemudian menjadi perbincangan di media sosial.

Salah satunya, pada 9 Desember lalu. Melalui Instagram Story, seorang pengguna, @virginiaraap membagikan kisahnya, yang kemudian dibagikan lagi di Twitter oleh pengguna @krupukbasah.

Cuitan yang diunggah oleh @krupukbasah tersebut kemudian dibagikan sekitar 2.500 kali.
Lompati Twitter pesan oleh @krupukbasah

Pengguna @virginiaraap mengisahkan bahwa dalam perjalanan menggunakan KRL Jakarta Kota-Cikarang, dia memergoki seorang pria yang sedang menggesek-gesekkan alat kelaminnya kepada seorang penumpang perempuan.

Meski si pelaku mengetahui bahwa aksinya itu diketahui oleh orang lain, namun dia tetap saja tidak berhenti, menurut @virginiaraap.

Si pelaku kemudian “memegang tangan dan mencakar” @virginiaraap setelah mengetahui bahwa aksinya itu tengah dilaporkan melalui siaran media sosial.

Di Stasiun Bekasi, @virginiaraap kemudian berlari ke arah petugas keamanan untuk melaporkan apa yang dia alami, sementara si pelaku tetap membuntuti, namun kemudian menghilang.

Ini bukan pertama kalinya orang membagikan kisah pelecehan seksual di angkutan umum yang disaksikannya.

Sebelumnya, pada September 2017 lalu, seorang pengguna Facebook, Novira Andraena, membagikan foto seorang pria yang mencolek-colek seorang perempuan paruh baya mengenakan jilbab yang duduk di sebelahnya.

Menurut keterangan fotonya, insiden itu terjadi di sebuah kendaraan angkutan umum menuju Stasiun Sudimara, Tangerang. Di dalam kendaraan itu, ada Novira, korban, pelaku, dan seorang pria lain.

Pelaku duduk dekat dengan korban dan menyentuh dada korban beberapa kali. Novira pun melihat dan mengambil foto itu.

Dia tetap mengawasi kejadian itu sampai si pelaku berhenti melakukannya. Perempuan yang jadi korban kemudian bangun dan angkot mencapai tujuannya. Sesudah pelaku pergi, dia pun menunjukkannya ke korban.

Dia rupanya tidak sadar telah menjadi korban. “Saya kan sudah nenek-nenek,” kata si korban yang terkejut saat diperlihatkan fotonya.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa ketika pelecehan di angkutan umum diketahui oleh orang lain, tetap saja sulit untuk menghentikan kejadian itu.

Menurut komisioner Komnas Perempuan Indriyati Suparno, upaya mendokumentasikan, merekam dan melaporkan kasus pelecehan yang dilihat di angkutan umum memiliki sisi positif.

“Ini adalah indikator adanya kepedulian dari masyarakat terhadap kekerasan yang terjadi di perempuan dan anak, ini artinya ada proses penguatan kepedulian,” kata Indriyati.

“Kedua, ada keinginan dan kebutuhan serta keinginan untuk membantu. Ini kan, proses solidaritas masyarakat terhadap korban muncul kan,” lanjutnya.

Tetapi kemudian butuh perlindungan terhadap kerahasiaan identitas korban demi keselamatannya.

“Bagi masyarakat yang peduli, itu baik merekam kemudian melapor, tapi perlu mempertimbangkan kerahasiaan dan martabat korban sehingga tidak dipermalukan,” ujar Indriyati.

Indriyati mengakui bahwa dalam kasus pelecehan seksual yang terjadi di angkutan umum, risiko keamanan para saksi juga sering jadi prtimbangan.

“Kalau kasus itu bisa direkam dengan utuh, bisa mudah diungkap: TKP jelas, korbannya jelas, pelakunya jelas. Sangat mungkin polisi bisa bertindak. Yang kemudian harus dipertimbangkan adalah rasa aman dari pelapor, saksi. Dan tidak semua orang yang peduli dengan kasus kekerasan seksual punya pengalaman cukup untuk mendampingi korban, atau ketika korban trauma Itu yang membuat orang pikir-pikir untuk melaporkan,” kata Indriyati.

Namun, berdasarkan pengalaman Komnas Perempuan bekerja dengan korban, menurut Indriyati, tindakan saksi untuk melaporkan apa yang dilihatnya akan jauh lebih baik daripada hanya mendokumentasikan dan menyebarkan di media sosial.

Pasalnya, jika dilaporkan ke polisi, maka akan ada temuan kasus yang masuk dalam catatan dokumentasi.

“Kalau orang tidak melapor, temuan kasusnya kan tidak ada. Dengan semakin banyak orang yang melapor, maka temuan kasus yang signifikan itu akan menjadikan alarm bagi pengambil kebijakan untuk bersikap terkait aksi kekerasan yang terjadi di angkutan umum,” tambahnya.

Lalu, jika saksi atau korban tak merasa percaya diri untuk melaporkan langsung ke pihak yang berwenang, maka menurut Indriyati, mereka bisa melaporkannya ke organisasi atau institusi yang berhubungan dengan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Nah sekarang pertanyaannya, jika di dalam angkutan umum Anda menyaksikan terjadinya suatu pelecehan seksual -baik korbannya tidak tahu maupun mengalami ketakutan, apakah Anda akan:

Merekamnya (untuk laporan langsung medsos maupun laporan kemudian)

1. Menegur pelaku
2. Memberi tahu korban
3. Memanggil/melapor polisi
4. Pura-pura tak melihat
5. Pilihan lain: ____________
sumber: bbc

This entry was posted in Berita, Informasi Penting. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *