‘ROHINGYA ADALAH KITA’: SOLIDARITAS AGAMA ATAU KEMANUSIAAN?

Berbagai aksi menuntut diakhirinya kekerasan terhadap Muslim Rohingnya dilakukan di Jakarta namun sejumlah pihak menuntut masalah ini tak dikaitkan dengan agama agar tak menjadi konflik sektarian di Indonesia.

Selain aksi di jalan-jalan, kedutaan besar Myanmar di Jakarta juga menjadi sasaran kemarahan dengan dilemparnya bom molotov Minggu (03/09) dan sempat menimbulkan kebakaran kecil di gedung kedutaan itu.

Sekitar 58.000 orang – sebagian besar pengungsi Rohingya- mengungsi ke Bangladesh sejak kekerasan pecah akhir Agustus lalu, setelah kelompok yang menyebut diri Tentara Pembebasan Rohingya Arakan mengklaim bertangggung jawab menyerang kantor-kantor polisi.

Tentara Myanmar menyatakan hampir 400 orang tewas, sebagian besar kelompok militan Rohingya.

Andar Nubowo, presiden direktur Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah, Laziz, Muhammadiyah mengkhawatirkan isue Rohingya ini bisa menjadi konflik sektarian di Indonesia.

“Ketika pendekatan keagamaan yang ditonjolkan kita khawatirkan akan terjadi polarisasi isu, yang menjurus ke isue SARA. Yang kita khawatirkan adalah kekerasan di Indonesia, jangan sampai,” kata Andar kepada BBC Indonesia.

Anggota DPR Abdul Kadir Karding juga menyatakan kekhawatirannya isu Rohingya dikaitkan dengan agama.

“Bahaya dikaitkan dengan agama, karena agama sensitif, semua yang merasa Islam nanti akan tersinggung, dan siapa tahu mereka melakukan gerakan di daerahnya, Bangladesh, Malaysia, Indonesia, itu akan bikin dunia guncang,” kata Kadir, yang juga sekretaris jendral Partai Kebangkitan Bangsa.

Kekhawatiran ini beralasan karena seorang pemeluk Buddha di Jakarta, Yogiawati Wandani, menyatakan telah merasakan “suasana tegang”.
Image caption Biksu Dutawira Mahastavira, pemimin Vihara Petak Sembilan, menekankan bahwa yang terjadi adalah krisis kemanusiaan.

“Saya antusias dengan dialog ini, bisa mencairkan suasana tegang yang terjadi. Ini bukan masalah keagamanan, tapi kemanusian, tapi karena isu ini diangkat kita sebagai umat Buddha merasa kurang nyaman, jangan sampai terjadi pergolakan di dalam masyarakat,” kata Yogiawati yang mengikuti dialog Rohingya adalah Kita bersama Partai Kebangkitan Bangsa di vihara Petak Sembilan.

Biksu Dutawira Mahastavira, pemimin Vihara Petak Sembilan, juga menekankan bahwa yang terjadi terhadap warga Rohingya adalah “masalah kemanusiaan.”

‘Kental dengan kasus agama’

Namun Habib Novel dari Front Pembela Islam, FPI, menyebut apa yang terjadi pada Rohingya terkait dengan agama dan etnis.

“Ini kental dengan kasus agama…Pemusnahan etnis dan agama, ini tak bisa dipungkiri,” kata Habib Novel.

Ia mengklaim FPI telah “turun intensif” membantu Muslim Rohingya” sejak 2010 dan terus membantu dengan “harta dan jiwa.”

“FPI adalah pelayan umat, semua umat Islam di Indonesia dan di luar negeri kita akan bentu. Kalau saudara kita tertingas, wajib untuk kita bantu dengan harta dan jiwa. Membantu Muslim di manapun adalah kewajiban umat Islam,” kata Novel.

Kekerasan yang terjadi di Rakhine ini juga dipicu dengan berbagai foto-foto yang tak jelas keasliannya namun beredar luas di media sosial.

Sebagian besar menunjukkan kekerasan berdarah namun banyak yang palsu.

Foto-foto hoax memperkeruh

Andar Nubowo, presiden direktur Laziz, Muhammadiyah – badan yang ikut mengirimkan bantuan untuk Rohingya – mengharapkan para tokoh agama ikut mengerem apa yang ia sebut “bola liar” konflik Rohingya.

“Kita harapkan masyarakat memilah mana yang benar dan salah, mana yang hoax dan betul, valid dan faktual. Kita minta tokoh agama dan pejabat publik untuk mengerem bola liar dari konflik yang terjadi di Rohingya menjadi konflik sektarian di Indonesia.

Melalui media sosial dengan tagar #RohingyaAdalahKita, sejumlah pengguna juga menyatakan harapannya konflik ini tak menjadi konflik agama.

“Tragedi kemanusiaan Rohingya bukan perang agama, melainkan soal ekonomi-politik,” tulis Caswiyono Rusydie melalui akun Twiternya sementara RTriwibowoā€¸ menulis, “Jangan melawan dengan api, tapi diplomasi dan donasi.”

Persaingan dan bentrokan antara Muslim Rohingya dan penduduk mayoritas Buddha di Rakhine sebelumnya juga telah menimbulkan kekerasan.

Rohingya – yang tak diakui kewarganegaraannya- mengalami persekusi selama puluhan tahun di Myanmar.

Para pengungsi menuduh pihak keamanan Myanmar dan massa Buddha membakar desa-desa mereka.

Sementara pemerintah Myanmar mengatakan pasukan keamanan membalas serangan bulan lalu terhadap lebih dari 20 kantor polisi yang dilakukan oleh militan Rohingya.
sumber: bbc

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *