TERNYATA, USTAD AL-HABSYI POLIGAMI BERTAHUN-TAHUN TANPA SEPENGETAHUAN ISTRI

Dalam tulisan yang lalu saya telah membahas tentang masa lalu Ustad Al-Habsyi sebagai salah seorang yang menolak pengangkatan Ahok sebagai gubernur DKI menggantikan Jokowi. Dalam demo bersama FPI, Al-Habsyi mengatakan Ahok itu keturunan iblis karena dianggap sombong oleh FPI dan Al-Habsyi.

Sebenarnya, tak hanya pada tahun 2014 saja Al-Habsyi bersuara menentang Ahok. Dalam kesempatan “aksi bela islam” pun Al-Habsyi tidak absen untuk menyuarakan penentangannya kepada Ahok. Dengan ujaran-ujaran provokatif, atas nama bela islam, bela al-Quran, Al-Habsyi menyeru agar Ahok segera diadili.

Saya melihat, mengapa aksi-aksi penentangan terhadap Ahok, terutama aksi bela islam, lebih banyak diisi oleh “ustad-ustad seleb” yang biasa tampil di televisi? Kiai-kiai dan ulama-ulama sekaliber Quraish Shihab, Gus Mus, Kiai Said, Gus Sholah, apalagi Gus Nuril, mengapa mereka tidak ikut aksi serupa jika Ahok benar-benar menista?

Tapi saya tidak mau berbicara masalah itu. Saya ingin lebih fokus kepada Ustad Al-Habsyi. Biarlah masa lalunya yang “getol” menentang Ahok, kita maklumi saja. Mungkin sama dengan Aa Gym yang hendak mencari popularitas. Apalagi memang yang dicari dari sosok Ahok selain itu?

Pada tulisan yang lalu, saya sempat menceritakan tentang gugatan cerai dari istrinya Al-Habsyi, yakni Putri Aisyah. Putri menggugat cerai Al-Habsyi karena ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka. Dalam tulisan tersebut tidak secara detail siapa orang ketiganya? Sejak kapan orang ketiga tersebut masuk ke dalam rumah tangganya? Dan, apa status si orang ketiga ini?

Dalam tulisan kali, saya akan memberikan sedikit kejelasan tentang kasus yang terjadi dalam rumah tangga Al-Habsyi. Saya membahas ini bukan untuk bergosip. Tapi mengambil sebuah hikmah dari “musibah” yang dialami oleh seorang ustad kenamaan.

Fakta yang ditemukan, ternyata, si orang ketiga ini sudah masuk ke dalam rumah tangga mereka sejak 7 tahun yang lalu. Akan tetapi, masalah ini terbongkar baru satu tahun yang lalu. Selama 6 tahun tersebut, Putri tidak tahu bahwa Al-Habsyi telah menjalin hubungan dengan wanita lain.

Lalu apa status si orang ketiga tersebut?

Dari fakta yang ada, si orang ketiga ini merupakan “istri sah” dari Al-Habsyi. Saya katakan “istri sah” dengan tanda petik karena Al-Habsyi menikahi si orang ketiga ini tanpa sepengetahuan Putri. Jadi, “poligami” tanpa istri pertama tahu.

Setelah 6 tahun berhubungan dengan wanita lain, akhirnya Putri mengetahui hal tersebut. Sebagai perempuan Putri sangat syok dan tidak percaya, suaminya telah berpoligami tanpa sepengetahuan dia.

Putri pun meminta agar Al-Habsyi menceraikan wanita tadi. Al-Habsyi menurutinya dengan terpaksa. Tapi, tak lama kemudian, hubungan tersebut terjalin lagi. Putri sudah malas untuk meneruskan rumah tangganya dalam keadaan seperti ini. Diajukanlah gugatan cerai.

Yang menggelitik adalah apakah berpoligami harus sepengetahuan istri? Atau yang lebih adil lagi, apakah berpoligami harus seizin istri?

Ini harus kita kembalikan kepada syari’at. Itu artinya berhukum ke al-Quran adalah solusi yang tepat untuk masalah ini.

Poligami itu berdiri di atas pondasi keadilan. Jadi salah satu syarat dalam berpoligami, sang suami harus bersikap adil di antara istri-istrinya.

Saat titik tolaknya adalah “adil”, pertanyaannya adalah, apakah saat si suami tak memberi tahu istrinya untuk berpoligami, apakah ada hakikat keadilan disana? Tidak ada. Justru dengan tidak memberitahu istri (pertamanya), si suami jelas-jelas sudah bersikap tidak adil. Ia tidak mau hubungannya diketahui, jelas ia lebih berat kepada istrinya yang baru.

Itulah mengapa, para ulama mengharuskan agar seorang laki-laki yang ingin berpoligami memberi tahu istrinya terlebih dahulu. Tentu mana ada istri yang senang mendapat kabar suaminya ingin menduakannya. Tapi, disitulah prinsip keadilan berada. Disitulah asas paling fundamental dari poligami berdiri.

Lalu bagaimana dengan izin? Apakah harus mendapatkan izin terlebih dahulu dengan istri? Ini yang menjadi perdebatan panjang. Sebagian ulama mengatakan tidak harus, sebagian lain mengatakan sebaiknya izin itu didapat.

Untuk itulah, setiap laki-laki yang hendak berpoligami seyogianya berunding, menjelaskan dan berdiskusi tentang mengapa ia harus menempuh jalur poligami. Prinsip keadilan dimulai dari kata sepakat. Kalau alasannya jelas, masuk akal, dan urgen, tiap perempuan punya nurani yang akan mengizinkannya.

Melihat kasus ustad Al-Habsyi ini. Saya sungguh terguncang. Bagaimana ia yang dianggap tahu banyak tentang agama, tapi memperlakukan istrinya seperti itu. Perempuan mana yang bisa tahan saat suami yang ia cintai, ternyata lebih mencintai perempuan lain. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ia tidak tahu bahwa suaminya tela menduakannya.

Sungguh ia sangat jauh dari prinsip keadilan yang telah al-Quran jelaskan seputar masalah poligami.

– sumber:https://hot.detik.com/celeb/d-3446672/ustad-al-habsyi-poligami-bertahun-tahun-tanpa-sepengetahuan-putri-aisyahsumber/
– seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *